Iklan Banner Sukun
Olahraga

Alasan Di Balik Runtuhnya Kehebatan Barcelona

Twitter @FCBarcelona

Surabaya (beritajatim.com) – Nasib tragis Barcelona di kompetisi Eropa masih belum selesai nih. Apalagi di ajang Liga Champions Eropa mereka kembali ditekuk raksasa Jerman, Bayern Munchen dengan skor tiga gol tanpa balas di kandang sendiri.

Banyak pihak yang menyatakan kekalahan itu sebagai hal yang tidak mengejutkan. Salah satunya alasannya, karena status Barcelona sebagai tim besar mulai dipertanyakan. Padahal, jika mengenang kehebatan Barca satu dekade lalu mereka saat di bawah asuhan Pep mereka jadi klub penguasa Eropa. Berikut beberapa alasan runtuhnya kehebatan Barcelona.

Bobroknya Manajemen Barcelona

Pada tahun 2010, Sandro Rosell dan Bartomeu mewarisi tim terbaik Barcelona sepanjang sejarah tersebut. 11 tahun berlalu, Barcelona tengah berada di ambang kepunahan. Demi kesuksesan jangka pendek, mereka rela mengorbankan masa depan klub.

Di bawah kepemilikan Bartomeu, Barcelona tidak memiliki rencana yang jelas dan seringkali membuat keputusan sembrono. Skandal Barcagate tentu jadi yang paling ironis, dimana klub menyerang pemainnya sendiri demi kepentingan pribadi. Sehingga kondisi itu membuat miris kondisi internal tim asal Catalan tersebut.

Finansial yang Tengah Krisis

Hengkangnya Neymar JR di tahun 2018 ke PSG tentu jadi petaka besar bagi Barca. Tapi, beda ceritanya jika uang 222 juta Euro itu bisa dikelola dengan baik. Barcelona yang memutuskan untuk merekrut Coutinho, Dembele, dan Griezmann dengan total harga lebih dari 400 juta euro.

Namun nahas, ketiga pembelian itu justru tidak ada yang sukses. Beban gaji Barcelona pun juga meningkat drastis karena pihak klub berani memberi kontrak dengan nominal yang tidak masuk akal. Inilah yang jadi alasan klub hampir bangkrut dan terpaksa merelakan sang legenda, Lionel Messi, hengkang ke PSG.

Player Power

Runtuhnya klub besar Spanyol itu juga tidak lepas dari peran pemain senior yang terlalu berpengaruh di ruang ganti. Hal ini juga yang jadi mimpi buruk Quique Setien di Barcelona. Sebenarnya, ini begitu terlihat sejak era Valverde.

Pemain senior Barcelona sudah terlanjur nyaman karena selalu mendapat kesempatan bermain meski performa mereka sedang tidak baik. Ditambah, status Setien yang bukan pelatih membuat para pemain kurang hormat terhadap dirinya. Alhasil, dia pun tidak punya pengaruh di ruang ganti dan keputusan penting justru diambil alih oleh para pemain senior.

Kehilangan Identitas

Salah satu prestasi terbaik di era Bartomeu tentu adalah raihan treble di tahun 2015. Tapi, penggemar sepakbola tidak banyak yang sadar jika pada tahun 2015 itu permainan tiki-taka ala Barca telah hilang. Kesuksesan Barca di saat itu berfokus ke permainan yang lebih direct dan pragmatis.

Jauh berbeda dengan identitas utama Barcelona yang mengutamakan penguasaan bola di lini tengah dengan passing akurat. Peran La Masia pun semakin minim karena klub lebih tertarik untuk membeli pemain dari luar. Padahal, talenta La Masia adalah pilar penting keberhasilan Barcelona meraih semua gelar.

Ditinggal sosok berpengaruh

Sejak Rosell dan Bartomeu masuk, perlahan sosok penting di Barcelona mulai tersingkirkan. Johan Cruyff dibebastugaskan dari posisi penasehat kehormatan disusul oleh kepergian Pep. Beberapa pemain penting di dalam skuad seperti Puyol, Xavi, dan Iniesta pun perlahan harus pergi karena usia.

Sayangnya, pihak klub justru kesulitan mencari sosok pengganti mereka. Terlebih, perginya tokoh pemimpin seperti Puyol membuat tim kurang termotivasi dan tidak lagi memiliki mental juara.

Bagi fans berat Barcelona, jalan satu satunya yang bisa dilakukan saat ini adalah bersabar, sembari terus berharap Barca akan kembali ke performa terbaiknya. [dan/esd]


Apa Reaksi Anda?

Komentar