Olahraga

Solidaritas untuk Wartawan, Persebaya Boikot pada 1932

RN Bayu Aji bersama Misbakus Solikin (dok pribadi)

Surabaya (beritajatim.com) – Perjuangan melawan diskriminasi ras merupakan bagian integral dari Persebaya Surabaya sejak masih bernama SIVB.

Ini terlihat dari sikap Persebaya tempo doeloe yang dimotori Radjamin Nasution dan Liem Koen Hian yang menentang diskriminasi terhadap wartawan bumiputera dan peranakan Tionghoa yang dilakukan SVB. SVB adalah bond atau klub sepakbola Surabaya yang didirikan orang-orang Belanda.

“SIVB memboikot SVB pada 1932 karena SVB rasis tidak membolehkan wartawan bumiputera dan peranakan Tionghoa meliput, karena mereka sering megkritik dan menulis berita yang menurut SVB tidak bagus,” kata Rojil Nugroho Bayu Aji, sejarawan sepakbola Surabaya yang juga dosen pendidikan sejarah Universitas Negeri Surabaya.

Padahal dalam urusan sepakbola, Persebaya alias SIVB tidak merasa ada persoalan dengan SVB. “Malah mereka seringkali sparring dan SIVB memakai lapangan klub-klub anggota SVB untuk bertanding,” kata Rojil.

Jadi, menurut Rojil, Persebaya atau SIVB tidak kaku dalam menghadapi SVB dan NIVB (PSSI bentukan Belanda). “Bisa jalan bersama, namun apabila ada prinsip yang dilanggar dalam spirit sepak bola dan humanisme maka siap berhadapan langsung,” katanya.

Hal seperti ini yang membuat Persebaya selalu menjadi pembeda dan unik dalam sejarah sepak bola Indonesia. “Mereka bisa menempatkan diri kapan harus berhadapan, kapan bermitra untuk sparring. Begitu juga dengan era kekinian, Persebaya dan suporternya, Bonek, turut mewarnai perubahan sepak bola Indonesia,” kata Rojil.

Namun tantangan terbesar penulisan sejarah Persebaya adalah arsip maupun dokumen di awal pendirian sampai era kemerdekaan. “Kemudian tantangan selanjutnya ada tafsir dari masa lalu (sejarah), apakah penulis bisa menempatkan peristiwa sesuai semangat zaman saat itu atau ditafsiri dengan semangat zaman saat ini yabg dibawa masuk ke masa lalu. Hal itu umum dalam penulisan sejarah,” kata Rojil.

“Untuk mengatasinya ya harus terus berburu arsip dan dokumen lama dan kemudian berbagai macam tafsir didiskusikan bersama,” tambah pria berkacamata ini. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar