Madinah (beritajatim.com) – Kabar menggembirakan datang bagi jemaah haji Indonesia yang berada di Madinah. Pada musim haji 2026, seluruh akomodasi jemaah dipastikan berada di kawasan strategis Markaziyah atau dalam area Ring Road, yang merupakan lokasi terdekat dengan Masjid Nabawi.
Kepala Seksi Akomodasi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Zaenal Muttaqin, mengungkapkan total terdapat 118 hotel yang telah disiapkan untuk melayani jemaah haji Indonesia.
“Kawasan Markaziyah dibagi menjadi tiga wilayah yakni kawasan Syamaliah, Ghorbiah dan Janubiah,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Rinciannya, kawasan Syamaliah mencakup Sektor 1 dengan 22 hotel dan Sektor 2 sebanyak 23 hotel. Kawasan Ghorbiah meliputi Sektor 3 dengan 24 hotel dan Sektor 4 sebanyak 26 hotel. Sementara kawasan Janubiah dikelola Sektor 5 dengan 22 hotel.
“Kawasan ini menjadi incaran hampir semua negara. Alhamdulillah, Indonesia berhasil mendapatkan lokasi tersebut sehingga jaraknya sangat dekat dengan Masjid Nabawi,” jelasnya.
Ia menyebut, lokasi hotel jemaah Indonesia tahun ini tergolong istimewa. Jarak terdekat hanya sekitar 50 meter dari batas tembok Masjid Nabawi, sedangkan jarak terjauh mencapai 700 meter. Secara rata-rata, seluruh hotel berada dalam radius sekitar 500 meter dari masjid.
Kondisi ini memudahkan jemaah dalam menjalankan ibadah, termasuk salat berjamaah dan ibadah sunah seperti Arba’in atau salat 40 waktu berturut-turut selama masa tinggal di Madinah.
Meski demikian, Zaenal mengingatkan adanya kemungkinan jemaah dalam satu kelompok terbang (kloter) tidak menempati hotel yang sama, mengingat kapasitas setiap hotel berbeda.
“Kami berupaya agar meskipun terpaksa pisah hotel, jemaah tetap dalam satu regu atau rombongan dan lokasinya berdekatan. Ini dilakukan agar tidak ada sisa kamar yang kosong, karena bisa menimbulkan kerugian negara. Kami mohon kearifan jemaah untuk memahami kondisi ini,” jelasnya.
Dari sisi fasilitas, jemaah haji reguler berpotensi mendapatkan layanan setara hotel berbintang tinggi. Beberapa hotel bahkan memiliki klasifikasi di atas bintang tiga namun tetap digunakan untuk jemaah reguler.
Untuk kapasitas kamar, setiap kamar diisi tiga hingga lima orang jemaah, menyesuaikan jumlah tempat tidur. Fasilitas seperti kasur dan kamar mandi dipastikan dalam kondisi layak dan nyaman.
Zaenal menegaskan seluruh jemaah akan mendapatkan standar layanan yang setara, mulai dari akomodasi, konsumsi, transportasi hingga agenda ziarah.
“Intinya, layanan akomodasi ini sangat vital. Kami ingin jemaah merasa nyaman namun tetap fokus pada tujuan utama, yakni beribadah,” pungkasnya. [ian/beq]






