Internasional

Puluhan Orang Mati Terinjak-injak dalam Pemakaman Jenderal Qasem Soleimani

Ucapkan duka cita atas meninggalnya Jenderal Qasem Soleimani saat pemakaman tokoh militer Iran. [Foto: ATTA KENARE/AFP/BBC]

Para pejabat Iran mengatakan lebih dari 50 orang meninggal dunia karena terinjak-injak dalam prosesi pemakamanan komandan pasukan elite Quds, Jenderal Qasem Soleimani, yang tewas dalam serangan drone Amerika Serikat di Baghdad, Irak, Jumat lalu (3/1/2020).

Selain 50 orang meninggal dunia, sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka ketika massa pelayat menghadari prosesi pemakaman Qasem Soleimani di kota kelahirannya, Kerman, Iran selatan.

Massa telah berkumpul di jalan-jalan sejak Selasa pagi (7/1/2020) menjelang rencana pemakamannya, namun banyaknya kematian warga di Kerman menyebabkan pihak berwenang sempat menunda pemakamannya.

Secara keseluruhan, jutaan warga di berbagai kota Iran diperkirakan sudah turun ke jalan-jalan untuk mengikuti serangkaian prosesi sang jenderal yang dianggap sebagai pahlawan itu. Banyak pelayat membawa foto komandan pasukan elite Quds bagian dari Garda Revolusi Iran tersebut, sementara sebagian lainnya mengibar-ibarkan bendera merah.

Dalam tradisi Muslim Syiah, tindakan itu mencerminkan tekad untuk melakukan balas dendam. Pembunuhan Jenderal Soleimani semakin menambah kekhawatiran akan potensi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Ia dianggap sebagai pemimpin paling berpengaruh kedua setelah Pemimpin Agung Ali Khamenei.

Namun Amerika Serikat menggolongkannya sebagai teroris dan ancaman bagi pasukan Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan televisi Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, mengecam pembunuhan Jenderal Soleimani dengan menyebutnya sebagai tindakan tak berdasar yang akan menghapus pengaruh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Namun ditekankannya sejauh ini Amerika Serikat belum melakukan usaha untuk mengurangi ketegangan. “Ini adalah aksi perang drone dalam operasi teroris yang pengecut dan Iran akan mengambil tanggapan atas kejadian itu. De-eskalasi artinya Amerika Serikat tidak mengambil tindakan lebih lanjut, berhenti mengancam Iran, meminta maaf kepada Iran, tetapi tindakan Amerika Serikat mempunyai dampak yang akan terjadi dan saya yakin ini sudah mulai terjadi. Akhir dari kehadiran Amerika di kawasan sudah mulai,” kata Zarif.

Presiden Donald Trump mengambil sikap yang keras terhadap Iran setelah ia menjadi presiden Amerika Serikat, dan Teheran menanggapinya dengan cara mereka sendiri. Kini Iran berikrar akan melakukan “balasan dendam kejam” atas pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, yang posisinya sekarang diisi oleh wakilnya, Esmail Qaani.

Di sisi lain, Presiden Trump sudah memperingatkan bahwa negaranya “telah menetapkan” 52 sasaran di Iran dan “akan menyerang secara cepat” jika ada serangan Iran terhadap aset-aset Amerika.

Qasem Soleimani selama ini memimpin Pasukan Quds- kesatuan elite di tubuh Garda Revolusi Iran yang bertugas menangani operasi rahasia di luar negeri.

Pasukan Quds terlibat dalam rangkaian konflik di Suriah, di antaranya memberikan konsultasi kepada pasukan yang setia terhadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad, sekaligus mempersenjatai ribuan milisi Syiah di Suriah dan Irak. Adapun di Irak, pasukan elite itu memberi dukungan kepada paramiliter Syiah yang membantu melawan kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar