Olahraga

Soal SK Kepengurusan KONI Kabupaten Mojokerto, Suher Buka Suara

Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto saat silaturahmi ke Plt Bupati Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto, Suher Didiento menjelaskan terkait terbitnya Surat Keputusan (SK) Kepengurusan KONI Kabupaten Mojokerto periode 2020-2024. SK tersebut terbit tanggal 31 Desember 2019 setelah ia menyerahkan draf kepengurusan KONI Kabupaten Mojokerto periode 2020-2024 ke KONI Jatim.

“Setelah dah menjadi Ketua Umum KONI Sabtu. Saya berfikir, sebuah organisasi apalagi KONI tidak main-main karena dunia saya. Saya mantan atlet voli, saya berfikir sebelum dua minggu deadline penyusunan pengurus, saya harus mencari orang yang potensial yang bisa dipertanggungjawabkan ke depannya,” ungkapnya, Sabtu (4/1/2020).

Bos Bendo Sport ini menjelaskan, pasca pemilihan Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto, ia mengaku tidak berkomunikasi dengan formatur. Yakni yakni Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mojokerto, Ustadzi Rois dan Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto periode sebelumnya, Firman Efendi.

“Karena memang satu minggu itu, saya gunakan untuk mencari orang-orang yang potensial yang nanti bisa membantu di kabinet saya. Satu minggu berikutnya, hari Selasa saya menghubungi formatur namun di luar kota hingga akhirnya kita bertemu di hari Sabtu mendekati deadline,” katanya.

Dalam pertemuannya di rumah salah satu formatur pada, Sabtu (28/12/2019), Suher menyodorkan draf susunan pengurus yang sudah ia susunan sebelumnya. Namun ada sekitar enam hingga tujuh nama dalam kabinetnya dicoret oleh formatur tanpa alasan jelas. Padahal, nama-nama yang dicoret tersebut dianggap Suher bisa membantunya ke depan dalam kepengurusan KONI Kabupaten Mojokerto.

“Draf saya tunjukan banyak yang dicoret dengan alasan pribadi antara keduanya mencapai 6 sampai 7 nama. Katanya gini, ‘Saya mau tanda tangan tapi saya tidak mau ada nama ini, nama ini’. Padahal, saya ingin di kabinet saya bukan yang bermain-main. Kalau tetap orang lama, namanya kan kabinet copy paste. Saya tidak mau,” ujarnya.

Suher menjelaskan, di dalam kabinetnya masih ada beberapa orang-orang lama. Menurutnya, semua yang diajukan bukan orang-orang baru, namun masih ada orang-orang lama yang dinilai potensial untuk mengembangkan KONI Kabupaten Mojokerto lebih baik. Hal tersebut menurutnya didengar oleh KONI Jatim.

“Saya minta mereka mengajukan nama, kalau memang tidak sama dengan yang saya ajukan seharusnya ada solusi siapa penggantinya. Sampai malam itu saya minta pertolongan Yang di Atas dan saya komunikasi dengan Plt Bupati. Suher tidak begitu gila dengan Ketua KONI, jika draf susunan pengurus banyak yang tidak setujui dan dimasukan orang kurang maksimal mending saya serahkan jabatan saya,” tegasnya.

Menurutnya, jabatan tersebut nantinya akan dipertanggung jawaban ke depannya. Iapun mempertanyakan jika nama-nama dalam draf kepengurusannya dicoret dan diganti oleh formatur, apakah formatur akan mendatangi. Hal ini dilakukan lantaran ia dibenturkan dengan deadline untuk pengajuan kepengurusan KONI Kabupaten Mojokerto periode 2020-2024.

“Jadi draf yang saya ajukan, dicoret dan diganti nama-nama dari mereka dengan menggunakan pensil itu ditandatangani mereka. Saya malah berfikir untuk mengundurkan diri dan Senin nya saya ke Surabaya dan bertemu dengan Sekretaris dan Ketua Umum, saya membawa draf saya dan draf yang sudah dicoret serta ditandatangi formatur,” urainya.

