Iklan Banner Sukun
Olahraga

Ini Penyebab Negara Timur Tengah Jadi Lawan Berat Bagi Timnas Indonesia

(Foto: Twitter, @PSSI)

Surabaya (beritajatim.com) – Timnas Indoensia U-23 saat ini sedang berjuang untuk masuk putaran final Piala Asia AFF U-23. Setelah berhasil mengalahkan Cina Taipei dua leg beruntun, kemarin mereka baru saja kalah 3-2 dari Timnas Australia di leg pertama.

Ketika bermain di kancah Piala Asia AFF atau di kualifikasi piala dunia, kerap kali Timnas Indonesia bertemu tim dari Timur Tengah pasti kesulitan. Bahkan sering kali kalah. Berbagai faktor berikut ini menjadi alasan dari kesulitan Timnas Indonesia ketika menghadapi negara Timur Tengah.

Postur Tubuh

Tidak bisa diragukan lagi, jika masalah postur tubuh telah menjadi cerita lama. Memang mesti diakui jika faktor genetik penduduk Indonesia cukup berpengaruh terhadap kemajuan sektor sepak bola. Perbandingan tinggi pemain pun cukup jauh. Jika tinggi badan rata-rata laki-laki 3 Indonesia hanya 160 sentimeter, sedangkan Rata-rata tinggi badan laki-laki dari timur tengah bisa mencapai 173 centimeter.

Pengakuan Bek Timnas

Sebagaimana diakui secara langsung oleh bek Timnas Indonesia U-16 yaitu Alexandro Felix Kamuru. Bahwa ihwal kekalahan Timnas Indonesia U-16 melawan timnas UEA U-16 pada tanggal 24 Oktober 2020 lalu, dilatarbelakangi oleh kalahnya postur tubuh pula. Felix Kamuru mengaku “Kami juga kalah dari segi postur tubuh. Sebab, pemain mereka punya postur yang tinggi. Saya kecewa. Namun, kedepan saya bersama Timnas Indonesia U-16 akan berusaha untuk tampil lebih baik lagi,” terang pemain yang kini membela Barito Putera itu.

Punya fisik yang lemah

Kondisi fisik pemain Timnas Indonesia juga selalu sorotan. Hal ini dikarenakan skuad garuda kerap gagal tampil prima selama 90 menit. Hal tersebut nampak kala Timnas Indonesia kalah telak dengan skor 0-5 dari UEA dalam pertandingan terakhir di Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G, bulan Juni 2021.

Lantas, kondisi fisik menurun membuat tim lawan mudah dalam memenangi pertandingan. Setidaknya itu yang terjadi saat Timnas Indonesia semakin terpuruk dengan kebobolan hingga 3 gol di babak kedua.

Konsentrasi

Karena terpengaruh faktor stamina yang kendur membuat konsentrasi skuad Garuda juga turut tak karuan. Contoh saja ketika melawan Oman sebelum melakoni pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Tim asuhan Sin Tae Yong selalu kebobolan menjelang babak usai, yaitu di menit ke-40, 77, dan 88. Catatan ini jadi tanda bahwa konsentrasi pemain timnas Indonesia, khususnya di akhir pertandingan cukup lemah melawan tim-tim dari Timur Tengah.

Selain beberapa hal itu, kekalahan Timnas Indonesia terjadi akibat kebiasaan negara Timur Tengah yang suka mengulur waktu. Pada saat era Luis Milla, Indonesia dirugikan dengan kebiasaan ini.

Dengan cekatan negara Timur Tengah mengulur waktu, entah pura-pura cedera atau akting kaki kram. Sehingga, itu membuat Indonesia dirugikan karena para pemain membutuhkan waktu guma menyamakan kedudukan. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar