Mojokerto (beritajatim.com) – Pedagang janur musiman di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto mengeluhkan sepinya pembeli pada Lebaran Ketupat tahun ini. Hal ini diakui karena banyaknya penjual janur yang memanfaatkan moment lebaran ketupat untuk berjualan janur di pasar terbesar di Kota Mojokerto tersebut.
Salah satu penjual janur, Listiana mengaku, tahun sepi dibanding dengan Lebaran Ketupat tahun lalu. “Penjualan tahun ini agak sepi dibanding tahun sebelumnya. Banyak yang jualan dari orang luar Mojokerto. Tahun kemarin sedikit yang jual, sekarang banyak yang jual. Banyak yang jualan di sini,” ungkapnya, Rabu (19/5/2021).
Masih kata warga Dusun Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini, ia sudah berjualan janur memanfaatkan moment Lebaran Ketupat dua tahun. Namun sebelum berjualan janur di Pasar Tanjung anyar, Listiani berjualan janur di rumah. Saat hari biasa, ia merupakan pedagang buah di Pasar Tanjung Anyar.
“Sudah dua tahun, sebelumnya jualan di rumah. Di sini baru dua tahun. Di rumah sudah lama. Biasanya, kalau hari biasa saya jualan buah. Saya jualan janur ini, sejak hari Sabtu kemarin bisanya hanya lima hari jualan janur sebelum Lebaran Ketupat. Hari ini, terakhir karena puncak Lebaran Ketupat hari ini,” katanya.
Janur atau daun kepala yang masih muda dengan warna kuning ini diambil dari Lumajang. Ini lantaran daerah Lumajang merupakan salah satu daerah penghasil janur di Jawa Timur. Untuk satu ikat ukuran besar janur ia jual dengan harga Rp400 ribu, ia mengaku hanya untung Rp50 ribu. Ini lantaran ia mengambil dengan harga Rp350 ribu
“Satu gebok besar ini, dijual Rp400 ribu. Saya ambil Rp350 ribu. Kalau yang sudah jadi bentuk ketupat, isi 10 biji per ikatnya harganya Rp10 ribu tapi kadang ditawar bisa 2 ikat harganya Rp15 ribu. Dibanding tahun kemarin, ramai tahun kemarin. Lima hari, saya dapat keuntungan bersih Rp2 juta lebih. Sudah dipotong ongkos, makan dan lain-lain,” ujarnya.
Meski tahun ini sepi lantaran banyak penjual ketupat masuk ke Kota Mojokerto dan berjualan di Pasar Tanjung Anyar, ia mengaku bersyukur. Dengan keuntungan yang cenderung menurun dibanding tahun lalu, Listiana mengaku lumayan pendapatannya. Ini karena banyaknya penjual janur yang berjualan di Pasar Tanjung Anyar.
“Keuntungan Rp2 juta lebih tahun kemarin, bersih. Sekarang ya lumayan. Yang jual banyak yang baru, moment setahun sekali jadi banyak yang manfaatkan. Hari pertama lebaran janur sudah pada datang tapi saya baru jual di hari ketiga, Sabtu kemarin. Bukan dampak dilarang mudik tapi banyak yang jualan, jadi sepi,” jelasnya. [tin/but]