Namun, KONI Jatim tidak setuju dan justru mendukung apa yang sudah dilakukan oleh Suher. Draf kepengurusan KONI Kabupaten Mojokerto yang ia usulkan ke KONI Jatim dinilai sudah sah dan sesuai prosedur sehingga tidak perlu lagi diperdebatkan. Sehingga KONI Jatim menerbitkan SK tersebut keesokan harinya.

“Kata pengurus harian KONI Jatim, meskipun tidak ada tanda tangan formatur, yang saya usulkan sudah sah. Katanya, ‘Dia (formatur) tidak punya kepentingan untuk memperbaruhi kabinet tapi kamu hanya menunjukkan ke mereka’. Formatur tidak mutlak menentukan kebijakan,” jelasnya.

Suher menegaskan, ia bukan tidak menghormati formatur. Di dalam AD ART, lanjut Suher, tim formatur hanya mengetahui tidak harus mengoreksi. Menurutnya, ia tidak ada kepentingan di KONI Kabupaten Mojokerto. Namun semua lebih ke dalam untuk mengembangkan KONI Kabupaten Mojokerto lebih baik lagi.

“Saya mohon pamit dihalangi karena kebijakan sudah sah tanpa formatur, ini saya sampaikan berdasarkan KONI Jatim. Tanpa kekuatan apapun saya ke sana, niat saya mengundurkan. Saya tidak menyalahkan dan menyudutkan siapapun disini, saya menghormati yang lebih ngerti tapi saya punya Plt Bupati dan KONI Jatim. Bupati setuju. Intinya, saya tidak ada masalah dengan formatur,” lanjutnya.

Masih kata Suher, ia tidak ambisius dalam KONI Kabupaten Mojokerto. Menurutnya, pencalonannya sendiri dalam KONI Kabupaten Mojokerto baru satu minggu jelang Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab) pada, Sabtu (14/12/2019) lalu. Namun jika SK Kepengurusan KONI Kabupaten Mojokerto tersebut dinilai tidak sah, ia membersihkan pihak yang menilai tidak sah untuk datang ke KONI Jatim.

“Silahkan ke KONI Jatim saja, mereka yang bisa jawab itu. Tapi kalau memang saya dimandatkan sebagai Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto, saya akan curahkan pemikiran dan kemampuan saya untuk KONI Kabupaten Mojokerto. Karena saya ada target, yang terdekat Porprov Jember 2021,” paparnya.

Sebelumnya, mantan anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Partai Demokrat, Super Didiento terpilih sebagai Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto Jawa Timur periode 2019-2023 dalam Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab) di salah satu hotel di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto pada, Sabtu (14/12/2019) lalu.

Bos Bendo Sport terpilih sebagai Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto setelah mendapatkan dukungan 17 cabang olahraga (cabor) atau selisih satu angka dengan rivalnya, Direktur Show Room Mobil IMM Jakarta perwakilan Jawa Timur, Munawar Tobing. Pasca pemilihan, di deadline dua minggu untuk menyusun struktur pengurus.

Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto harus menyusun struktur pengurus bersama formatur yakni, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mojokerto, Ustadzi Rois dan Ketua Umum KONI Kabupaten Mojokerto periode sebelumnya, Firman Efendi. Namun perumusan susunan pengurus yang digelar Sabtu (28/12/2019) deadlock.

Penyusunan struktur pengurus sempat berjalan alot, bahkan perdebatan nama-nama pengurus sempat. Namun, Selasa (31/12/2019) KONI Jatim menerbitkan Surat Keputusan (SK) KONI Kabupaten Mojokerto periode 2020-2024. Dalam susunan struktur pengurus, orang-orang suksesi Suher saat Musorkab 2019 lalu justru diduduki orang lain.

Sehingga beberapa pihak masih mempersoalkan keabsahan SK tersebut dinilai unprosedural. Pasalnya, Suher dinilai punya inisiatif sendiri dengan mengisi orang-orang pilihannya tanpa ada beberapa nama di tim suksesinya. Termasuk juga tanpa ada kesepakatan dengan dua orang formatur tersebut. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar