Olahraga

Mantan Pelatih Persid Jember: Konflik Internal Pengaruhi Pemain

Achmad Jainuri (foto: koleksi pribadi)

Jember (beritajatim.com) – Achmad Jainuri, mantan pelatih Persid, klub Liga 3 asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengatakan konflik internal di tubuh Yayasan Persid Jember bisa mempengaruhi minat pemain untuk memperkuat klub berjuluk Macan Raung itu.

“Jika konflik itu berkepanjangan, tidak akan bisa Persid mencapai Liga 2. Pemain bertalenta dan punya kualitas bagus tidak mungkin mau ke Jember, karena ada konflik di sini. Semua tergantung pada sesuatu yang ‘buram tapi ada’, suram tapi ada,” kata Jainuri, Selasa (31/3/2020).

Tanpa merekrut pemain berpengalaman dan berkualitas, maka Persid hanya akan mengandalkan pemain-pemain muda minim jam terbang. Ini tentu akan mempengaruhi performa tim dalam kompetisi. Padahal Persid diharapkan bisa berprestasi. “Jangan sampai di Liga 3 hanya ‘yo wis pokoke ngethokno (yang penting ikut kompetisi),” kata Jainuri.

Selama ini, menurut Jainuri, konflik internal juga berpengaruh pada susahnya pendanaan tim. Ujung-ujungnya honor untuk pelatih, pemain, dan ofisial pun telat dibayar. “Kalau tidak uang honor, mereka tidak mau main. Tidak bisa seperti saya dulu: pokok main nggawe kaos Persid, bangga. Tidak ada sekarang,” katanya.

Kebanggaan memperkuat Persid sebagai klub kelahiran asal sudah tidak berlaku. “Sudah bukan zamannya lagi. Zaman saya dulu kebanggaan nomor satu. Sekarang tidak ada. Yang penting dapat honor, main bagus, kalau jelek ya dipecat. Profesional,” kata Jainuri.

Jainuri merasakan betapa susahnya melatih tim yang krisis finansial seperti Persid pada musim 2019. Pemain kehilangan motivasi bermain karena terlambat menerima gaji. “Kemarin kalau tidak pinter-pinternya saya (membujuk pemain), tidak sampai putaran kedua. Kita di situ sama pemain harus bisa menyatu,” katanya.

Jainuri menyerukan kepada semua pihak di Yayasan Persid Jember untuk duduk bersama. Dia meminta Asosiasi PSSI Kabupaten Jember diajak membicarakan persoalan ini. “Jadi orang ketiga yang netral,” katanya. Bahkan, ia menyarankan bupati untuk turun tangan mengatasi persoalan.

Ada lima elemen kunci keberhasilan klub sepak bila. “Manajemen, pemain, pelatih, pemerintah daerah, dan suporter. Lima ini harus kompak. Manajemen bisa bergerak ke PSSI, pelatih bersama pemain, pemerintah mengusahakan dana, suporter mendukung di lapangan. Kalau lima itu tidak bisa sinkron, ya wassalam,” kata Jainuri.

Konflik di tubuh Persid Jember memasuki babak baru. Jika sebelumnya, konflik terjadi antara kelompok suporter Berni dengan Yayasan Persid Jember, kini konflik terjadi di internal yayasan sendiri. Babak baru ini terjadi setelah Pembina Yayasan Persid Jember Suparno menyerahkan jabatan ketua pengurus yayasan kepada M. Sholahuddin Amulloh alias Jo, Jumat (20/3/2020) lalu. Sebelumnya posisi ketua yayasan dipegang Sunardi, legislator DPRD Jember.

Sunardi tidak terima dengan keputusan Suparno. “Itu cacat hukum,” katanya. Dia merasa masih berhak memimpin yayasan hingga 2021 sebagaimana anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Apalagi selama 2017 hingga 2019, ia mengelola Persid dan ikut dalam kompetisi Liga 3 dan Piala Suratin. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar