Olahraga

Emosi dan Kecewa Tim Sepakbola Porprov Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Buntut mundurnya tim sepakbola Banyuwangi di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Jawa Timur masih menimbulkan teka-teki. Rasa penasaran mengenai permasalahan itu memuncak di benak punggawa hingga official tim tersebut.

Ujungnya, sejumlah pemain dan official itu mendatangi kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyuwangi. Mereka bermaksud mencari kejelasan sekaligus jawaban atas kegundahan yang mereka rasakan.

Nasrul, asisten pelatih tim sepakbola Porprov Banyuwangi mengatakan, hingga kini pihaknya merasa tak percaya akan kegagalan timnya bermain di level provinsi itu. Bahkan, dirinya mengaku kecewa dengan kondisi tersebut.

Para kontingen putra Banyuwangi itu bahkan telah menyiapkan sejumlah pertanyaan ke pengurus KONI. “Kami datang ke sini untuk mencari tahu kejelasan dan jawaban mengenai sebab tim ini. Karena selama ini kami merasa semangat, perjuangan kita telah tercurahkan untuk mengharumkan nama daerah ini telah dihancurkan, kami merasa dikecewakan, itu yang pertama”.

“Kemudian, kenapa bisa kekurangan pemain yang berakibat mundur dari Porprov. apakah pengurus maupun KONI Banyuwangi tidak memberikan pemberitahuan mengenai kekurangan pemain itu ke pengurus? Padahal yang kita tahu, kita sudah ikut Pra Porprov itu yang terdata 23 pemain, bahkan ada yang jadi top skor, kok yang terdaftar cuma 14, dan ujunganya kita dibantai Sidoarjo 5-1,” katanya saat audiensi di kantor KONI Banyuwangi, Rabu (24/7/2019).

Selain itu, kata Nasrul, ada pertanyaan yang mengganjal dirinya dan pemain. Yaitu mengenai transparansi anggaran transport yang dijanjikan oleh official tim. “Dari awal sejak dari Lumajang pra Porprov, kita sudah 14 kali latihan tidak ada transport yang dijanjikan. Padahal, mereka sudah mengatakan akan transport. Tapi selama ini hak kita tidak pernah dipenuhi. Katanya ada perpertandingan Rp 100 ribu, tapi tidak ada,”

“Kita pernah diberi Rp 100 ribu untuk uang latihan dan setelah di sana (Tuban) kita dikasih lagi Rp 50 ribu. Jaket kita juga suruh beli sendiri. Biaya laundry perlengkapan juga ditanggung sendiri,” ungkapnya.

Pertanyaan tersebut ditanggapi langsung oleh tiga pengurus KONI Banyuwangi. Di antaranya, Sekretaris KONI Banyuwangi Mukayin, Wakil Ketua KONI, Bonavita Budi Dwijayanto, Ketua Bidang Anggaran KONI, Abdus Sakur.

Sekretaris KONI Banyuwangi Mukayin, menjelaskan, Porprov 2019 beda dengan yang lalu atau sebelumnya. Mengenai pendaftaran pemain, KONI Banyuwangi telah berulang kali mengingatkan semua pengurus cabang olahraga, termasuk Asosiasi Kabupaten, PSSI Banyuwangi.

“Jadi ada beberapa tahapan. Benar tidak salah kalau kita memang mendapat email susunan pemain sepakbola yang terdaftar sebanyak 23 pemain. Tapi, KONI sebagai fasilitator pendaftaran melakukan registrasi ulang sesuai aturan yakni harus mengirimkan dokumen berupa foto, KTP, KK, Ijazah dan Akte. Pendaftaran melalui online yang dikordinir melalui KONI,”

“Setelah itu, kita sampaikan lagi kepada cabor untuk mengecek ulang atletnya yang didaftarkan. Termasuk sepakbola kita sudah ingatkan. Waktu itu, dari 23 pemain hanya 14 yang melengkapi dokumen,”

Selanjutnya, kata Mukayin, pihaknya mengingatkan kembali ke PSSI Banyuwangi. Akan tetapi jawaban yang didapat justru menyepelekan.

“Benar pemain sepakbola ini hanya 14? Jawaban dari PSSI, gampang kita sudah ikut pra Porprov nanti kalau kurang bisa menyusul. Akan tetapi, kenyataannya pada hari H sebelum keberangkatan, Pak Eko Asisten Manager telpon katanya kekurangan pemain,” ucapnya.

Saat itu pula, Mukayin yang juga Ketua Kontingen Porprov Banyuwangi memberikan solusi. Salah satunya mengupayakan penambahan pemain baru di luar pemain yang terdaftar.

“Kita sudah mati-matian mendobrak pintu panitia Porprov di Surabaya. Akhirnya ada tambahan 10 pemain sementara yang dapat ID Card. Tapi, waktu pelaksanaan muncul masalah baru, ternyata dari 14 pemain yang terdaftar tersebut yang dibawa pelatih hanya 9 pemain,” terangnya.

Sehingga, KONI Banyuwangi memutuskan untuk memulangkan tim sepakbola porprov meski masih ada 3 kali pertandingan penyisihan grup. Pasalnya, jika dipaksakan hanya akan menjadi bulan-bulanan tim lain.

“10 pemain yang terdaftar juga tidak bisa dimainkan karena sesuai regulasi memang tidak boleh. Waktu dari Technical Deligate (TD) tim lain juga melakukan intervensi bahwasanya ada pemain Banyuwangi yang tidak masuk daftar,” ucap Bonavita Budi Dwijayanto.

Selesai masalah pemain, KONI Banyuwangi juga menjawab pertanyaan mengenai anggaran maupun uang transport pemain. “Jadi begini, sekali lagi Porprov ini bukan seperti sebelumnya. Dulu dananya ditangani KONI. Tapi kali ini beda. Riwayatnya, Porprov 2019 ini KONI bersama cabor telah mengajukan Rp 12 M ke pemerintah daerah, tapi hanya disetujui Rp 2,75 M,”

“Berdasarkan itu, KONI merasa berat, kita mengundang Cabor untuk memecahkan masalah itu. Bahkan, sempat ada rencana KONI tidak memberangkatkan ke Porprov waktu itu. Sehingga muncul sejumlah opsi. Opsi pertama dana murni dikelola KONI kekurangan ditanggung cabor. Opsi kedua, dana langsung diberikan ke cabor sebagaimana biasa,” imbuh Mukayin.

Atas opsi tersebut, cabor memilih opsi kedua. “Anggaran diserahkan ke cabor sesuai ploting masing-masing, termasuk keberangkatan diserahkan ke cabor. Karena, KONI Provinsi menghendaki semua tanggungjawab pelaksanaan dan pendaftaran itu dari kita, sehingga KONI bersedia menjadi fasilitator untuk pendaftaran,” jelasnya.

Soal ploting anggaran PSSI Banyuwangi, Mukayin menjelaskan, anggaran tahun ini senilai Rp 61,5 juta. Dana itu, di luar dana operasional yang diberikan KONI Provinsi Jawa Timur.

“Jadi beda, KONI Banyuwangi kasih dana senilai itu untuk cabor, ya yang mengatur cabor sendiri. Sementara ada dana operasional saat pertandingan di Porprov. Nilainya Rp 100 ribu dikalikan jumlah pemain dan official, dikali jumlah pertandingan sebanyak 5 hari. Waktu itu, pemain sepakbola Banyuwangi ada 14 ditambah 4 official sehingga ketemu Rp 9 juta, itu sudah saya serahkan ke Pak Eko sebelum tim pulang ke Banyuwangi,” terangnya.

Mendengar penjelasan ini, pemain dan official merasa lega. Titik terang benang permasalahan mulai tampak. Sehingga, pertanyaan serta penasaran atas kegalauan punggawa tim Laros Banyuwangi terjawab. Mereka menerima dengan legawa.

“Saya tidak mau menyalahkan siapa tunjuk siapa. Setidaknya dari sini anda semua tahu titik permasalahannya di mana. Masalah pendaftaran pemain sudah jelas, masalah anggaran juga sudah transparan. Sehingga, kalau ada katanya manajer tidak pernah mendapat uang dari KONI memang betul. Karena uang dari KONI sudah kita serahkan ke ASKAB PSSI Banyuwangi. Makanya, kalau yang janji mau kasih uang ke njenengan ya minta ke mereka,” tutupnya. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar