Iklan Banner Sukun
Olahraga

Budaya Bertukar Jersey di Sepakbola dan Segala Hal Tentangnya

(Foto: This Is Zun, pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Sebuah budaya di sepakbola yang menarik untuk dibahas yaitu tukar jersey. Fenomena ini tidak hanya dapat terlihat pada ajang sepakbola Internasional, di Indonesia pun banyak yang pernah melakukan budaya bertukar jersey.

Budaya ini biasanya dilakukan sebuah tim yang jarang bertemu atau saat seorang pemain biasa bertemu pemain bintang. Dilansir dari FIFA, praktik bertukar jersey yang pertama kali terekam jejaknya adalah saat laga Prancis kalahkan Timnas Inggris dengan skor 5-2 di tahun 1931. Saat itu, skuad Prancis meminta ke Inggris untuk bertukar jersey, sebagai tanda atau oleh-oleh atas kemenangan bersejarah Les Bleus kala itu.

Sementara, salah satu praktik bertukar jersey paling ikonik terjadi antara Pele dan Bobby Moore setelah laga Brasil melawan Inggris di Piala Dunia 1970. Foto keduanya begitu terkenal di kalangan para pecinta sepakbola.

Dalam proses tukar jersey ternyata juga ada beberapa metode. Pemain bisa saling membuat janji dahulu dengan pemain lawan yang berkeinginan saling bertukar saat laga belum dimulai. Atau mereka baru diskusi dan mengajak bertukar jersey secara spontan di lapangan, usai peluit panjang dibunyikan.

Menariknya, banyak sekali cerita unik soal praktik ini. Misalnya yang terjadi pada Cristiano Ronaldo pernah menolak ajakan Robin Gosens. Lalu, Lionel Messi yang juga pernah nolak ajakan Alphonso Davies, saat Barça dibekuk Bayern Munchen dengan skor 2-8 tahun lalu.

Bahkan, sosok antagonis seperti Roy Keane pernah ditolak Matthias Sammer, padahal waktu Keane hanya ingin melakukan sebagai formalitas saja. Karena kejadian itu, Keane pun jadi trauma untuk melakukan bertukar jersey dengan pemain lain.

Ada pula proses bertukar jersey yang dilakukan justru pada saat jeda babak pertama. Ini dipraktikkan oleh Balotelli dan Pepe pada Liga Champions musim 2014. Terkadang, ada juga pemain yang berebut jersey pemain lain. Ini terjadi karena pemain yang diinginkan jerseynya memang memiliki nama besar atau menjadi legenda sepakbola.

Contohnya, saat Inter Milan menjamu Arsenal di Liga Champions musim 2000-an, Javier Zanetti dan Marco Materazzi pernah berdebat sengit karena ingin bertukar jersey dengan Thierry Henry. Untuk fenomena ini sebenarnya seringkali terjadi. Di Indonesia misalnya, terjadi saat Andik Vermansah yang mendapat baju David Beckham, atau Eduardo Camavinga yang sampai menolak untuk mencuci jersey Cristiano Ronaldo.

Itulah budaya unik di lapangan hijau, bertukar jersey antar pemain demi mengenang pertandingan, formalitas, bahkan sebuah impian kebanggaan. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar