Olahraga

Jelang Porprov, Sarana dan Prasarana Olahraga Jember Belum Memadai

Kegiatan sepak bola di Stadion JSG [foto: Oryza A. Wirawan]

Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember, Jawa Timur, akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur VII tahun depan. Namun pengurus sejumlah cabang olahraga mengeluhkan sarana dan prasarana yang belum memadai.

Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-do Indonesia Jember Sujatmiko mengingatkan, prestasi bisa dicapai jika ada sarana dan prasarana yang layak. “Sampai hari ini, karate saja, bantuan matras saja tidak bisa dipenuhi. Karate tidak punya matras. Mana bisa prestasi kalau tidak ada matras? Wong pertandingan menggunakan matras. Itu ngomong sarana,” katanya.

Hal serupa juga dilontarkan Ketua Harian Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia Jember Agus Hadi Santoso. “Venue bulutangkis porprov di GOR (Gelanggang Olahraga) Argopuro yang merupakan gedung legendaris Jember. Apabila tidak diperbaiki, maka tidak masuk dalam kriteria turnamen, kita tidak bisa jadi tuan rumah,” katanya.

Menurut Agus, perlu ada renovasi bangunan hingga 60 persen. “Perlu perombakan besar karena di atas sudah bocor. Lantainya. Tribunnya perlu perbaruan semua. Catnya, lampu-lampunya. Di sebelah gedung ada kamar-kamar yang perlu diperbaiki juga. Mes atlet di Argopuro tidak layak untuk atlet,” kata mantan kegislator DPRD Jember ini.

GOR Argopuro menjadi satu-satunya arena pertandingan bulutangkis yang bisa dipergunakan untuk porprov di Jember, karena selain memiliki tiga lapangan juga memiliki tribun penonton. “Salah satu syarat adalah adanya tribun penonton. Di sana kapasitasnya bisa 400-500 orang penonton. Kalau lapangan-lapangan bulutangkis yang sekarang menjamur di Jember kan tidak ada tribun penontonnya,” kata Agus.

Kondisi GOR Argopuro yang sudah rusak di sana-sini juga menghambat latihan atlet. “Bocor semua kalau pas hujan. Tidak bisa dipakai. Kalau sudah bocor, ada air, atlet tidak berani main karena licin. Khawatir cedera, sehingga latihan tidak maksimal,” kata Agus.

Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia Jember Nanang Suprianto juga mengeluhkan sarana dan prasarana. “Dari sisi legalitas kami resmi, tapi sarana dan prasarana mungkin FPTI Jember satu-satunya yang belum punya sarana sendiri, seperti wall climbing untuk latihan. Untuk alat, kami masih ada sedikit, tapi itu masih kurang. Seadanya, masih minim,” katanya. Sekretariat pun numpang di rumah sekretaris FPTI Jember di Kecamatan Kaliwates.

Tanpa dinding panjat sendiri, atlet-atlet FPTI berlatih di dinding-dinding milik kampus dan sekolah. “Atlet di Ambuluh masih ada yang (bersekolah) di SMA Bima dan SMP Islam. Kalau untuk di Jember, ada salah satu klub di Jimerto. Ada satu keluarga yang menyulap ruang keluarganya menjadi ruang latihan tersendiri,” kata Nanang.

Selama ini dinding-dinding pajat yang dibuat berlatih memang memenuhi standar. “Tapi kalau untuk resmi untuk kejuaraan nasional masih belum,” kata Nanang.

Sementara itu, Ketua Koni Jember Abdul Haris Afianto mengakui bahwa sarana dan prasarana jadi persoalan. “Kita mengajukan anggaran untuk pembinaan sebesar Rp 6 miliar. Termasuk yang kita utamakan sarana prasarana. Jadi cabor di Jember nelangsa karena sarprasnya tidak ada. Jadi kayak selam tidak punya tabung kan kasihan. Untuk latihan mereka menyewa. Sangat prihatin sekali karena tidak anggaran,” katanya.

Padahal untuk porprov, lanjur Afianto, semua venue atau arena pertandingan di Jember sangat prospektif. “Semua venue masuk. Pendapat tim monitoring Koni Jatim, seandainya mau mengadakan porprov sendiri, Jember mampu. Dilihat dari sarana, prasarana, transportasi dan logistiknya satu kabupaten mampu untuk mengadakan porprov sendiri,” katanya.

Namun, Afianto menambahkan, masih perlu ada pembenahan. “Kami mau menghadap bupati terkait atletik. Setelah dilihat tim monitoring venue Koni Jatim, Stadion JSG bagus. Cuma di sekelilingnya, lapangan kurang ada gravel untuk lomba lari 100 dan 200 meter. Nanti kami ajukan ke bupati (agar dibuatkan) gravel itu. Di tepi-tepi juga diminta (bisa untuk arena lomba) lompat tinggi dan lompat jauh. Jadi persiapan kita sudah matang,” katanya.

GOR Argopuro juga perlu dibenahi. “Lampunya kurang terang. Toiletnya kurang. Sudah kami catat semua kelebihan dan kekurangannya. Pokoknya kita ready, tinggal jalan. Tinggal meningkatkan kualitas atlet dengan TC (Training Center). Tapi karena TC tidak ada anggaran, akhirnya kita tunda terus. Sebenarnya pada 2019 kita sudah ready untuk TC dan kita sudah menyiapkan anggaran untuk nutrisi, vitamin, psikolog dalam permohonan anggaran,” kata Afianto. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar