Olahraga

Stadion Olimpiade Roma : Saksi Bisu Italia Angkat Trophy Euro 1968

Malang (beritajatim.com) – Separuh abad lebih (53 tahun-red), Tim Nasional Italia gagal jadi kampiun juara Piala Eropa. Sejak digulirkan pertama kali tahun 1960 lalu, tim Azzurri baru sekali mengangkat trophy Euro di tahun 1968.

Piala Eropa ketiga kalinya saat itu, di babak semifinal, Italia dan Uni Soviet tak mampu mencetak gol meski pertandingan sudah memasuki 120 menit. Panitia turnamen pun terpaksa menggelar adu koin. Aksi lemparan koin ini digunakan untuk memutuskan tim mana yang berhak melaju ke final. Ini adalah pertama dan satu-satunya cara mencari tim yang lolos ke final dan digunakan dalam sejarah kejuaraan Piala Eropa di tahun 1968.

Nasib baik. Tos koin membawa Italia menang dan bertemu Yugoslavia di laga final. Setelah pertandingan lain melewati perpanjangan waktu tanpa pemenang dengan bermain imbang 1-1. Laga ulangan pun diadakan dua hari kemudian untuk menentukan pemenang turnamen. Berkat gol Luigi Riva dan Petro Anastasi, Italia unggul 2-0 atas Yugoslavia.

Dua pertandingan ini, di samping pertandingan antara Israel dan Bulgaria pada kualifikasi Olimpiade akhir tahun itu, sebagai faktor penentu utama untuk memperkenalkan cara baru dalam aturan sepakbola apabila terjadi seri, yakni melalui tendangan adu penalti.

Piala Eropa 1968 menjadi milik Italia. Kala itu, skuat tim Azzuri di huni pemain seperti Sandro Mazzola (putra dari Valentino Mazzola-red), Luigi Riva dan Omar Sivori. Italia merebut gelar prestisius Piala Eropa setelah mengalahkan Yugoslavia dalam partai puncak. Keberuntungan menaungi Italia ketika di semifinal mereka menyisihkan tim kuat Uni Sovyet melalui undian koin.

Setelah kemenangan itu, punggawa Italia dipertahankan hingga Piala Dunia 1970 di Meksiko. Italia melaju ke final setelah melewati partai yang dikenang sebagai pertandingan terbaik sepanjang masa oleh World Soccer. Bertemu Jerman Barat, tim Panzer kala itu harus mengakui dominasi Italia.

Laga yang mengantarkan Italia ke final itu berakhir dengan skor 4-3 setelah melewati dua kali perpanjangan waktu. Hanya saja, kedigdayaan Italia di Piala Dunia 1970, harus terhenti di tangan tim Samba, Brasil yang diperkuat mega bintang dan legenda sepakbola dunia Pele dan Carlos Alberto.

Pasca kekalahan itu, sepanjang dekade 70-an, Italia nyaris zero gelar. Satu-satunya prestasi terbaik setelah 1970 adalah, tampilnya Italia di semifinal Piala Dunia 1978 di Argentina. Saat itu Italia dilatih oleh Enzo Bearzot dan masih menampilkan Dino Zoff, kiper yang merebut gelar Piala Eropa 1968 sebagai penjaga gawang utama. Praktis, selama 9 kali keikut sertaanya di Piala Eropa sejak 1960, hasil terbaik Timnas Italia menjadi Juara Piala Eropa di tahun 1968. Selebihnya, Italia terseok-seok.

Fase terburuk Italia di kancah Eropa saat tersingkir di babak grup pada Euro 1996 dan 2004. Sementara Euro 2016, Italia mampu finis di perempat final. Gelaran Euro 2000 juga menorehkan pedih bagi Italia. Saat itu, sistem gol sudden death menjadi petaka bagi Italia. Duel Italia dan Prancis di final Piala Eropa 2000 yang digelar di Belanda-Belgia begitu dramatis. Meski Italia unggul 1-0 sampai menit terakhir injury time, penyerang Prancis Sylvain Wiltord membawa malapetaka dengan membobol gawang kiper Italia Francesco Toldo untuk memaksakan perpanjangan waktu.

Asa Nerrazuri mengangkat piala Eropa pupus ketika babak perpanjangan waktu, David Trezeguet berhasil mencetak gol untuk Prancis. Sistem permainan Sudden Death yang dipakai, mengubur mimpi Italia meraih gelar juara. Empat tahun kemudian, mimpi buruk Italia terulang. Di Euro 2004 kala itu, pakem catenaccio (sepakbola bertahan-red,)
masih jadi tradisi Italia dalam permainan. Hasilnya, Italia harus tereleminasi di babak penyisihan grup. Pelipur duka Italia sedikit terobati. Karena pada pertandingan yang sama, sejumlah tim kelas berat Eropa seperti Spanyol dan Jerman, juga tersingkir di babak penyisihan grup. Sementara juara bertahan Prancis, tumbang di perempat final. Euro 2004 inilah yang menjadi kejutan sekaligus mengantarkan Yunani sebagai juara.

Drama Italia kembali tersaji di Piala Eropa 2008. Setelah kemenangan di Piala Dunia, Marcello Lippi justru mengumumkan pengunduran dirinya. Federasi Sepakbola Italia atau FIGC lalu menunjuk Roberto Donadoni, mantan pemain AC Milan dan pelatih klub Livorno sebagai pengganti Lippi.

Pengunduran Lippi ternyata berbuntut panjang. Dua pilar Azzurri pada masa Lippi, Francesco Totti dan Alessandro Nesta, ikut hengkang dari timnas Italia. Hal itu menambah berat beban Donadoni untuk meloloskan Italia ke putaran final Euro 2008 di Swiss-Austria. Bermain dengan awalan kurang sempurna, Italia akhirnya berhasil lolos ke putaran final Euro 2008 setelah memenangi laga melawan Skotlandia.

Kandidat juara sudah di depan mata. Italia tergabung di Grup C bersama dua kandidat juara lainnya, Belanda dan Prancis, plus kuda hitam Rumania. Pada pertandingan pertama, Italia takluk 0-3 dari Belanda. Selanjutnya Italia ditahan Rumania 1-1 dan mengalahkan Prancis 2-0 untuk melaju ke perempat final melawan juara Grup D, Spanyol. Italia akhirnya tersingkir lewat drama adu penalti, setelah skor 0-0 bertahan hingga dua kali perpanjangan waktu. Spanyol yang mengalahkan Italia, akhirnya menjadi juara Piala Eropa 2008.

Buntut dari kegagalan di Piala Eropa 2008 adalah dengan dipecatnya pelatih Roberto Donadoni oleh Federasi Sepak Bola Italia kala itu.

Golden Boy Sepakbola Italia, Gianni Rivera, mengatakan, dari Kejuaraan Eropa di Roma pada tahun 1968 hingga hari ini, bukan hanya sepak bola yang telah berubah, tetapi juga organisasi yang telah berubah secara mendalam.

“Sebuah kejuaraan yang dimainkan di 12 kota di Eropa dengan program acara yang intens dan diartikulasikan seperti itu tidak pernah terpikirkan. tahun yang lalu. Sungguh luar biasa untuk mengingat kesuksesan kami tahun 1968 itu,” tegas Rivera seperti dilansir situs resmi FIGC terbaru.

Rivera yang ikut mengantarkan Italia juara Piala Eropa 1968 itu mengaku, perjalanan menuju Euro 2020, sangat berarti. “Tahun-tahun berlalu dan para protagonis berubah, tetapi semangat untuk sepak bola tetap ada. Piazza del Campidoglio adalah latar untuk event yang merayakan hari ke-100, Roma akan kembali menjadi tuan rumah event besar dan saya yakin dukungannya untuk timnas kita tidak akan kurang,” ujarnya. (yog/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar