Internasional

Perang Melawan Virus Corona di Asia

Petugas di Thailand mengawasi kedatangan di Suvarnabhumi International Airport di Bangkok. [Foto: EPA/BBC]

Banyak negara di Asia yang kini menghadapi tantangan besar untuk memperlambat penyebaran virus corona di tengah peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa beberapa di antaranya perlu melakukan “tindakan agresif”.

Sampai sejauh ini, Malaysia, Sri Lanka dan Filipina merupakan negara-negara yang menerapkan penutupan pembatasan dengan ketat. Kasus di kawasan anak benua di Asia Selatan masih di bawah 500, tetapi ada ketakutan adanya lonjakan bakal membuat sistem kesehatan di sana kelabakan.

Secara global, saat ini tercatat lebih 200.000 dengan 8.000 kematian yang sudah dipastikan. Beberapa negara dan wilayah yang telah berhasil mengendalikan virus atau memperlambat penyebarannya, seperti Korea Selatan, Hong Kong dan Taiwan, menyaksikan adanya peningkatan lagi. Dikhawatirkan orang yang baru kembali dari luar negeri mengimpor lagi virus tersebut.

Harga saham di Asia terus rontok seiring kekhawatiran pandemi bisa menutupi segala harapan yang muncul seiring rencana pemberian stimulus untuk mengurangi dampak wabah itu.

Siapa yang diperingatkan oleh WHO? Peringatan itu diberikan kepada negara-negara di kawasan tenggara Asia yang meliputi 11 negara, termasuk Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Bangladesh dan Korea Utara.

Poonam Khetrapal Singh, direktur regional WHO Asia Tenggara, mengatakan hari Selasa bahwa “gugus transmisi penularan virus semakin banyak ditemukan”.

“Kita perlu segera meningkatkan seluruh upaya pencegahan penularan virus kepada manusia,” kata Dr Khetrapal Singh. “Kita harus melakukan lebih banyak, dengan segera.”

WHO mengatakan angka di kawasan Asia Tenggara memperlihatkan “beberapa negara jelas sedang menuju community transmission Covid-19”. Community transmission adalah penularan dalam komunitas yang tidak diketahui sumber asal penularannya.

WHO menyerukan agar terus dilakukan upaya, “deteksi, tes, rawat, isolasi dan lacak penularan”. Dr Khetrapal Singh mengatakan “mempraktikkan pembatasan sosial itu sangat penting ditekankan. Ini saja punya peluang untuk mengurangi penularan”. “Kita perlu bertindak sekarang,” katanya.

Banyak negara di Asia Tenggara memperlihatkan respon yang lambat terhadap wabah ini, dan baru mengambil langkah drastis beberapa minggu atau beberapa hari belakangan ketika jumlah kasus meningkat.

Infeksi meningkat di mana-mana dengan peningkatan berbeda. China tetap menjadi jumlah kasus terbanyak dengan lebih dari 80.000, tapi infeksi baru hanya datang dari orang yang baru tiba dari luar negeri dan jumlahnya sangat kecil.

Korea Selatan juga dipuji untuk upaya mereka mengendalikan virus. Jumlah infeksi di sana 8.413 kasus, dan sudah berada di bawah Jerman dalam daftar kasus yang dikumpulkan the running list of cases compiled by Johns Hopkins University.

Korea Selatan berada di depan di antara negara lain dalam mengetes ribuan orang dan kini memperlihatkan tren penurunan penularan baru. Namun ada gugus penularan kecil baru, dengan 93 kasus dalam 24 jam terakhir. Puluhan orang sakit dan pasien usia lanjut di rumah sakit di Daegu terinfeksi.

Taiwan mengumumkan peningkatan kasus baru terbesar dalam sehari, yaitu 23 kasus, dan kini jumlah total 100 kasus. Tren ini mirip dengan Hong Kong – 14 kasus dalam sehari yang juga tertinggi di sana. Namun 13 di antaranya dibawa dari luar negeri.

Indonesia hari Rabu, (18/3/2020) juga mengumumkan peningkatan harian terbesar yaitu 55, membuat jumlah total 227 dengan kematian 19 kasus. Kasus di Pakistan meningkat ke 245, dengan total kasus yang dilaporkan di Asia Selatan mencapai 482.

Thailand melaporkan 35 kasus baru hari Rabu (18/3/2020) membuat total jadi 212. Sebanyak empat kasus terhubung ke tempat hiburan dan 13 dari pertandingan tinju, keduanya di Bangkok.

Malaysia telah memperingatkan peningkatan tajam kasus baru, mengatakan hanya ada “kemungkinan kecil” mematahkan rangkaian infeksi itu. Tabligh Akbar bulan lalu terhubung dengan hampir dua pertiga infeksi baru dan ribuan hadirin hingga kini belum dites.

Myanmar dan Laos belum melaporkan adanya kasus, meskipun para ahli meragukan kredebilitas laporan ini.

Juru bicara pemerintah Myanmar mengaku bahwa “gaya hidup dan pola makan” penduduk telah melindungi mereka dari virus. Mereka telah menjalankan pembatasan arus masuk orang. Hingga kini juga belum dilaporkan adanya kasus di Timor Leste.

Apa yang dilakukan negara-negara Asia? Sejak Rabu (18/3/2020) Malaysia telah menutup wilayahnya dari keluar masuk orang, hingga sekurangnya tanggal 31 Maret.

Jalan-jalan di ibu kota Kuala Lumpur mulai kosong dan jaringan toserba membatasi pembelian barang kebutuhan pokok. Thailand telah menutup sekolah, bar, bioskop dan pusat hiburan lainnya. Filipina, dengan 202 kasus dan 19 kematian, telah menerapkan pengendalian pergerakan paling keras, secara efektif mengkarantina sekitar setengah dari populasinya yang berjumlah 107 juta.

Namun mereka mencabut keputusan untuk melarang seluruh penerbangan internasional. Warga asing kini bisa keluar Filipina, sekalipun pendatang harus berhadapan dengan protokol karantina yang ketat.

Hari Kamis (19/3/2020) Taiwan akan melarang warga asing masuk, kecuali untuk kasus khusus. Semua yang masuk, termasuk warga Taiwan, harus menjalani karantina selama 14 hari.

Media Jepang melaporkan visa yang dikeluarkan dari wisawatan Eropa akan dibatalkan, dan orang yang tiba dari 38 negara harus melakukan karantina mandiri.

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menyerukan agar warga tenang dalam pidato di TV, menyatakan, “Tak perlu khawatir. Kita akan melawannya bersama-sama sebagai satu bangsa. Insya Allah kita akan memenangkan perang ini”.

Sejak akhir pekan, seluruh penumpang yang tiba di Pakistan dari luar negeri perlu memperlihatkan sertifikat yang menyatakan mereka bebas virus corona.

Sri Lanka melarang seluruh penerbangan masuk selama dua minggu sejak Rabu (18/03/2020) dan akan menerapkan pengendalian harga untuk produk bahan pokok.

India, di mana menurut Johns Hopkins ada 142 kasus, telah menutup puluhan jalur kereta jarak jauh mereka.

Indonesia mengumumkan paket sitmulus ekonomi untuk memelihara pertumbuhan ekonomi termasuk keringanan pajak. Polisi telah memerintahkan toko untuk membatasi penjualan bahan pokok di tengah laporan adanya pembelian secara panik.

Presiden Joko Widodo mengakui bahwa ia dengan sengaja menahan informasi tentang penyebaran virus ini demi mencegah kepanikan. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar