Iklan Banner Sukun
Olahraga

Mengenal Hukuman Liga, Jika Suatu Klub Ada Masalah Keuangan

Hukuman liga, jika suatu klub ada masalah keuangan, unsplash

Surabaya (beritajatim.com) – Setiap liga pasti memiliki klub yang mengalami masalah finansial bahkan sampai klub itu bangkrut. Berbagai masalah pun bisa mendasari, seperti hadiah liga yang sedikit, berkurangnya sponsor sampai besarnya beban gaji jadi hal paling dalam kebangkrutan sebuah klub.

Tidak jarang, beberapa liga punya peraturan keuangan klub bahkan memberi hukuman pada klub yang mengalami masalah keuangan. Tujuannya agar klub tersebut bisa jera dan memperbaiki kesalahan.

Namun, ada pula klub yang bahkan harus bangkrut karena tidak bisa lagi menunaikan kewajiban. Lalu apa saja hukuman yang diberikan sebuah liga pada klub yang mengalami keuangan pailit? Soal itu tiap liga punya regulasi yang berbeda-beda tergantung pada asosiasi sepak bolanya.

Misalnya English Football League, EFL berbeda dengan Premier League. Biasanya EFL memberikan peringatan pertama melalui pengurangan poin seperti yang dilakukan biasanya. Mulai dari 2-30 poin diberikan. Bahkan sebelum liga berjalan pun EFL sudah memberikan hukuman pengurangan poin jika masalah keuangan tidak kunjung diselesaikan sebelum liga berjalan. Tidak tanggung-tanggung EFL bisa membuat sebuah klub diusir dari Liga bahkan saat liga sedang berjalan.

Meski hadiah liga di EFL lumayan besar, tapi tak jarang banyak klub yang harus bangkrut bahkan harus mengganti nama dan mulai dari divisi bawah layaknya di Liga EPL. Beberapa klub seperti Derby, Bolton, Wigan hingga Bury pernah terkena hukuman. Masih banyak lagi klub yang sudah pernah kena Poin hukuman yang diberikan cukup bervariasi. Seperti Macclesfield Town yang terkena 13 poin, hingga dikeluarkan dan dilemparkan ke divisi regional klub tersebut berasal.

Ada juga Bury yang dilempar ke Divisi 7. Namun sebaiknya, meski akhirnya degradasi, nama klub yang berkurang poin ini juga memiliki beban yang berkurang juga karena turun kelas dan akhirnya klub tersebut bisa terselamatkan. Swindon Town juga nyaris bangkrut musim ini, dan akhirnya selamat.

 

Hal lain terjadi di Serie A, Italia. Klub di liga ini sering kali mengalami kebangkrutan bahkan harus berganti nama. Terutama semenjak kasus Calciopoli pada 2006, pihak sponsor maupun para pemain mulai satu persatu meninggalkan Serie A sehingga pendapatan saat itu menurun hebat bahkan diperparah dengan kondisi keuangan negara yang buruk.

Sehingga pendapatan Serie A jauh lebih sedikit dibanding Premier League. Sebut saja Parma, Palermo hingga Chievo Verona terkena dampaknya. Bayangkan saja Juara Serie A hanya memperoleh uang 100 Juta Euro, itupun kurang dengan peringkat terakhir Premier League yang masih memperoleh sekitar 127 juta Euro. Klub-klub yang mengalami masalah keuangan biasanya lebih banyak bangkrut karena tak sanggup menekan pengeluaran.

Serie A sebagai operator melalui FIGC tak segan-segan mengeluarkan mereka dari liga dan harus memulai lagi dari awal dengan nama, logo, dan struktur berbeda. Mereka harus bermain lagi di Serie D untuk bisa kembali ke kasta atas yaitu Serie A. Sebagaimana yang terjadi di Parma sejauh ini, mereka berhasil bangkit ke Serie A setelah bangkrut pada 2015 lalu.

Sementara itu, liga elit Spanyol yaitu La Liga dan liga teratas Jerman, Bundesliga sejauh ini jarang ada klub yang bermasalah di keuangan klub mereka memakai peraturan Salary Cap. Salary cap mengharuskan setiap klub dibatasi menggaji pemain, sampai ke tingkatan tertentu. Oleh karena peraturan ini, sebuah klub tidak bisa sembarangan membeli pemain, karena harus ada jaminan finansial klub itu aman dalam jangka panjang. [dan/esd]


Apa Reaksi Anda?

Komentar