Iklan Banner Sukun
Olahraga

Mengapa Pemain Lokal Indonesia Susah Untuk Bermain di Klub Eropa?

Tangkapan layar Instagram @egymaulanavikri

Surabaya (beritajatim.com) – Tidak banyak pemain berkebangsaan Indonesia yang mampu bermain hingga ke Eropa. Terbaru, ada nama Egi Maulana Vikri, Bagas Kahfi, dan Witan Sulaeman. Meski ketiganya belum bermain di Liga elit Eropa, namun pemain muda itu jadi sinyal baik untuk sepakbola Indonesia.

Selama ini, sebagai penggemar sepakbola jarang memang jarang mendengar nama pemain asal Indonesia di level Eropa. Salah satu alasannya adalah karena tuntutan kualitas. Berstatus sebagai pemain asing di luar negeri nyatanya bukan cuma perkara muda. Tidak jarang, seorang pemain lokal yang kurang mampu membuktikan kualitasnya di atas pemain asing akan bertahan sebentar karena tuntutan performa dari klub juga satu dua hal lain.

Di samping itu, pemain Indonesia juga diharuskan punya kemampuan spesial agar bisa dilirik klub Eropa. Ini diakui oleh Gabriel Buda, salah satu agen sepakbola asal Indonesia.

Gabriel Budi menerangkan jika pemain Indonesia dari segi permainan harus lebih spesial. Sebab jika permainannya tanggung maka akan sulit untuk bersaing. Pemain kebangsaan Indonesia harus bersaing dengan negara lain, kemampuan individu itu mutlak harus dimiliki.

Alasan lain pemain Indonesia kurang berkembang lantaran punya menit bermain yang minim. Terlepas dari persaingan di dalam skuad utama klub, minimnya kesempatan bermain yang diberikan pelatih kepada pemain lokal agaknya juga menjadi hambatan bagi pemain lokal itu sendiri.

Misalnya saja penggunaan Striker asing di Liga 1 Indonesia. Memang keberadaan Striker asing baik untuk klub, namun akan menjadi petaka bagi striker lokal itu sendiri karena semakin terpinggirkan. Bukan tidak mungkin jika penggunaan Striker asing makin marak digunakan, maka kehadiran Striker Lokal bisa jadi hal langka di kemudian hari.

Penyebab lainnya adalah karena pemain lokal Indonesia sering terjebak pada zona nyaman. Akibat gaji lancar, prestasi berlimpah juga fasilitas yang memadai membuat yang sangat diinginkan setiap pemain.

Dengan segala hal yang dimiliki itu, bisa juga jadi motivasi tersendiri bagi pemain tersebut untuk terus berkembang dan bermain lebih maksimal. Namun disisi lain, tak jarang juga para pemain tersebut justru terjebak dalam zona nyaman yang seakan mengurung mereka untuk bermain ke luar negeri yang liganya lebih kompetitif.

Faktor yang selanjutnya merupakan komunikasi bahasa yang terbatas. Ternyata ada juga sejumlah pemain ternama tanah air seperti Firman Utina dan Hamka Hamzah yang mengaku pernah menolak tawaran klub luar negeri karena terkendala bahasa.

Faktor bahasa sebenarnya hal wajib yang perlu dimiliki seorang pemain jika hendak bermain di luar negeri. Sebab, keterbatasan bahasa seorang pemain akan membuat dirinya tidak bisa membangun hubungan dan chemistry dalam tim. [dan/esd]


Apa Reaksi Anda?

Komentar