Olahraga

Berbekal Inpres 3/2019

Persewangi Banyuwangi Nekat Berkompetisi di Liga 3

Banyuwangi (beritajatim.com) – Kompetisi Liga 3 bakal segera bergulir. Setiap klub yang ikut dalam gelaran itu tengah menyusun persiapan untuk berlaga. Tak terkecuali Persewangi Banyuwangi.

Sejauh ini, tak ada halang rintang yang menjadi hambatan dalam tahap pembentukan manajemen. Bahkan, klub yang kerap disebut Persewangi 1970 itu juga bakal segera membentuk tim.

“Yang jelas usai kongres kemarin di Surabaya, seluruh tim Liga 3 di deadline tanggal 28 Februari kemarin untuk segera mendaftarkan dalam kompetisi. Dan Persewangi Banyuwangi telah resmi mendaftarkan diri dan memastikan tampil di kompetisi tersebut,” ungkap Sekretaris Persewangi Banyuwangi, Ali Nurfatoni, Minggu (3/3/2019).

Selain itu, kata pria yang akrab dipanggik Toni ini, usai melewati kongres Asprov PSSI Jawa Timur beberapa hari lalu, manajemen Persewangi Banyuwangi pun siap berkompetisi. “Kita telah melakukan langkah yaitu rapat dengan manajemen. Pada prinsipnya berdasarkan petunjuk dari Asosiasi, kompetisi akan diputar pada bulan Juli. Sehingga kita ada waktu beberapa bulan ke depan untuk melakukan persiapan tim, penunjukan pelatih dan seterusnya,” ujarnya.

Meskipun diyakini, Toni dan jajaran menejemen lain butuh modal besar untuk mengarungi kompetisi tersebut. Optimisme itu muncul, meskipun modal awal hanya berbekal Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019.

Ya, Inpres itu bisa menjadi celah untuk membakar semangat manajemen tim berjuluk Laskar Blambangan untuk berkompetisi. Karena melalui itu, harapan yang dapat diandalkan untuk menyuntik finansial klub.

“Kita butuh modal besar, karena tanpa biaya yang banyak kita tentunya sulit untuk melangkah, sulit bekerja, kita sulit untuk melakukan pembinaan. Maka dari itu kita butuh support berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Yang mana berdasarkan instruksi presiden (inpres) disebutkan meminta kepada Pemerintah Kabupaten termasuk bupati untuk ikut serta dalam melakukan pembinaan sepak bola di daerah,” terangnya.

Toni menyebut, dalam konteks pembinaan pihaknya tak mau hanya manis diawal dan pahit di tengah jalan. Artinya, perlu suntikan modal berkelanjutan untuk menjamin selama berlangsungnya kompetisi.

“Kalau mengacu pembinaan kita butuh Rp 1 Milyar. Kalau berkaca sebelumnya, dana Rp 100 juta itu tidak ada artinya. Sehingga di tengah kompetisi kita kehabisan di tengah jalan dan bermain ala kadarnya sehingga kita harus bertahan di liga 3. Kita juga siap ditarget,” ucapnya.

Toni menambahkan, mengapa pemerintah daerah harus hadir dalam pengelolaan sepak bola. Alasannya, sepak bola tak hanya pertandingan antar tim. Tapi, multiplayer effect di belakangnya juga menjadi hal yang harus diperhatikan.

“Kami yakin jika dukungan ini tercapai, maka target lolos ke kasta berikutnya mudah dilalui. Kita sudah punya sarana, stadion ada, prasarana pendukung juga ada. Satu lagi, jika kita melawan dengan tim-tim besar tentunya otomatis akan mendatangkan wisatawan ke Banyuwangi, apalagi aksesnya mudah karena ada bandara,” imbuh pria yang juga Kepala Desa ini.

Harapan terbesar, geliat olahraga khususnya sepak bola di Bumi Blambangan ini tetap ada. Terlebih, animo publik sepak bola di daerah ini juga cukup besar.

“Tentunya, dukungan dari pemerintah tak sekedar sebatas harapan, tapi juga langkah pasti. Sayang kalau ini tidak dikelola, kalau tidak ada yang mau terus siapa? Kalau tidak kita siapa lagi?,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional. Dalam Inpres itu, Presiden Jokowi menginstruksikan 12 kementerian, Kapolri, dan seluruh gubernur dan bupati/wali kota untuk meningkatkan prestasi sepak bola berdasarkan fungsi dan tugasnya masing-masing. (rin/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar