Iklan Banner Sukun
Olahraga

Porprov Jatim VII

Bertengkar-tengkar Dahulu, Kawinkan Emas Wushu Kemudian

Tim wushu Jember dalam Porprov Jatim VII

Jember (beritajatim.com) – Keberhasilan kontingen Kabupaten Jember mengawinkan emas nomor duilian putra dan duilian putri dalam cabang olahraga wushu taolu dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur (Porprov Jatim) VII diawali dengan kerja keras yang diwarnai pertengkaran, air mata, dan keputusasaan.

Lisa Meilinda, manajer tim wushu Jember, ingat betul bagaimana susahnya menyatukan Muhammad Naufal Aryasatya Ardhani (16 tahun) dan Jovan Purnomo (14 tahun) untuk berduet dalam duilian putra, dan Khiara Kasih Halena (16 tahun) dan Sybil Ramadhani (15 tahun) untuk berpasangan dalam duilian putri.

Mereka berlatih keras dalam pemusatan latihan di Jember dan Surabaya pada Mei-Juni. Gemblengan keras diperlukan karena pada dasarnya jurus duilian bukanlah jurus yang biasa dipelajari oleh empat remaja tersebut. Dalam satu hari, mereka bisa berlatih hingga lima kali. Mereka hanya beristirahat untuk makan dan mengambil napas.

Kerasnya latihan membuat empat remaja itu sempat menangis. Mereka merasa lelah dan jenuh. “Saat di Surabaya, mereka bilang ingin pulang. Kami menekankan kepada mereka untuk tetap berfokus. Kami harus memotivasi mereka. Sedikit lagi. Sebentar lagi porprov, dan mereka diingatkan tujuan awal berlatih,” kata Lisa.

Tak hanya lelah karena berlatih, emosi khas remaja yang labil juga sempat membuat terjadi beberapa kali pertengkaran. Padahal seni tarung seperti duilian membutuhkan kekompakan. Perasaan yang naik turun membuat terkadang urusan sepele bisa memicu pertengkaran. “Seperti misalnya senjata salah satu anak mengenai badan kawannya. Itu kemudian bikin tidak mood. Dalam nomor duilian, itu sering terjadi,” kata Lisa.

“Sehari sebelum bertanding, Naufal dan Jovan sempat bertengkar. Tidak saling sapa. Tim pelatih akhirnya mengajak mereka bicara dan mendamaikan,” kata Lisa.

Kerasnya jalan yang harus ditempuh, membuat tangis empat remaja itu pecah begitu dinyatakan sebagai pemenang dan menyabet medali emas. “Kerja keras mereka terbayar impas,” kata Lisa.

“Penampilan mereka luar biasa. Lawan-lawannya juga tak mudah. Yang jadi keunggulan anak-anak adalah mereka bermain benar-benar bagus, istimewa, dan justru lebih bagus daripada waktu latihan,” kata Lisa Meilinda, manajer tim wushu Jember.

Menurut Lisa, dua pasangan tersebut sangat minim melakukan kesalahan. Ini membuat hasilnya lebih unggul daripada yang lain.

Pertandingan wushu berakhir pada Senin (27/6/2022). Sembilan atlet Jember berhasil menyabet 3 medali emas, 1 perak, dan 7 perunggu. Capaian ini melampaui target 2 emas, 1 perak, dan 2 perunggu dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Jember dan hasil Porprov 2019 di Lamongan.

“Saat itu kami hanya mendapat satu medali perunggu dari wushu taolu dan satu perunggu dari wushu sanda,” kata Lisa.

Lisa berterima kasih kepada Ketua Wushu Indonesia Jember, Bambang Siswanto alias Kwang, yang memberikan dukungan penuh. “Pak Kwang, luar biasa. Sejak awal persiapan, beliau mendukung habis-habisan. Hari ini pun beliau hadir di Balai Serbaguna untuk mendukung dan menyaksikan langsung perjuangan para atlet,” katanya. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar