Olahraga

Alasan Piala Eropa Tidak Mengenal Juara Ketiga

Figc

Surabaya (beritajatim.com) – Selama bergulir sekian tahun, Piala Eropa tidak pernah mengenal juara ketiga. UEFA menganggap perebutan juara Ketiga sebagai hal yang kurang penting. Sebenarnya cukup disayangkan ketidakadaan juara ketiga ini. Sebab ada beberapa tim unggulan dan favorit juara yang tidak mampu menembus final, dan tersisih di semifinal.

Euro 2020 memang sudah berlalu cukup lama, Italia berhasil keluar sebagai Juara usai menekuk perlawanan Timnas Inggris lewat drama adu penalti. Piala Eropa merupakan pagelaran antar negara di benua biru, namun ada hal yang tidak biasa karena ternyata tidak mengenal juara ketiga. Padahal biasanya, di setiap ajang turnamen klub maupun tim nasional selalu ada perebutan juara ketiga.

Hal ini dimulai dari tahun 1960 hingga kurun 1976 format awal kompetisi Euro adalah turnamen yang hanya diselenggarakan secara terbatas, dengan melibatkan peserta sedikit saja, yaitu empat tim yang lolos dari babak kualifikasi. Format ini lalu mengalami sedikit perubahan pada tahun 1980 menjadi delapan tim yang lolos dari babak kualifikasi.

Hingga tahun 1980-an, laga perebutan juara ketiga masih diselenggarakan. Lalu berlanjut pada gelaran Euro 1984, UEFA mengambil keputusan untuk menghapus laga perebutan juara ketiga. Alasan utama yang diusung cukup sederhana yaitu karena jumlah penonton yang sangat sedikit, baik secara langsung maupun yang melihat lewat siaran televisi, sehingga dinilai kurang menguntung bagi federasi sepakbola Eropa, UEFA.

Sebelum resmi dihapus, juara ketiga Piala Eropa terakhir kali diraih oleh Tim Nasional Cekoslowakia pada gelaran Euro 1980 usai kalahkan Italia melalui drama dua belas pas. Format dihapuskannya perebutan juara ketiga itu, masih terus berlangsung hingga gelaran Piala Eropa 2020 kemarin.

Meski saat ini jumlah peserta sudah berkembang menjadi 24 tim, namun tetap saja belum ada kebijakan perubahan dari UEFA. Padahal jika seandainya EURO 2020 kemarin ada juara ketiga, maka akan mempertemukan kuda hitam, Timnas Denmark yang digawangi Martin Braithwaite dan kawan kawan melawan Timnas Spanyol. Laga itu pun bisa menarik banyak peminat, lantaran Spanyol awalnya diprediksi sebagai kandidat kuat juara EURO 2020. [dan/esd]


Apa Reaksi Anda?

Komentar