Olahraga

Inilah Daftar Buku Sepak Bola Lokal Pilihan Bonek Writer Forum

Foto: Ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Literasi sepak bola mulai tumbuh di Indonesia. Buku-buku bacaan dengan tema sepak bola mulai bermunculan beberapa tahun terakhir. Semuanya memperkaya pengetahuan dan informasi mengenai dunia sepak bola.

Kali ini, Bonek Writer Forum (BWF) mengeluarkan daftar buku sepak bola yang direkomendasikan untuk dibaca oleh fans sepak bola Indonesia. Bonek Writer Forum adalah forum yang menghimpun penulis-penulis sepak bola dengan beragam latar belakang, mulai dari jurnalis, dosen, mahasiswa, PNS, hingga pengusaha. Mereka semua mencintai dunia penulisan dan mencintai sepak bola nasional, terutama Persebaya Surabaya.

Buku-buku ini ditulis oleh sejumlah penulis lokal, sebagian adalah wartawan. Masing-masing menghadirkan narasi beragam tentang sepak bola yang menunjukkan bahwa ini lebih dari sekadar permainan.

1. Persebaya and Them, Dhion Prasetya (2018)
“Buat penggemar Persebaya, buku ini wajib dibaca karena mengulas semua pemain asing Persebaya sejak Ligina I,” kata Iwan Iwe, salah satu anggota BWF, yang mengelola situs berita emosijiwaku.com.

2. Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut, Miftakhul F.S. (2018)
“Saya suka gaya tulisannya. Pertama faktor isi yang memang dekat dengan saya sebagai pembaca. Kedua soal gaya tulisan yang renyah, mengalir, dan mudah dipahami. Bahasanya pun tidak berat. Membacanya seperti mendengar Fim sedang bercerita,” kata Muhammad Syafaruddin, anggota BWF yang juga mantan wartawan beritajatim.com.

3. Niac Mitra: Klub Karyawan yang Juara Galatama, Sidiq Prasetyo (2018)
“Lumayan lengkap ulasannya. Ini sebuah buku yang bisa memberikan gambaran yang rinci mengenai sejarah, perkembangan, dan bubarnya klub besar seperti Niac Mitra. Hal lain yang saya suka dari buku ini adalah adanya data-data statistik dalam kompetisi Galatama yang diikuti Niac Mitra,” kata Iwan Rachmadi, salah satu anggota BWF.

4. Jalan Lain Ke Tulehu, Zen Rahmat Sugito (2014)
Buku ini ditulis dalam bentuk novel, bercerita tentang konflik di Maluku. “Di tengah kecamuk konflik, sepak bola menjadi jalan bagi anak-anak untuk menjauh dari konflik berdarah itu untuk tetap waras dengan bergembira di lapangan hijau. Pada akhirnya sepak bola bukan hanya menerbitkan kebahagiaan bagi anak-anak itu, tapi juga menyatukan masyarakat Maluku yang sempat berkonflik,” kata Miftakul F.S., penulis buku dan mantan wartawan Jawa Pos.

“Dengan ditulis dalam bentuk novel dan yang nulis Zen RS yang bagi saya -kini- merupakan salah satu penulis terbaik di Indonesia, rugi kalau kita tidak membacanya,”: kata Miftakhul.

5. Sepakbola: The Indonesian Way of Life, Anthony Suton (2017)
“Penulis yang merupakan warga negara Inggris dapat melihat dan menggambarkan sepakbola Indonesia dari perspektif lain, yaitu perpaduan antara kecarutmarutan kompetisi dan gairah positif yang sama ketika sepakbola belum menjadi sebuah Industri,” kata Andhi Mahligai, pentolan Bonek Jabodetabek.

6. Politik dan Sepak Bola, Srie Agustina Palupi (2014).
“Buku ini merupakan karya awal yang mengulas sepak bola Indonesia dari masa kolonial sampai tahun 1942 dalam perspektif historis. Perlawanan kuktural melalui sepak bola turut menyumbangakan keindonesiaan melalui PSSI yang dibentuk 1930,” kata Rojil Nugroho Bayu Aji, sejarawan sepak bola Surabaya.

7. Simulakra Sepak Bola, Zen Rahmat Sugito (2016)
“Zen mampu mempertemukan dua hal, yang bagi saya terasa begitu personal. Pertama, Sejarah, karena dengan ilmu ini, saya merasa dipupuk dan dibentuk secara intelektual selama kuliah. Kedua, tentu saja sepak bola, karena sejak kecil,bahkan hingga sekarang, sepakbola banyak memberi saya kebahagiaan, cinta, bahkan identitas. Dengan membaca tulisan-tulisan Zen selama ini, saya pribadi merasa ada keterwakilan perasaan, ada passion yang kuat terhadap sejarah dan sepakbola,” kata Rossi Rahardjo, pemimpin redaksi Kabar Madura.

8. Imagined Persebaya, Oryza A. Wirawan (2015)
“Buku ini keren dan komprehensif. Tidak hanya berisi opini, buku ini menjadi ‘basah’ karena liputan langsung. Semisal kisah Oryza yang hadir menonton Liga Primer Indonesia mempertemukan Persebaya melawan Persija di awal Juni 2012. Tak direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya menonton pertandingan itu, pilihannya membawa kepada sejarah: bentrok suporter dan polisi berhias gas air mata. Tapi, ‘keikutsertaan’-nya dalam peristiwa ini membuka mata pada sudut pandang lain. Betapa Bonek tak lagi menjadi momok menakutkan bagi warga Tambaksari dan sekitarnya,” kata Jojo Raharjo, mantan jurnalis yang sekarang bekerja di Sekretariat PSSI.

9. GO 8: Hari Ini Pasti Menang, Swastika Nohara dan Estu Ernesto (2013)
“Komik ini memiliki kesan yang mendalam, terkait dengan masa kecil. Komik GO 8 ini sebenarnya rangkaian dari project besar film Hari Ini Pasti Menang (HIPM) yang disutradari Andibachtiar Yusuf. Ceritanya sangat sederhana: seorang bocah yang bermimpi jadi pemain bola nasional. Pendekatan estu sangat Indonesia, runut, dan mudah dipahami tapi tak membosankan,” kata Bagus Priambodo, jurnalis TVOne.

Menurut Bagus, komik ini sebenarnya merupakan prekuel film HIPM. “Rasanya ini bisa menjadi Captain Tsubasa versi Indonesia. Saya pernah membaca komik bola Indonesia lainnya, tapi pendekatannya terlalu mirip Tsubasa, jadi malah tidak menarik. Sayangnya cuma satu  edisi. Coba dibikin paling tidak 16 edisi macam drakor, kayaknya tokoh GO8 bisa lebih berbobot,” katanya.

10. Tamasya Bola, Darmanto Simaepa (2016)
“Saya senang kisah-kisah sepak bola yang terasa dekat dengan kehidupan sosial. Semacam sepak bola jadi gambaran manusia-manusia yang hidup di dalamnya,” kata Yamadipati Seno, pengelola situs Mojok.

11. Bola di Balik Bulan, Sindhunata (2002)
“Buku ini membicarakan sepak bola bukan hanya sebagai pertandingan, namun juga kisah. Ada cerita dan refleksi tentang manusia dan kemanusiaan di lapangan bola,” kata Obed Bima Wicandra, dosen UK Petra.

12. Inside Wing, Ryan Tank (2018)
“Saya pertama kali belajar taktik sepak bola lewat buku ini. Buku ini bagus buat mereka yang ingin belajar taktik. Habis saya baca, buku ini sempat saya limpahkan ke pemain. Mereka baru bilang belajar taktik lewat buku, dan mengerti,” kata Dianita Iuschinta, salah satu anggota perempuan BWF yang bergelut di dunia psikologi. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar