Iklan Banner Sukun
Olahraga

Evaluasi Porprov Jatim VII

Kendala PBSI Jember: Banyak Kehilangan Atlet Usia Remaja

Atlet bulutangkis Jember mengakhir paceklik medali porprov.

Jember (beritajatim.com) – Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Jember menargetkan prestasi lebih baik lagi dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur (Porprov Jatim) VIII tahun depan. Tahun ini mereka mengakhiri paceklik medali dan mulai diperhitungkan daerah lain.

“Kami sudah ditakuti daerah lain. Selama satu tahun ini perlu ada persiapan. Kami masih evaluasi dan perlu rapat kerja PBSI. Kami akan petakan siapa yang bisa bermain pada Porprov 2023,” kata Ketua Harian PBSI Jember Agus Hadi Santoso, ditulis Senin (4/7/2022).

Dalam Porprov Jatim VII kali ini, atlet bulutangkis Jember menyumbangkan dua medali perunggu, setelah dalam dua porprov sebelumnya tak memperoleh medali. “Ke depan kami mohon dukungan dana pembinaan di Dinas Pemuda dan Olahraga Jember. Selama ini biaya pembinaan berasal dari kantong sendiri,” kata Agus.


PBSI Jember juga sudah harus mulai memikirkan ketersediaan atlet yang siap bertanding dalam porprov. “Stok atlet kami kurang, sehingga ada satu atlet putra yang bermain di dua nomor. Sementara atlet putri memang kekurangan stok. Kami hanya bisa menurunkan empat atlet putri, padahal seharusnya enam orang,” kata Agus.

PBSI Jember akan mengajak semua klub berunding untuk membicarakan pengembangan bulutangkis ke depan. “Pembinaan yang dilakukan PBSI sebenarnya luar biasa. Tapi fenomena di hampir semua klub bulutangkis di Jember, saat memasuki usia remaja, atlet-atlet ini mendadak menghilang, tidak aktif lagi,” kata Agus.

Ini menjadi pekerjaan rumah berat PBSI. “Kami ingatkan kepada klub-klub agar pemain-pemain yang berusia remaja ini dikuatkan. Porprov ini kan atletnya rata-rata berusia taruna dan dewasa. Setelah remaja, masuk ke taruna, dan kemudian dewasa,” kata Agus.

Mengapa banyak bibit atlet yang hilang saat remaja? “Ini terkait dengan orang tua atau wali atlet. Saat usia remaja, atlet tidak bisa berprestasi menembus tingkat Jawa Timur atau nasional, wali atlet biasanya putus asa. Akhirnya patah di tengah proses. Mereka yang bertahan adalah yang punya wali atlet yang bersedia membiayai,” kata mantan anggota DPRD Jember ini.

Faktor lainnya adalah godaan kehidupan masa remaja. “Sudah ada yang berpacaran, punya rencana lain seperti hendak memasuki perguruan tinggi, sehingga tak berfokus lagi pada bulutangkis,” kata Agus.

PBSI Jember melakukan terobosan dengan membina para atlet remaja potensial dengan biaya sendiri. “Bahkan Ketua PBSI Jember Pak Ervan Priambodo membuat lapangan sendiri dan membelikan alat fitness, untuk mengangkat atlet-atlet remaja dan taruna. Kalau pembinaan usia dini dan anak-anak, itu tugas klub,” kata Agus. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev