Iklan Banner Sukun
Olahraga

Presiden Arema: Kami Siap Jadi Martir Demi Bersatunya Suporter Indonesia

Juragan99 Gilang Widya Pramana.

Malang (beritajatim.com) – Presiden Arema FC, Gilang Widya Pramana menegaskan mereka bersedia menjadi martir demi terwujudnya perdamaian suporter Indonesia. Hal ini menyusul aksi pengerusakan bus pemain Arema FC oleh oknum suporter klub lain.

“Sepakbola sejatinya adalah persaudaraan, rivalitas hanya 2 X 45 menit. Adu kualitas permainan, adu strategi, adu fisik dan dan teknik. Tragedi Yogyakarta dimana Bus Arema FC diserang oleh oknum supporter,” ujar Gilang, Kamis (21/10/2021).

Manajemen Arema FC mengutuk keras perbuatan oknum supporter itu. Mereka mengaku ikhlas agar ini menjadi tragedi terakhir dan menjadikan pelajaran berharga bagi semua pengelola klub sepakbola dan suporter untuk mengakhiri saling dendam dan saling serang.

“Kami sepakat biarlah kami menjadi martir dari segala kejadian yang merugikan sepakbola Indonesia,” kata Gilang.

“Kami memberikan jalan terbaik agar kita mengubur dendam demi kompetisi tetap berjalan, dan sepakbola Indonesia berprestasi agar oknum pelaku meminta maaf secara terbuka kepada Arema FC dan Aremania.  Bahwa tindakannya mencoreng citra kedua klub dan suporter yang kini tengah berbenah seiring dengan kualitas kompetisi yang mulai membaik,” imbuhnya.

Gilang juga meminta pelaku pengerusakan meminta maaf secara terbuka kepada PSSI dan seluruh supporter Indonesia bahwa tindakannya mencoreng citra sepakbola nasional. Padahal saat ini sepak bola nasiional sedang berusaha berprestasi di tengah kondisi pandemi yang serba dibatasi.

“Sekali lagi, kubur dendam, buang rivalitas yang berpotensi menghilangkan nyawa sesama. Mari bersama kita lahirkan rivalitas positif dalam memberi dukungan kepada klub yang kita cintai bersama. Rivalitas dengan kreatifitas, rivalitas dengan membangun performen yang berkualitas, kreatif dan bermanfaat bagi banyak orang,” papar Gilang.

Gilang menyebut, Arema FC bersama semua klub di Indonesia sejatinya bersaudara. Dia meminta insiden pengerusakan bus menjadi  momentum melakukan perdamaian antar suporter demi prestasi sepak bola tanah air.

“Sepakbola sejatinya persaudaraan, jangan  cederai persaudaraan ini dengan rivalitas menghilangkan nyawa. Rivalitas destruktif, tapi jadikan rivalitas yang indah, kreatif, dan bermanfaat bagi banyak orang serta bersatu padu untuk Indonesia,” tandasnya. [luc/but]

 

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar