Olahraga

Ancaman ‘Mafia Bola’ pada Kompetisi Liga 1 yang Tanpa Degradasi

Foto: Ilustrasi Rumput Stadion

Pamekasan (beritajatim.com) – Induk tertinggi sepakbola tanah air (PSSI) melalui PT Liga Indonesia Baru (LIB) mengagendakan untuk kembali menggulirkan lanjutan kompetisi Liga 1 musim 2020 pada 1 Oktober 2020, khususnya pasca dihentikan akibat pandemi Covid-19.

Rencana tersebut sempat mendapat penentangan dari sejumlah perwakilan klub kontestan Liga 1, sebab mereka memiliki alasan jika berkompetisi di tengah pandemi sangat berisiko. Tidak hanya pada aspek kesehatan tetapi juga terhadap aspek keselamatan secara keseluruhan.

Memang terdapat beberapa klub yang secara gamblang menolak kompetisi musim ini dilanjutkan, mereka pun memberikan opsi pilihan dengan mengganti kompetisi menjadi turnamen. Terlebih kompetisi musim 2020 baru berjalan empat pertandingan dari total 36 pertandingan reguler.

Kondisi tersebut membuat beberapa pihak memberikan penilaian jika kompetisi saat ini terkesan dipaksakan, sekalipun PSSI maupun PT LIB berdalih kompetisi liga-liga di dunia sudah kembali bergulir dengan menerapkan beberapa regulasi baru.

Salah satunya disampaikan salah satu pecinta sepakbola tanah air di Madura, ia menilai kondisi kompetisi di liga Eropa maupun liga dunia lainnya sangat berbeda dengan kultur sepakbola Indonesia. Salah satunya kompetisi Liga 1 baru berlangsung empat laga, sedangkan di Eropa sudah menyisakan beberapa pertandingan tersisa.

Dari itu, sangat tidak elok jika liga Indonesia dikatakan dengan istilah lanjutan dengan menyisakan 32 pertandingan dari total 36 laga yang diagendakan. Sehingga kompetisi liga Indonesia untuk musim ini lebih cocok menerapkan model turnamen dengan tetap mengaca pada regulasi resmi.

Tidak hanya itu, faktor kesehatan dan keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam sepakbola juga menjadi prioritas khususnya di tengah pandemi. Terlebih keberadaan pandemi juga berdampak pada semua sektor yang menjadi pendukung langsung sepakbola, khususnya pada aspek ekonomi masing-masing klub.

Semisal biaya operasional pertandingan yang dipastikan bakal menguras sektor keuangan klub, di mana selain pertandingan tanpa suporter yang selama ini menjadi salah satu income klub dipastikan terhenti. Termasuk juga cosht mahal yang harus dikeluarkan klub saat menjalani laga tandang, di antaranya satu pemain harus berada dalam satu kamar.

Asumsi potensial adanya ‘mafia sepakbola’ disinyalir justru bakal memanfaatkan momentum ‘lanjutan’ kompetisi Liga 1 2020. Terlebih rencana lanjutan kompetisi saat ini tidak menerapkan sistem degradasi, sehingga sangat potensial beberapa pertandingan justru dimanfaatkan untuk mendulang rupiah atau bahkan dolar.

Tidak kalah mengkhawatirkan, potensi ‘main mata’ antara mafia sepakbola dengan unsur pemain juga dinilai bakal mengakibatkan sepakbola tanah air kembali ke posisi terendah akibat adanya ‘sepakbola gajah’. Apalagi kondisi tersebut memang sangat rentan dan potensial terjadi.

‘Lanjutan kompetisi tanpa degradasi’ tentunya bakal menjadi peluang emas bagi para ‘mafia sepakbola’ untuk menerapkan jurus strategis, apalagi jika nantinya beberapa tim teratas bakal mewakili Indonesia untuk kompetisi tingkat Asia.

Kondisi tersebut menang sangat memungkinkan terjadi, sekaligus mengkhawatirkan kembali mencoreng nama baik sepakbola tanah air. Sehingga sangat dibutuhkan langkah konkrit dan komitmen penuh dari PSSI maupun regulator kompetisi untuk memajukan sepakbola Indonesia dengan cara profesional dan berkualitas. [pin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar