Olahraga

Kegiatan Olahraga di Jember Kering Anggaran

Pelantikan pengurus Koni Jember periode 2018-2022 [foto: jemberkab.go.id]

Jember (beritajatim.com) – Salah satu keluhan pengurus cabang-cabang olahraga di Kabupaten Jember, Jawa Timur, selama ini adalah anggaran untuk berkegiatan. Komite Olahraga Nasional Indonesia (Koni) di bawah kepemimpinan Abdul Haris Afianto dinilai tidak mampu melobi anggaran kepada pemerintah daerah.

Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-do Indonesia Jember Sujatmiko mengatakan, selama empat tahun ini, tidak ada bantuan pembinaan kepada cabang olahraga. “Praktis cabang olahraga dalam melakukan pembinaan, seperti seleksi dan TC (Training Center) secara mandiri. Sementara Koni tidak bisa memerankan diri,” katanya, Senin (22/3/2021).

“Koni kan organisasi resmi dan ada undang-undangnya untuk mendapatkan porsi anggaran. Seharusnya bagaimana Koni melakukan pendekatan kepada pemerintah untuk mendapatkan porsi anggaran yang layak untuk pembinaan olahraga,” kata Sujatmiko. Anggaran inilah yang kemudian didistribusikan kepada cabang-cabang olahraga secara proporsional agar bisa beraktivitas.

Kondisi ini berbeda dengan saat Koni diketuai Ahmad Halim. “Terakhir waktu Pak Halim, karate mendapat Rp 30 juta untuk kegiatan kejuaraan daerah,” kata Sujatmiko.

“Mau prestasi bagaimana kalau tidak ada dukungan anggaran untuk pembinaan. Yang selama ini diterima kawan-kawan tidak memadai, langsung Dinas Pemuda dan Olahraga yang mendistribusikan dan itu menurut saya tidak tepat. Misalkan kalau ada pertandingan, dibantu transportasi saja. Transportasinya pun tidak memadai. Tapi khusus untuk kegiatan seleksi, pemusatan latihan, mendatangkan pelatih, tidak ada (dananya),” kata Sujatmiko.

Selama ini, menurut mantan legislator DPRD Jember tersebut, kegiatan pembinaan ini dilaksanakan pengurus cabor sendiri. “Sehingga prestasi tidak bisa optimal,” kata Sujatmiko

Ketua Koni Abdul Haris Afianto mengakui jika tidak ada hibah anggaran olahraga di Jember dari APBD. “Anggaran internal untuk Koni pun tidak ada. Jangankan untuk cabor. Jangankan beli sarana prasarana. Jadi itulah kesulian-kesulitan saya sebagai ketua Koni. Semua dapat anggaran, cuma saya sendiri tidak dapat anggaran,” katanya.

“Kalau orang ngomong (prestasi) Koni kok jeblok, siapapun ketuanya tanpa ada anggaran sama dengan anarkis. Ngomel tok. Mau berbuat begini tidak bisa. Mau mengadakan latih tanding, tidak bisa. Akhirnya teman-teman cabor saya suruh melatih anak-anak (binaan) sendiri untuk porprov, karena mereka tahu di Koni anggaran tidak ada sama sekali,” kata Afianto.

Kendati tidak ada anggaran, Afianto mengaku, tetap bekerja dengan penuh semangat. Dia menampik anggapan bahwa Koni tidak bekerja. “Keliru. Tiap hari kita aktif di Koni. Semua piket, tidak ada yang tidak piket,” katanya.

Afianto juga merogoh kocek pribadi setiap dua minggu sekali dengan anggaran pribadi melakukan monitor dan evaluasi (monev) terhadap cabor-cabor. “Mulai cabor bridge, Pordasi (berkuda), tarung derajat, setiap dua minggu sekali. Walau tak ada anggaran pemerintah. Kita menyiapkan anggaran konsumsi. Kalau dua minggu sekali kan saya mampu,” katanya.

“Kemarin IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) kita tandingkan terus di Kaliwates untuk mencari bibit-bibit silat. Kita adakan monev, pertandingan antarperguruan. Minggu kemarin ini monev Percasi (catur). Kita adu adik-adik kita untuk kejuaraan kecil-kecilan. Terus Minggu pada 28 Maret, kita monev paralayang di Gunung Manggar Wuluhan. Tanggal 3 April, ada monev tenis meja di GOR Bima,” kata Afianto. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar