Olahraga

Novi Zaenal: Arema Indonesia ‘Not For Sale’

Diego Michiels diperkenalkan langsung oleh Presiden Arema FC Gilang Widya Pramana.

Malang (beritajatim.com) – Menanggapi rencana Presiden Arema FC Gilang Widya Pramana yang akan membeli Arema Indonesia untuk menyelesaikan dualisme, istri mendiang Lucky Acub Zaenal atau Sam Ikul, Novi Zaenal angkat bicara.

“Arema Indonesia Not for Sale (tidak untuk dijual),” kata Novi kepada media, Kamis  (17/6/2021).

Arema Indonesia sejak dipulihkan kembali oleh PSSI pada 2017 silam harus berkompetisi di Liga 3. Novi selaku istri mendiang Sam Ikul menjadi pengelola Arema Indonesia bersama manajemen lainnya.

Sedangkan Gilang sang Juragan99 baru saja diangkat menjadi presiden klub beberapa hari lalu. Dia berencana membeli Arema Indonesia untuk menyatukan pengelolaan sekaligus mengakhiri dualisme. Arema Indonesia rencananya akan tetap di Liga 3 sebagai klub satelit, untuk pembinaan pemain muda sebelum diorbitkan di senior atau Arema FC.

Novi mengaku akan terus memegang amanah Sam Ikul dalam pengelolaan Arema Indonesia. Menurutnya, ada sejarah yang harus dipertahankan oleh keluarga pendiri Arema ini. Dia menyebut, memang tim Arema Indonesia tidak sekaya Arema FC, tetapi dengan semangat dan niatan menjaga sejarah Arema Indonesia tidak akan pernah dijual.

“Kami menjaga amanah almarhum (Lucky) untuk terus mempertahankan sejarah. Bersama anak-anak, manajemen, tidak akan menjual Arema kita tetap akan semangat. Saya tidak kenal Gilang. Meskipun tidak sekaya mereka (Arema FC). Dengan hidup kami terutama saya, sam Ikul (Lucky) almarhum itu semangatnya hidup tidak equal rupiah. Tapi hidup itu equal martabat,” kata Novi.

Senada dengan keluarga Sam Ikul, pendukung setia Arema Indonesia, Yez menolak tim kebanggaannya dibeli oleh Presiden Arema FC. Menurutnya, produk klub sepak bola dari yayasan Arema hanyalah Arema Indonesia bukan yang lain.

“Kita sebagai suporter Arema Indonesia menolak dan dengan tegas, menyatakan bahwa Arema Indonesia tidak dijual dan tidak ada nilai tawarnya dengan nominal rupiah berapapun,” ujar Yez.

Menurut Yez, Aremania, pendukung Arema Indonesia, menganggap dualisme sebenarnya sudah selesai pasca Arema FC menggunakan PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI). Sedangkan tim yang mereka dukung tetap memakai PT Arema Indonesia.

“Di 2011 hingga 2014 bisa dibilang manajemen sama-sama klaim PT Arema Indonesia. Tapi sejak Arema FC menyatakan diri dia PT AABBI sudah tidak ada dualisme. Dualisme terjadi jika dalam satu lembaga ada dua kepemimpinan,” tandas Yez. [luc/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar