Olahraga

Bonek Writer Forum Malam Ini Diskusikan Sepak Bola dan Perang

Jember (beritajatim,com) – Diskusi dalam jaringan (online) Bonek Writer Forum memasuki putaran keempat, Sabtu (16/5/2020) malam. Dalam putaran terakhir ini, Bonek Writer Forum akan berdiskusi dengan tema ‘Sepak Bola itu Tragedi, Perang, dan Solidaritas’.

Pembicara kali ini adalah Obed Bima Wicandra (Dosen Universitas Kristen Petra), Hari Setiawan (jurnalis), dan Andhi Mahligai (Bonek Jabodetabek). Diskusi via zoom ini dimulai pada pukul 20.00 WIB dan terbuka untuk umum. “Silakan mendaftar ke: 08121620272 atau langsung ke sini: https://bit.ly/registCOK_BWF untuk mendapatkan kode akses ke Zoom,” kata Rojil Nugroho Bayu Aji, moderator diskusi.

Hari akan menyampaikan beberapa aksi solidaritas insan sepak bola dalam kasus gempa Palu Donggala, kisah Martunis dan Ronaldo, dan sedikit solidaritas pemain dunia untuk korban topan Haiyan Filipina. “Intinya pemain dan tim sepak bola itu juga punya solidaritas kemannusiaan yang tinggi,” katanya.

Andhi akan membeberkan, bahwa sepakbola tidak selalu diwarnai cerita yang indah. “Sejarah mencatat di tahun 1969 karena sepakbola timbul perang antara Honduras dengan El Salvador,” katanya.

“Berawal dari intimidasi menjelang pertandingan oleh pendukung Honduras di Leg 1, melebar menjadi kerusuhan masal dan sentimen negatif di antara kedua negara. Puncaknya adalah pemutusan hubungan diplomatik dan  meletusnya perang 100 jam dengan ditandai invasi udara dari militer El Salvador,” kata Andhi

Akibat dari perang ini, empat ribu warga kedua negara meninggal. “Ribuan warga Honduras tak memiliki rumah karena infrastruktur hancur. Sebanyak 130 ribu warga El Savador kembali ke negaranya yang kemudian memunculkan konflik sosial baru, sehingga terjadi perang saudara di sana,” kata Andhi.

Menurut Andhi, sepakbola hanyalah pemicu. Akar masalah sebenarnya adalah masa lalu yang bermasalah di antara kedua negara terkait wilayah dan penduduk, sentimen ekonomi akan kedatangan pendatang, dan adanya UU Reformasi Agraria yang mengokupasi tanah warga El Savador di Honduras.

“Dari sejarah tersebut kita dapat belajar, bahwa ketika sepakbola dipolitisasi, permainan yang indah ini dapat memunculkan sifat-sifat terburuk dari manusia, yaitu rasa kebencian pada liyan, ultra nasionalis dan chauvinisme,” kata Andhi.

Sementara itu, Obed akan merefleksikan tragedi Heysel yang melibatkan fans klub legendaris terbaik Inggris, Liverpool pada 1985. “Tiap tragedi akan selalu ada pelajaran, termasuk bagaimana penanganan setelah tragedi. Menimpakan seluruh kesalahan pada suporter tentu tidak bijaksana. Mengatakan suporter sebagai ‘penyakit dan perusuh’ bukanlah pilihan kata yang bagus untuk membenahi sepak bola,” katanya. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar