Olahraga

Laga Korsel vs Korut, Olahraga Redakan Ketegangan Politik dan Militer

Tim nasional sepak bola Korea Utara akan menjamu tim Korea Selatan pada Selasa (15/10/2019) petang waktu setempat dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022. Ini untuk pertama kalinya Korut menghadapi Korsel dalam laga kompetitif, sementara untuk laga persahabatan, keduanya sudah dua kali bertemu.

Baik Korea Utara maupun Selatan sudah memenangkan dua pertandingan pertama mereka di Grup H pada putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2022 untuk wilayah Asia.
Keduanya belum kebobolan, tapi Korsel berada di posisi teratas klasemen sementara setelah mencetak 10 gol, sementara tetangganya baru mencetak tiga gol.

Masing-masing kubu punya satu pemain bintang. Bagi Korsel, Son Heung-min yang memperkuat klub Liga Primer, Tottenham Hotspur. Adapun bagi Korut, Han Kwang-song yang baru direkrut klub Serie A Italia, Juventus.

Sudah hampir pasti laga di Stadion Kim Il-sung di Pyongyang ini akan berlangsung seru, karena yang dipertaruhkan adalah kebanggaan nasional. Kesempatan untuk menyaksikan kedua timnas berlaga bisa dibilang langka. Bahkan, hampir tidak pernah terdengar kedua timnas bertanding di Pyongyang.

Dalam pertandingan di ibu kota Korut itu tidak akan ada siaran langsung, tidak ada pendukung Korsel di bangku penonton, dan tidak ada media asing yang meliput di stadion.

Kalaupun ada turis asing yang kebetulan berada di Pyongyang, mereka tidak akan diperbolehkan menonton pertandingan di dalam stadion. Sejarah menunjukkan, Korea Utara bereaksi negatif ketika menelan kekalahan.
Setelah kalah di Seoul pada 2009, Korea Utara menuduh Selatan memberikan tim Utara “makanan yang tercemar”, tudingan yang tentu dibantah Korea Selatan.

Pertandingan ini digelar saat hubungan kedua negara — yang secara teknis masih berperang — berada pada titik penting sekaligus menegangkan. Perundingan nuklir Korea Utara mandek dan negara ini mulai meluncurkan kembali misil ke laut. Tetapi olahraga telah terbukti dapat menyatukan kedua negara.

Salah satu titik terang dalam kebekuan hubungan selama puluhan tahun setelah pemboman 1988 pesawat Korea Selatan oleh Utara – sebuah usaha untuk menakut-nakuti tim yang ikut serta Olimpiade 1988 di Seoul – adalah ketika Korea Selatan mencapai semifinal Piala Dunia 2002. Pimpinan Asosiasi Sepak bola Korea Utara Ri Gwang-gun menyelamati Korea Selatan.

Presiden Korea Selatan Moon Je-in terpilih pada bulan Mei 2017, dan hubungan mulai membaik. Presiden Moon menggunakan olahraga sebagai cara untuk mendekati Korea Utara. Satu bulan setelah berkuasa, dia mengisyaratkan Piala Dunia dapat diselenggarakan blok Asia timur laut, termasuk di dalamnya adalah Korea Selatan dan Utara.

Secara teknis, adalah melanggar peraturan bagi negara Asia lain (atau beberapa negara) untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia setelah perhelatan ini digelar di Qatar pada 2022. Tetapi kemudian terjadi terobosan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang permulaan tahun 2018. Tim Korea Utara dan Selatan memasuki Upacara Pembukaan di bawah bendera Unifikasi Korea. Juga dibentuk tim hoki es perempuan Korea bersatu.

Bulan Juni 2018, Chung Mong-gyu, pimpinan Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan, memperbarui tawarannya kepada Utara – selain China dan Jepang – terkait dengan Piala Dunia regional.

Di bulan Agustus 2018, tim Korea gabungan terjun di berbagai cabang di Asian Games Jakarta. Setelah KTT Kim dan Moon, kedua negara mengumumkan maksudnya untuk menjadi tuan rumah bersama Olimpiade 2032, saling berbagi antara Seoul dan Pyongyang.

Ini semua bergantung pada kepatuhan Utara terhadap aturan Badan Antidoping Dunia.

Dalam beberapa bulan terakhir hubungan kedua negara agak mendingin. Permulaan bulan ini Utara kembali meluncurkan misil sehingga membuat Selatan khawatir.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan para pengamat berharap pertandingan akan memberikan “kesempatan untuk meningkatkan hubungan”.
Sampai sejauh ini, Pyongyang tidak berkomentar, dan media Utara masih belum membicarakannya.

Ini mungkin karena statistik menunjukkan Korea Selatan jauh lebih unggul dengan mencatat tujuh kemenangan dan delapan seri. Jika Korea Selatan menang, mungkin tidak akan banyak yang berubah. Tapi jika Korea Utara mencatat kejutan, mungkin kemenangan itu akan menjadi katalis membaiknya hubungan kedua negara.

Bagi dua Korea, sepak bola tak sekadar cabang olahraga, sepak bola bisa menentukan masa depan kedua negara. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar