Olahraga

Ponaryo Astaman Jadi Saksi di Sidang Gugatan Tunggakan Gaji Pemain Persegres

Gresik (beritajatim.com) – Sidang keempat terkait gugatan perdata tunggakan gaji pemain Persegres Gresik yang dimediasi oleh Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), terhadap manajemen PT Persegres Joko Samudro, bernuansa lain, Rabu (18/09/2019). Dalam sidang gugatan itu juga hadir sekaligus sebagai saksi General Manager (GM) APPI yang juga mantan kapten timnas Ponaryo Astaman.

Sidang dengan agenda pembuktian kali ini juga dihadiri (saksi) mantan Ketum Supporter Ultrasmania, M.Muharron. Mantan pemain Persegres, Wismoyo Widhistio serta saksi ahli dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. Lanny Ramli, SH, M.Hum.

Sidang tetap dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Silvya Terry dan dua anggotanya. Sebelum ketiga saksi dan satu saksi ahli dimintai keterangan oleh majelis hakim, mereka terlebih dulu disumpah menurut agamanya masing-masing.

“Mohon ketiga saksi serta saksi ahli maju ke depan untuk disumpah sesuai agamanya masing-masing,” pinta Silvya Terry.

Saksi pertama mantan Ketum Supporter Ultrasmania, M.Muharrom terlebih dulu ditanya oleh penggugat, atau kuasa hukum Jannes H. Silitonga seputar keberadaan supporter Ultrasmania, dan kondisi carut-marut manajemen Persegres saat mengarungi kompetiga Liga musim 2016-2017.

“Saat itu memang ada beberapa pemain mengeluh gajinya belum dibayar oleh manajemen melalui medsos. Selain gaji yang belum dbayar, makanan pemain juga amburadul. Sehingga, kondisi itu membuat dirinya bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam wadah supporter Ultrasmania tergerak lalu melakukan aksi sosial dengan mengumpulkan dana dan diserahkan ke pemain Persegres,” ujarnya, Rabu (18/09/2019).

Setelah memberikan keterangan, saksi berikutnya yang dihadirkan adalah mantan pemain Persegres Wismoyo Widhistio. Pemain asli Gresik itu, menceritakan saat dirinya terikat kontrak sejak di kompetisi Liga 1 mulai musim 2012 hingga 2015 tidak ada masalah. Namun, memasuki musim 2016-2017, permasalahan di timnya mulai dirasakan. Mulai dari gaji yang belum dibayar hingga tidak ada perhatian dari manajemen Persegres.

“Di Persegres saya cuma ikut kompetisi hingga musim 2017 sebelum berakhir. Karena semakin tidak kondusif saya memutuskan pindah ke Sragen United,” ungkapnya.

Sementara saksi ketiga yang dihadirkan adalah GM APPI, Ponaryo Astaman. Saat memberikan keterangan, mantan kapten timnas itu terlebih dulu ditanyai oleh majelis hakim terkait 24 pemain Persegres yang mengajukan gugatan.

Mengenai pertanyaan itu, Ponaryo menjelaskan dirinya sebagian besar mengenal dengan pemain tersebut. Dirinya menceritakan terkait kontrak pemain dengan manajemen dilakukan di awal musim sebelum kompetisi digelar.

“Sebagai pemain profesional semua aturan itu ada di draft kontrak termasuk gaji pemain. Bahkan, kalau menang diberi bonus dan setiap akhir bulan ada transfer gaji. Sebaliknya, kalau pemain tidak berlatih, ada sanksi berupa punishment dari manajemen,” ujarnya.

Ponaryo berharap kasus yang dialami oleh pemain Persegres bisa diselesaikan sebelum putusan. Pasalnya, kalau sampai sudah ada putusan, APPI mengirim surat rekomendasi ke PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI untuk mem-banned Persegres tidak boleh mengikuti kompetisi.

“Kalau sampai terjadi ini merupakan satu-satunya pertama kali dialami sebuah klub di Indonesia seperti Persegres. Pasalnya, kasus serupa pernah dialami oleh PSPS Pekanbaru dan PSMS Medan. Namun, sebelum putusan manajemennya telah menyelesaikan tunggakan gaji pemain,” paparnya.

Saksi ahli Dr Lanny Ramli asal Unair Surabaya menyatakan pemain sepak bola bukan profesi atau hobi. Sebab, jika ada perjanjian kontrak antara pemain dengan manajemen. Sama saja ada hubungan antara pekerja (pemain) dengan perusahaan (manajemen pengelolah klub).

“Yang namanya sudah ada kontrak dan itu sudah dilakukan oleh pemain. Kewajiban manajemen wajib membayar kekurangannya,” imbuhnya.

Sidang gugatan perdata ini, akhirnya akan dilanjutkan dua minggu lagi dengan agenda mendengarkan kesimpulan majelis hakim.

“Sidang ditunda dua minggu lagi agendanya mendengarkan kesimpulan setelah itu baru putusan,” pungkas Ketua Majelis Hakim Silvya Terry. [dny/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar