Olahraga

Babak Belur di Bangkok, Ini Evaluasi PBSI

Jakarta (beritajatim.com) – Alih-alih merebut gelar sebanyak-banyaknya, Indonesia hanya membawa pulang satu gelar di Asian Leg yang berlangsung di Bangkok. PBSI mengakui tak capai target.

PBSI datang ke Bangkok dengan kekuatan nyaris penuh yakni 40 orang. Kecuali Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang batal tampil karena Kevin terpapar virus Corona.

Mereka mengikuti tiga pertandingan yaitu Yonex Thailand Open, Toyota Thailand Open, dan BWF World Tour Finals 2020, yang berlangsung 12 hinggal 31 Januari. Pada Thailand Open edisi I, Merah-Putih berhasil mendapat satu gelar dari ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, sementara di edisi kedua Thailand Open gagal total setelah tak ada satupun wakil lolos final.

Dua wakil Indonesia terhenti di semifinal. Greysia/Apriyani kalah dari Lee So hee/Shin Seung Chan (Korea Selatan), 16-21, 18-21. Sedangkan Ahsan/Hendra dikalahkan Chinese Taipei, Lee Yang/Wang Chi Lin, 21-14, 20-22, 12-21.

Sementara di BWF World Tour Final, Indonesia hanya meloloskan lima wakil dari empat sektor. Itupun hanya sampai finalis dan lagi-lagi Indonesia mengandalkan pasangan gaek Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Tapi kemudian Hendra/Ahsan gagal juara setelah kalah dari pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi Lin. Mereka tumbang usai bertanding 37 menit dengan skor 21-17, 23-21.

Kabid Binpres PP PBSI, Rionny Mainaky, mengakui secara keseluruhan ada penurunan pada daya juang sang atlet. “Kalau melihat dari permainan pertama di Yonex Thailand Open, ketika mereka harus masuk karantina dulu, kemudian baru latihan, sebetulnya memang tidak terlalu mengganggu. Tapi seperti tidak bebas dari sisi latihan, dan memang waktu untuk latihannya pun sedikit,” Rionny dalam rilis PBSI.

“Tapi secara menyeluruh memang ada penurunan di daya juang, kecuali Greysia/Apriyani, dari sisi konsentrasinya mereka juga bisa konsisten, sampai akhirnya juara. Kalau yang lain masih terlihat goyah. Daya juang ada, tapi terlihat masih naik turun. Mau naik dan bangkit itu susah,” dia menjelaskan.

“Untuk Toyota Thailand Open, dengan target dua medali, justru malah kalah di semifinal dua-duanya (ganda putra dan ganda putri).”

Lebih lanjut, Rionny mengatakan, belum bisa memberikan catatan khusus soal hasil World Tour Finals 2020. Pasalnya, ia sudah lebih dulu pulang ke tanah air.

“Nanti setelah semua kembali ke Jakarta, saya akan kumpulkan semuanya. Ini memang harus benar-benar dievaluasi, bukan dari pemainnya saja tapi dari pelatihnya juga. Harus dicek semua, ditonton ulang lagi pertandingannya. Pelatih masing-masing sektor harus benar-benar evaluasi dan membuat catatan-catatan apa saja yang harus kita benahi,” kata Rionny.

Selain dari segi teknis, kekalahan skuad Indonesia juga dipengaruhi stamina dan semangat atlet kala bertanding. “Saya akui juga pemain-pemain lawan terlihat lebih siap bertanding, terutama Chinese Taipei (Lee Yang/Wang Chi Lin) ini. Bukan hanya soal teknis, tapi non-teknis seperti postur, tenaga, mungkin dari makanan, minuman, dan nutrisinya juga lebih oke. Saya akui mereka lebih stabil di tiga kali turnamen ini bisa juara. Jadi yang harus dievaluasi bukan hanya dari sisi teknis saja,” tutur Rionny.

“Tapi selain itu, saya rasa intinya adalah bagaimana motivasi para atletnya. Terutama motivasi untuk daya juangnya. Jadi harus kita gali lagi, apa yang bisa membuat mereka lebih semangat lagi,” imbuh pengganti Susy Susanti di PBSI itu. [kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar