Internasional

Polisi Myanmar Sita Narkotika ‘Terbesar’ di Asia Tenggara

Obat-obatan terlarang itu disita dalam operasi yang berlangsung selama tiga bulan di negara bagian Shan. [Foto: Reuters/BBC]

Lebih dari 200 tablet metamfetamin, 500 kg kristal metamfetamin, dan 300 kg heroin disita dalam penggerebekan di negara bagian Shan, timur laut negara itu. Tiga puluh tiga orang ditangkap dalam operasi tersebut, yang dilakukan dari Februari sampai April 2020.

Myanmar dianggap sebagai sumber terbesar metamfetamin di dunia. Para tersangka mengatakan kepada polisi bahwa sebagian besar obat-obatan itu akan dijual di Myanmar dan di negara-negara tetangga, kata Kolonel Zaw Lin dari agensi kontra-narkotika Myanmar kepada kantor berita Reuters.

Lebih dari 3.700 liter metil fentanil, produk yang digunakan untuk membuat obat pereda rasa sakit (opioid) fentanil, juga ditemukan. Fentanil 50 kali lebih kuat dari heroin dan lebih dari 100 kali lebih kuat dari morfin. Obat ini telah memicu krisis opioid di AS. Rata-rata, 130 orang Amerika meninggal dunia karena overdosis opioid setiap hari, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Perwakilan UNODC Asia Tenggara dan Pasifik, Jeremy Douglas, mengatakan penemuan ini adalah tanda tren baru produksi opioid sintetis yang muncul “dalam skala yang tidak diantisipasi siapa pun”.

Myanmar adalah penghasil opium terbesar kedua di dunia, setelah Afghanistan. Perdagangan obat terlarangnya telah berkembang karena tanah pegunungan dan perbatasannya yang longgar.

Negara itu terletak di “Segitiga Emas”, sebuah wilayah yang dibagi dengan Cina, Laos, dan Thailand, yang dikenal karena memasok obat-obatan, bisnis bernilai miliaran dolar.

Antara 2018 dan 2019, total 14 laboratorium obat-obatan gelap disita di Myanmar. Pada 2017, seorang biarawan Budha ditangkap di Myanmar dan dikaitkan dengan lebih dari empat juta pil metamfetamin yang disembunyikan di sebuah biara. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar