Olahraga

Wakil Ketua DPRD Jember: Benahi Keterwakilan di Yayasan Persid Jember dan Kembalikan ke Bupati

Ahmad Halim, Wakil Ketua DPRD Jember,

Jember (beritajatim.com) – Ahmad Halim, Wakil Ketua DPRD Jember, Jawa Timur, punya solusi untuk merevitalisasi Yayasan Persid Jember yang menaungi klub sepak bola Liga 3 Persid.

Revitalisasi ini merupakan bagian dari solusi dualisme kepengurusan yang melanda Persid Jember, antara kepengurusan yayasan yang diketuai Sholahuddin Amulloh alias Jo dengan Sunardi, seorang anggota DPRD Jember.

“Kalau dilihat dari sejarah terbentuknya, Yayasan Persid Jember dibentuk (pada 2011) karena ada aturan dari PSSI bahwa di liga profesional tidak boleh mendapatkan dana hibah APBD,” kata Halim, Minggu (6/6/2021).

Saat itu, PSSI mengharuskan klub yang berada di kasta profesional untuk memiliki badan hukum, perseroan terbatas atau yayasan. Persid saat itu berada di Divisi Utama. Pengurus Persid pun bersepakat membentuk yayasan.

“Keanggotaan yayasan waktu itu berdasarkan representasi lembaga. Yang diundang (dalam pembentukannya) adalah DPRD Jember, Dinas Pemuda dan Olahraga, PSSI, KONI, dan Persid,” kata Halim.

Masing-masing lembaga itu kemudian mengirimkan nama-nama perwakilan yang akan dimasukkan struktur yayasan. DPRD Jember diwakili Wakil Ketua Miftahul Ulum, Pemerintah Kabupaten Jember diwakili Kepala Dispora Suparno, KONI diwakili Wagino, PSSI diwakili Sirajuddin, dan Persid diwakili Sunardi yang saat itu menjabat ketua. “Mereka jadi pengurus dan pembina yayasan semua. Itu keterwakilan lembaga. Karena itu keterwakilan lembaga, pasti ada masanya,” kata Halim.

Menurut Halim, lumrahnya personal anggota Yayasan Persid Jember akan berubah berdasarkan masa jabatan orang-orang yang mewakilinya. Saat ini, Ulum sudah meninggal dunia. Suparno bukan lagi Kepala Dispora Jember. Sirajuddin bukan Wakil Ketua PSSI Jember, dan Wagino bukan pengurus KONI Jember lagi.

Begitu juga Sunardi yang sebelum yayasan berdiri adalah ketua Persid Jember. “Saya dengar yayasan versi Pak Sunardi ini sudah diserahkan ke bupati. Menurut informasi, saya masuk di dua yayasan ini sebagai pembina. Ini kan membuat saya pribadi jadi tidak enak, karena saya izin untuk sementara lebih terfokus pada tugas saya sebagai wakil ketua DPRD dan mengawali program-program pemerintah daerah yang selama empat tahun tertinggal,” kata Hali,.

“Saya tidak menutup mata bahwa banyak suara di arus bawah, terutama kalangan suporter pegiat olahraga, agar bupati mengambil langkah agar diserahkan ke bupati untuk membentuk apakah yayasan atau PT atau apalah, sehingga konflik dualisme Yayasan Persid Jember bisa teratasi,” kata Halim.

Halim mengaku sering berkomunikasi informal dengan orang-orang pengelola dua versi yayasan itu. Apalagi Sunardi adalah kawan satu fraksinya di DPRD Jember. Ia menyarankan kepada Sunardi agar menyerahkan urusan sepak bola kepada bupati. “Biar nanti bupati menunjuk siapa yang layak. Artinya dibentuk kepengurusan baru,” katanya.

“Sama juga di kubu sebelah, saya memberikan saran pendapat, ayolah kita menyamakan pandangan tentang bagaimana sepak bola Jember, terutama Persid, diutamakan kepentingannya. Dalam artian nanti bupati memutuskan dua-duanya dilebur atau membentuk baru, ya harus kita terima. Karena tidak mungkin kita akan meninggalkan kepala daerah dalam hal urusan semuanya,” kata Halim.

“Satu sisi bupati adalah pembina olahraga di Jember. Punya otoritas terhadap anggaran. Konkret: ayo dua yayasan ini sama-sama diserahkan ke bupati. Nanti kita terima keputusan bupati bagaimana enaknya. Apakah akan dibentuk PT baru, dibentuk yayasan baru, atau dibentuk kepengurusan langsung di bawah pemkab yang tidak bertentangan dengan peraturan-perundang-undangan,” kata Halim. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar