Iklan Banner Sukun
Olahraga

Jadi Tempat Kualifikasi Indonesia – Timor Leste, Gelora Bung Tomo Mengalami Pembenahan

Surabaya (beritajatim.com) – Kali ini surabaya menjadi kota yang terpilih sebagai tempat berlangsungnya babak Piala Asia U-20 2023 Grup F. Inilah yang membuat Gelora Bung Tomo mengalami pembenahan mulai dari penguatan sinyal provider, penambahan CCTV, tribun penonton, ruang wartawan, akses jalan, menghilangkan bau tempat pembuangan akhir (TPA), dan pemberian akses fasilitas petunjuk jalan ke area Stadion GBT.

Khusus untuk fasilitas rambu penunjuk arah memang menjadi bentuk tindak lanjut dari survei dari Pemkot Surabaya dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Asosiasi Provinsi (Asprov) Jawa Timur. Maka dari itu, pemasangan rambu dibuat sesuai dengan kecepatan kendaraan menuju ke Stadion GBT. Dalam pemasangan rambu, adanya bantuan dari Dishub Kota Surabaya dengan mengecat marka jalan ke area Stadion GBT.

Selain ada penunjuk jalan ke area stadion, Pemkot Surabaya memberikan akses penunjuk jalan ke dalam GBT. Tujuan dari penunjuk jalan supaya penonton yang berasal dari luar Surabaya lebih mudah masuk ke stadion. Didalamnya terdapat keterangan jalur untuk area VIP, pintu masuk tim official (team entrance) dan area penonton (spectators area).

Sebelumnya, Gelora Bung Tomo sering menjadi tempat pertandingan seperti BRI Liga 1 (pertandingan antara Persebaya dan Persita). Bahkan, Gelora Bung Tomo merupakan markas baru dari klub Liga 1 Indonesia, Persebaya Surabaya.

Walaupun begitu, memang benar bahwa Gelora Bung Tomo lebih dikenal sebagai tempat pertandingan sepakbola. Tapi nyatanya, Stadion GBT terdapat fasilitas lintasan atletik dengan standar internasional sehingga dapat dijadikan tempat latihan atau pertandingan oleh atlet cabang tersebut. Lintasan atletik di GBT memiliki 8 jalur dengan panjang lintasan 400 meter.

Sedangkan untuk masalah bau sampah di sekitar Stadion GBT memang bukan sesuatu yang baru terjadi. Pasalnya, Stadion GBT diresmikan pada Agustus 2010 silam dan lokasinya memang tidak jauh dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. TPA itu sudah ada sejak 2001 dengan luas 37,4 hektar.

Hingga pada 2015 PT Sumber Organik (PTSO) memanfaatkan sampah dari TPA Benowo sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Tindakan ini bahkan dianggap diklaim terbesar dan pertama di Indonesia. (PRD/ian)

Apa Reaksi Anda?

Komentar