Olahraga

Kecewa, Putus Asa, Hingga Kapok Main Bola Lagi

Usianya masih 20 tahun. Tapi siapa sangka, Fachri Firmansyah, mantan punggawa U-21 itu, harus pensiun dini dari sepakbola dan menjadi security di perusahaan swasta di Surabaya. Firman, sapaan akrabnya, memutuskan berhenti bermain bola akibat cedera ligamen lutut parah saat membela Timnas di Piala Cotif Spanyol 2014.

Saat mendatangi Firman di rumah dan tempat kerjanya, raut wajahnya masih penuh kekecewaan, penyesalan dan trauma. Terlebih ketika bicara tentang perjuangannya untuk sembuh dari cedera. Tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali rasa putus asa.

Firman mengaku sempat mengalami tekanan batin melihat cedera lutut kanannya yang tidak kunjung pulih. Tidak jarang, dirinya meneteskan air mata saat merenung sendirian. “Ya kalau mengingat peristiwa itu, ya sering (baca menangis – red) juga mas,” akunya dengan suara pelan.

Karena semua usaha sudah dilakukan. Sampai uang hasil jerih payahnya, habis dipakai biaya berobat dan terapi. Bahkan selama 5 bulan, Firman juga terpaksa harus menenangkan hatinya di Pondok Pesantren Attadzib, Ngoro, Jombang. “Saya sempat stres mas, jadi ingin menenangkan hati saja di pondok di Jombang. Dan syukur Alhamdulillah, kini saya bisa tenang,” ungkapnya tegar.

Maklum, Firman tinggal bersama keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahnya, hanya seorang peracik jamu di kawasan tempat tinggalnya di Simo Pomahan, Surabaya. Sementara Ibunya, hanya tukang jahit sandal yang tidak tentu orderan.

Oleh karena itu, demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya memutuskan untuk bekerja. Tepatnya bulan Agustus 2015 lalu. Sebelum menjadi petugas security seperti saat ini, Firman mengaku pernah menjadi satpam pabrik dan kuli angkut di sebuah perusahaan LPG.

Namun, Firman mengaku tidak kuat, terlebih sebagai kuli angkut LPG yang beban kerjanya sangat berat. “Gimana bisa kuat mas, hampir tiap hari harus angkat-angkat LPG. Terkadang bisa sampai ada 20 truk LPG dalam sehari,” kenangnya kala itu.

Anak tunggal pasangan Heri Purwoko dan Muriati itu menceritakan, pasca pulang dari Spanyol ketika timnas U-21 tampil di Piala Cotif Valencia pada 10-20 Agustus 2014 lalu, dirinya memang sempat mendapat perawatan medis dari Sriwijaya FC, klub yang menaunginya. Kala itu, Firman memang tercatat sebagai pemain Sriwijaya FC yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) U-21.

Namun apa yang sempat dijanjikan klub, tidak seperti yang diharapkan. “Saat itu memang klub (baca Sriwijaya FC-red) yang merawat. Termasuk biaya operasi. Tapi tidak di rumah sakit yang dijanjikan dengan fasilitas lengkap. Firman hanya dioperasi di rumah sakit umum M. Hoesin di Palembang,” papar Ayah Firman, Heri Purwoko kepada beritajatim.com.

Tapi setelah operasi, tidak ada tindak lanjut sehingga ia memutuskan pulang ke Surabaya. Namun bagi pemuda kelahiran Surabaya, 10 Januari 1996 itu, apa yang dilakukan Sriwijaya FC masih mending. Sebab PSSI, melalui Badan Tim Nasional (BTN) yang ketika itu menggunakan jasanya, malah seakan tutup mata. Jangankan memberi santunan atau biaya pemulihan cedera, menengok keadaannya pasca operasi pun, tidak pernah.

“Saya sudah telepon berkali-kali Mas, tapi jawabnya ya disuruh menunggu. Jadi biaya terapi ya uang sendiri. Tapi itu kan mahal mas, saya dan keluarga tidak sanggup kalau terapi setiap minggu harus tiga kali. Apalagi sekali terapi bisa sampai Rp 250 ribuan,” katanya.

Termasuk ke pemerintah, Firman juga sudah mengadu, baik ke Kemenpora maupun ke dinas olahraga Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tapi sampai saat ini, masih belum ada respon serius.

Lalu ditanya harapannya saat ini, Firman yang memiliki tubuh tegap dengan tinggi 175 cm itu, mengaku hanya ingin lututnya bisa sembuh dan berjalan normal agar bisa membantu perekonomian keluarga. “Sekarang yang penting saya bisa dapat kerja dan sembuh dari cedera agar bisa membantu keluarga saja mas. Karena cari kerja sekarang juga susah. Dan kalau bisa, saya juga ingin kuliah,” ujarnya polos.

Disinggung apakah masih ingin kembali bermain bola? Dengan tatapan kosong, Firman menjawab, “ngga mas. Saya trauma, kecewa dan kapok. Biarlah mimpi saya jadi pemain cukup sampai disini. Lebih baik saya bekerja saja”.

Perlu diketahui, bakat Firman sebenarnya sudah terlihat sejak berusia 15 tahun. Saat itu, ia sudah pernah mewakili tim Honda ke Jakarta. Bersama klub lokal Sasana Bhakti yang dipimpin oleh Suwono, Firman terus mematangkan diri.

Kemudian dari sekedar iseng nimbrung bermain bersama SIWO PWI Jatim di Gelora Bung Tomo, Dhimam Abror, mantan Ketua Harian KONI Jatim, terpukau dengan bakat Firman.

Lalu, Abror menawari Firman untuk bergabung bersama tim Pra PON Jatim. Apalagi, saat itu tim Pra PON Jatim juga ikut kompetisi Divisi III Nasional menggunakan label Perseba Bangkalan. Nah, Perseba yang saat itu juara di pentas Divisi III Nasional, membuat Sriwijaya FC U-21 kepincut.

Namun sebelumnya, Firman juga pernah masuk dalam 30 pemain yang diberi kesempatan untuk tampil di hadapan coach Indra Sjafri sebagai program penjaringan Timnas U-19. Tapi di saat karirnya sedang melambung, tidak disangka Firman harus mengalami nasib seperti ini. Saat butuh dicari bagaikan emas, saat tidak butuh, dibuang bagaikan Sampah.

Sekarang, Firman hanya bisa berpesan kepada federasi sepakbola tertinggi di Indonesia, yakni PSSI agar lebih serius memperhatikan pemain, khususnya yang rela berjuang demi membela bangsa dan negara. Agar jangan sampai, apa yang menimpanya saat ini, terulang kembali pada pemain lain. “Saya berharap PSSI dan semuanya agar lebih serius memperhatikan nasib pemain. Jangan sampai, apa yang saya alami, juga terulang kepada pemain lain,” tutupnya. [kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar