Iklan Banner Sukun
Olahraga

Portsmouth, Juara Piala FA yang Kini Berlaga Di Divisi Ke-3 Liga Inggris

(Foto: Instagram, @officialpompey)

Surabaya (beritajatim.com) – Sehancur apapun sebuah klub, tentu masih ada saja suporter yang setia mendukung klub. Itulah yang dialami kelompok suporter bernama Pompey Supporter Trust.

Kelompok supporter yang begitu setia mendukung Portsmouth. Mereka telah turut terlibat merasakan manis pahitnya perjalanan Portsmouth dalam 20 tahun terakhir.

Di masa jayanya, Porthsmouth pernah berlaga di kasta tertinggi Liga Inggris. Mereka pun pernah menjuarai Piala FA musim 2007-2008. Hasil ini juga membawa mereka berlaga di kom petisi eropa dengan tampil di UEFA Cup.

Sayangnya, dua tahun kemudian mereka mengalami masalah finansial dan menjadi salah satu penyebab mereka terdegradasi ke Championship, liga kasta kedua di Inggris. Sejak saat itu, tim ini terus menerus mengalami pergantian pemilik dan tak kunjung mendapat perbaikan. Mulai dari nama Gaydamak, Sulaiman Al-Fahim, Ali Al-Faraj, Vladimir Antonov, sampai Balram Chainrai pernah menjadi pemilik klub asal Hamspire ini.

Lantas saat ini, Pompey Supporter Trust menjadi pemilik sebagian besar saham Portsmouth yang perlahan-lahan mencoba membangkitkan klub tersebut dengan membebaskan klub dari hutang pada 2014.

Padahal jauh sebelumnya tepat pada 17 Mei tahun 2008, Portsmouth keluar sebagai juara Piala FA. Di laga final Portsmouth berhasil mengalahkan Cardiff City dengan skor 1 – 0.

Hal itu pun menjadi gelar pertama Portsmouth sejak 1939.Saat itu Portsmouth dimiliki pengusaha Prancis, Alexandre Gaydamak, merekrut nama-nama besar, seperti Nwankwo Kanu, Sol Campbell, Sulley Muntari, David James, dan sederet nama bintang lain.

Untuk sekelas klub medioker seperti Portsmouth, deretan nama tersebut tergolong skuad yang mewah. Apalagi pembelian ini tidak sia-sia sebab berhasil mendatangkan trofi. Namun inilah yang justru jadi awal kehancuran Portsmouth.

Nama-nama besar tersebut didatangkan dengan pinjaman bank sejumlah 43 juta Euro. Di saat yang sama Gaydamak pun mulai kehabisan modal. Gaydamak lalu menjual Portsmouth ke pengusaha Timur Tengah, Al Fahim.

Namun sayang, Al Fahim kurang disukai fans lantaran punya kepribadian arogan dan janji manis yang akan mengucurkan dana 50 juta Euro. Tak lama kemudian, Al Fahim menjual klub kepada Al Faraj. Kala itu dikabarkan Portsmouth memiliki utang sebesar 60 juta euro dan gaji pemain belum dibayar.

Perpindahan kepemilikan Portsmouth tidak berhenti sampai disini. Pada Juni 2011, Portsmouth dimiliki Vladimir Antonov yang merupakan orang terkaya ke-200 di Rusia. Sayangnya Antonov justru terlibat kasus masalah bank di Lithuania.

Akibat sederet kasus ini Antonov hanya setengah musim menjadi pemilik Portsmouth. Saat itu Portsmouth benar-benar dalam kondisi hancur. Selain problem dari segi keuangan, tim ini juga terpaksa mendapat pengurangan poin, serta kesulitan mencari manajer baru.

Bencana yang dialami Portsmouth mempengaruhi performa tim. Bahkan pada akhir musim 2012/13 klub ini terdegradasi ke League Two (kasta ke-3) Liga Inggris. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Monstera Cafe, Tempat Kopi Hits di Puncak Kota Batu

APVI Tanggapi Soal Kenaikan Cukai Rokok Elektrik

Anoa Dataran Rendah Koleksi KBS Mati