Olahraga

KPK Panggil Taufik Hidayat Terkait Dugaan Korupsi di Kemenpora

Juru Bicara KPK Febri Diansyah

Jakarta (beritajatim.com) – Mantan Juara Dunia Bulutangkis Taufik Hidayat dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pemanggilan dilakukan terkait penyelidikan kasus dugaan korupsi di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyebut, Taufik Hidayat dimintakan keterangan dalam penyelidikan sebagai Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dan Staf Khusus di Kemenpora. “Diminta keterangan terkait penyelidikan,” kata Febri, Kamis (1/8/2019).

Sementara itu, Taufik mengaku ditanya terkait tugas pokok dan fungsi jabatan Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dan tupoksi Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima). Namun, dia menyebut tak ditanya penyidik KPK soal pembagian honor di sana.

“Dimintai keterangan saja (terkait) Stafsus Kemenpora di 2017-2018. Itu saja,” ujar Taufik usai dimintai keterangan sekitar empat jam.

Sebelumnya, KPK juga telah memanggil Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto. KPK menyebut tengah melakukan pengembangan perkara di Kementerian yang dipimpin Imam Nahrowi tersebut.

“Yang bersangutan dibutuhkan keterangannya dalam pengembangan perkara di Kemenpora,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat (26/7/2019) pekan lalu.

Sayangnya, Febri belum mau merinci terkait perkara apa yang tengah ditangani KPK. “Pengembangan perkara,” ujarnya.

Sementara Gatot mengatakan, KPK ingin tahu tentang pola pengelolaan anggaran dan program sepanjang tahun 2014 sampai dengan 2018. Dia mengaku, sejauh ini penyidik belum menanyakan padanya spesifik tentang dana hibah maupun KONI.

“Kenapa harus saya? Karena saya sebagai Sesmenpora, sebagai kepala kantor,” kata Gatot saat itu.

Sebelumnya, KPK melakukan penyidikan terkait pengucuran dana hibah dari Kemenpora ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Dalam kasus ini, dua orang di antaranya telah divonis yaitu Ending Fuad Hamidy sebagai Sekretaris Jenderal KONI dan Johnny E Awuy sebagai Bendahara Umum KONI. Sedangkan tiga orang lainnya yaitu Mulyana sebagai Deputi IV Kemenpora serta 2 orang staf di Kemenpora yaitu Adhi Purnomo dan Eko Triyanto masih menjalani persidangan.

Dalam berkas tuntutan perkara yang sama tapi untuk terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy, jaksa KPK menyebut, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan Miftahul Ulum terlibat dalam permufakatan jahat untuk menerima suap terkait pengurusan dana hibah KONI. Johny E Awuy mengaku pernah memberikan uang total Rp11,5 miliar kepada Miftahul Ulum secara bertahap atas pengetahuan Ending Fuad Hamidy. Uang itu diduga akan diteruskan lagi ke tangan Imam Nahrawi.

Sementara Menteri Imam secara membantah memerintahkan staf pribadinya, Miftahul Ulum untuk membahas uang pelicin dengan dua pejabat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) terkait pencairan dana hibah. [hen/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar