Olahraga

Bupati: Persid Milik Masyarakat Jember, Haram Dijual!

Logo Persid Jember

Jember (beritajatim.com) – Klub sepak bola Persid yang saat ini berada di Liga 3 tetap akan berdomisili di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Siapapun yang menjadi pengelolanya tak boleh memindahkan klub berjuluk Macan Raung ini dari Jember.

Demikian keputusan Bupati Hendy Siswanto, menyusul diserahkannya pengelolaan Persid dari Yayasan Persid Jember kepadanya. “Tidak boleh ada satupun orang yang memiliki Persid. Persid milik Jember dan Pemerintah Kabupaten Jember wajib mengayomi,” katanya kepada beritajatim.com, Minggu (13/6/2021).

Pernyataan Hendy ini sejalan dengan keinginan publik sepak bola di Jember. Denny Ariyanto, salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI Jember, berharap Persid tidak jadi milik perseorangan dan tidak diperjualbelikan. “Persid milik masyarakat. Jangan seperti klub kota lain yang dijual lalu dibawa ke kota lain,” katanya.

Pindah domisili alias home base dengan berganti nama menjadi hal lazim dalam sepak bola Indonesia. Lisensi klub sepak bola bisa berganti pemilik dan pindah ke kota lain karena proses akuisisi. Salah satunya Jember United yang diakuisisi PT Patriots Pamenang Majapahit dan berubah nama menjadi AC Majapahit. Markasnya pun berubah dari Jember ke Mojokerto.

Hendy menegaskan, Persid tidak boleh keluar dari Jember atau diakuisisi siapapun. “Ini haram terjadi di Jember. Intinya Persid itu milik masyarakat Jember dan pemkab wajib hadir,” katanya. Nantinya akan ada penegasan hal tersebut dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yayasan agar tidak menjadi milik pribadi.

Sikap Hendy ini menutup kisah drama dualisme yang sempat terjadi di tubuh yayasan antara kepengurusan yang diketuai Sholahuddin Amulloh alias Jo dengan Sunardi. Dualisme ini membuat Persid terancam tidak bisa mengikuti Liga 3 tahun ini, karena PSSI Jawa Timur meminta agar ada penyelesaian lebih dulu.

Bupati lantas mengusulkan agar yayasan diserahkan sepenuhnya kepadanya dan dipilih personel baru yang akan mengisi dewan pembina, dewan pengurus, dan dewan pengawas. Jika Yayasan Persid Jember tidak bersedia, maka bupati akan membuat rumah baru berupa yayasan baru untuk menaungi klub baru yang akan berlaga di Liga 3.

Semula, dalam surat pertamanya, Suparno menolak pembubaran yayasan dan meminta agar perombakan hanya dilakukan pada dewan pengurus dan dewan pengawas. Namun surat tersebut memicu perdebatan di dalam tubuh dewan pembina sendiri. Akhirnya dikirimkan surat kembali yang merevisi surat pertama tadi.

Dalam surat tertanggal 9 Juni 2021 itu, dewan pembina menyerahkan Yayasan Persid Jember kepada bupati. Kedua, Dewan Pembina sepakat meminta bupati menjadi ketua pembina Yayasan Persid Jember. Ketiga, memberikan kewenangan sepenuhnya kepada bupati untuk menyusun kembali atau mengganti personel yang ada dalam Yayasan Persid Jember. [wir/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar