Iklan Banner Sukun
Olahraga

Panitia Disiplin Futsal Porprov Jatim Tolak Protes Jember

Jember (beritajatim.com) – Panitia Disiplin Futsal Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur (Porprov Jatim VII menolak protes tim futsal putra Kabupaten Jember.

Namun Panitia Disiplin Futsal mengeluarkan enam pemain yang dipersoalkan tim futsal Jember dari daftar pengesahan tim futsal putra Kota Malang.

Keputusan tersebut dikeluarkan pada Jumat (1/7/2022) dan ditandatangani Ketua Panitia Disiplin Futsal Arief Syaifuddin. Panitia Disiplin merespons putusan Dewan Hakim Porprov Jatim VII yang menerima protes dari tim futsal Jember soal keabsahan enam pemain futsal putra Kota Malang.

Protes dilayangkan tim futsal Jember setelah dikalahkan Kota Malang 4-5, pada babak perempat final, Kamis (30/6/2022). Mereka menduga adanya dokumen ganda, pemain tidak sah, dan keikutsertaan pemain pada event porprov di dua tempat berbeda oleh enam pemain futsal putra Kota Malang.

Berdasarkan alat bukti yang diajukan tim futsal Jember melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jember dan alat bukti dari KONI Kota Malang, serta pendapat maupun keterangan dan fakta yang terungkap di persidangan, Dewan Hakim memutuskan lima hal.

Pertama, menerima permohonan KONI Kabupaten Jember. Kedua, menyatakan tidak sah keikutsertaan Angga Ariansyah, Andreas Dwi Persada Putra, Moch. Faisal Azhar, Riand Al Muslich, Agung Prayoga dan Irpan Hendrianto sebagai atlet cabang olahraga futsal KONI Kota Malang pada Porprov Jatim VII/2022.

Ketiga, keputusan Dewan Hakim bersifat final dan mengikat. Keempat, memerintahkan kepada seluruh pihak untuk tunduk dan patuh terhadap putusan ini. Kelima, keputusan ini berlaku sejak diputus, yakni 1 Juli 2022. Surat keputusan Dewan Hakim ditandatangani Ketua Dewan Hakim Porprov Jatim VII, Anthony L.J. Ratag.

Keputusan Dewan Hakim ini disambut gembira Ketua KONI Jember Sutikno. Dia berharap agar tim futsal putra Kota Malang didiskualifikasi karena terbukti menggunakan pemain tidak sah selama Porprov Jatim VII berlangsung.

“Seharusnya ada sanksi dari Panitia Disiplin, sama seperti kasus di sepak bola. Tim sepak bola putri Kota Malang kan didiskualifikasi, karena ditemukan data pemain tidak sah,” kata Sutikno. Gara-gara didiskualifikasi, tim sepak bola wanita Kota Malang batal masuk final, kendati menang 4-0 atas Bondowoso di semifinal.

Namun rupanya Panitia Disiplin berbeda pendapat. Dalam surat keputusannya, Panitia Disiplin menyatakan, enam pemain yang dipersoalkan Jember tidak dimainkan dan tidak ada dalam daftar susunan pemain dan match summary dalam pertandingan Jember melawan Kota Malang.

“Oleh karenanya keberadaan pemain tersebut tidak mempengaruhi hasil pertandingan yang dimaksud (Jember melawan Kota Malang, red), sehingga protes tim futsal Jember tidak cukup beralasan. Hasil pertandingan tetap sah (dimenangkan Kota Malang dengan skor 5-4, red),” demikian pernyataan dalam surat tersebut.

Keputusan Panitia Disiplin Futsal ini membingungkan KONI Jember. “Keputusan Panitia Disiplin dengan Dewan Hakim bertolak belakang. Dewan Hakim menyatakan (enam) pemain Malang tidak sah. Keputusan Panitia Disiplin tidak berpatokan dengan keputusan Dewan Hakim,” kata Sutikno.

“Padahal keputusan awal Panitia Disiplin adalah masalah keabsahan pemain diserahkan kepada Dewan Hakim. Kalau memang keabsahan pemain dipasrahkan ke Dewan Hakim, seharusnya keputusan Dewan Hakim dijadikan patokan dalam membuat keputusan selanjutnya. Tapi malah mengambil keputusan sendiri. Ini kami perlu pencerahan,” kata mantan Ketua PSSI Jember ini.

Sutikno membenarkan jika enam pemain yang dipersoalkan itu tidak diturunkan saat melawan Jember. “Namun proses menuju delapan besar (perempat final) kan Malang memainkan pemain tidak sah. Artinya, prosesnya (menuju perempat final) dilakukan pemain ilegal,” katanya.

Kekecewaan tinggal kekecewaan. Tidak ada mekanisme dalam regulasi untuk mempersoalkan keputusan Panitia Disiplin tersebut. Sutikno hanya berharap kejadian di futsal bisa menjadi pembelajaran bersama. “Bagaimana kita membangun olahraga supaya tidak teracak-acak seperti ini. Kami sebagai tuan rumah berusaha meluruskan persoalan sesuai regulasi dan menjalankan aturan dengan sportif. Semoga ke depan KONI Jatim makin jaya,” kata Sutikno.

Sementara itu, Ketua Panitia Disiplin Futsal Arief Syaifuddin menegaskan, keputusan tersebut dibuat dengan penuh pertimbangan. “Enam pemain tidak sah itu tidak dimainkan saat melawan Jember. Saya mendiskualifikasinya di mana?” katanya.

“Kalau saya mendiskualifikasi Kota Malang, maka akan berimplikasi pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Rusak itu nanti, karena harus dirunut mulai dari babak penyisihan, 16 besar, sampai delapan besar. Karena kalau terbukti menggunakan pemain tidak sah dalam babak gugur, maka tim yang dikalahkan sebelumnya akan menggantikan tim tersebut,” kata Arief. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar