Pendidikan & Kesehatan

8 Mahasiswa IKHAC Pacet Mojokerto Jadi Korban Ombak Pantai Bengkung

1 Meninggal, 2 Belum Ditemukan, KH Asep Asep Saifuddin Chalim Berduka

Mojokerto (Beritajatim.com) – Delapan orang mahasiswa Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC), Desa Bendunganjati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto menjadi korban dalam kecelakaan laut yang terjadi di Pantai Batu Bengkung, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) kemarin.

Delapan orang rombongan dari Mojokerto ini atas nama Irfan Ramadhani, Firdana Safitri, Ira Aprilia Kartini, M Ridho Al Hafiz, Neneng, Maulana, Fikri dan Azizah. Azizah ditemukan dalam kondisi meninggal, Maulana dan Fikri belum ditemukan dan lima orang mahasiswa lainnya selamat.

Rektor IKHAC, Mauhibur Rokhman mengucapkan terima kasih karena bantuan rekan-rekan di lokasi. “Polair, tim SAR, kepolisian, tagana dan semuanya, terima kasih sampai saat ini masih terus berkoordinasi terkiat pencarian mahasiswa kita yang belum ditemukan,” ungkapnya, Kamis (27/5/2021).

Mewakili segenap keluarga besar IKHAC, ia menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas musibah tersebut. Pihak kampus hingga saat ini masih berkoordinasi dengan tim di lapangan terkait dua orang mahasiswa yang belum ditemukan. Yakni Maulana dan FikriFikri.

“Musibah ini membuat kita betul-betul terpukul. Ada 8 orang mahasiswa naik motor, ada dari Nusa Tenggara, Riau, Padang, rata-rata luar Jawa karena yang tidak bisa pulang kan luar Jawa. Kita ada asrama, mereka selama ini tinggal di asrama dan kalau pergi ke luar asrama sesuai aturan memang harus izin,” katanya.

Menurutnya, saat para mahasiswa izin untuk keluar asmara selain seizin pihak kampus juga keluar untuk silaturahmi dengan keluarga. Pihaknya menambahkan, dari delapan orang mahasiswa tersebut juga memiliki keluarga di Jawa sehingga dimungkinkan mereka untuk bersilaturahmi dengan keluarga.

“Saya belum cek apa ada konfirmasi. Rata-rata mereka keluar izin selalu ke keluarga apalagi beberapa yang berangkat ini ada saudara di Jatim sehingga saya kira mereka silaturahmi ke keluarga kemudian ke tempat yang lain. Kita sebetulnya punya mekanisme yang secara khusus diterapkan bagi mahasiswa, sekali lagi ini musibah, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa,” ujarnya.

Di IKHAC, pasca kejadian doa bersama setiap malam maupun usai pengajian digelar. Selain doa bersama digelar, pihak IKHAC juga memberikan santunan kepada keluarga korban. Menurutnya, jenazah Azizah sudah berada di rumah duka sekira pukul 09.00 WIB setelah diberangkatkan dari Bandara Juanda sekira pukul 05.00 WIB.

“Yang lain (lima korban selamat, red) masih ada di tempat untuk pemulihan secara fikis dan juga sangat terpukul sehingga kita tidak menekan berbicara untuk kembali ke asrama. Delapan orang mahasiswa itu tidak semuanya tinggal di asrama tapi keburukan ketiga korban itu tinggal di asrama, Aktif lagi secara tentatif Rabu kemarin, diisi silaturahim antara teman-teman di asrama dan hari ini mulai perkuliahan,” ujarnya.

Perkuliahan di IKHAC selama masa pandemi Covid-19 dilakukan tiap setiap hari namun selang-seling. Pihak kampus pun sudah memberikan himbauan di grup Whatsapp (WA) ataupun forum pengajian. Para korban dinilai secara kepribadian baik karena ukuran baik dimulai dari aktif mengikuti pengajian dan sholat malam.

“Saya kira itu baik. Seperti pengasuh pondok pesantren tempat lain, kyai dimanapun murid adalah anak. Beliau (KH Asep Saifuddin Chalim, red), sangat terpukul sekali, merasa kehilangan, merasa duka yang mendalam sehingga hal-hal yang berkaitan dengan teknis di lapangan, kita yang komunikasi semuanya,” tegasnya.

KH Asep Saifuddin Chalim MA selaku pendiri dan pengasuh Pesantren Amanatul Ummah mendirikan Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) di Desa Bendunganjati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto pada tahun 2015 lalu. Kampus di kawasan wisata Pacet dengan lingkungan hijau, sejuk, air melimpah ini mempunyai fasilitas yang lengkap. [tin/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar