Internasional

Pengangguran di AS Membludak, Capai 33,3 Juta

Seorang polisi mengedarkan formulir tunjangan pengangguran di sebuah tempat parkir mobil di Florida. [Foto: EPA/BBC]

Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan tunjangan pengangguran meningkat lagi, ketika negara itu berusaha mencari jalan keluar dari karantina virus corona.

Sebanyak 3,2 juta orang mengajukan tunjangan pekan ini, membuat jumlah total pengangguran di AS mencapai 33,3 juta orang – atau sekitar 20% dari seluruh tenaga kerja AS.

Kalangan pekerja kerah biru sekarang mengalami pemutusan hubungan kerja, setelah gelombang sebelumnya dialami sektor retail dan restoran. Kini muncul kekhawatiran tingkat pengangguran pada bulan April di AS dapat mencapai setidaknya 15%.

Jumlah pengajuan tunjangan pengangguran yang dilaporkan setiap minggu oleh Departemen Tenaga Kerja telah mereda sejak mencapai puncaknya Maret silam, dengan jumlah 6,9 juta orang. Tetapi jumlahnya tetap sangat tinggi.

Dan jumlah orang yang mengajukan tunjangan terus meningkat, meskipun ada langkah-langkah baru untuk mulai membuka kembali di beberapa bagian negara.

“Kenaikan signifikan dalam tunjangan berkelanjutan … sedikit mengecewakan karena menunjukkan sedikit orang yang dipanggil kembali untuk bekerja,” kata Paul Ashworth, Kepala Ekonom AS di Capital Economics.

Perusahaan-perusahaan seperti Uber, Lyft, Airbnb adalah beberapa perusahaan yang telah mengumumkan PHK dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan penutupan yang menyebabkan penundaan beberapa perjalanan.

Dampaknya pun mulai dirasakan di seluruh penjuru negeri, yang kemudian berpengaruh pada aktivitas medis, restoran, dan pekerja bidang administrasi.

Para ekonom mengatakan, tingkat pengangguran di AS pada bulan April dapat mencapai setidaknya 15% atau malah lebih tinggi. Hanya dua bulan sebelumnya, angka pengangguran berada pada level 3,5%, level terendah selama 50 tahun.

Sejak virus corona mulai berkembang di AS, negara ini telah mengalami angka pertumbuhan ekonomi terburuk dalam satu dekade. Laporan penjualan ritel terburuk yang pernah tercatat dan penurunan aktivitas bisnis yang tidak terlihat sejak krisis keuangan 2008.

Sementara itu, klaim pengangguran yang meningkat selama berminggu-minggu jauh melampaui rekor sebelumnya yaitu 700.000. Pantri makanan mengalami lonjakan permintaan, dan pemilik rumah dan penyewa menunda pembayaran bulanan.

National Multifamily Housing Council – sebuah kelompok industri untuk pemilik apartemen – melaporkan bulan lalu bahwa hampir sepertiga penyewa tidak melakukan pembayaran penuh mereka pada bulan pertama.

“Jika tidak ada lagi perubahan dan pengusiran berlanjut seperti biasa, krisis kesehatan masyarakat ini akan berubah menjadi krisis tunawisma,” kata Matthew Desmond, seorang profesor sosiologi di Universitas Princeton yang menjalankan proyek Eviction Lab.

‘Semua bisnis saya tertunta’ – Steve Becker, fotografer, 62 tahun, Chicago. Semua bisnis saya terpaksa ditunda – saya tak memiliki pekerjaan sejak Februari. Saya fotografer untuk acara-acara perusahaan, dan bisnis tidak melakukan acara perusahaan sekarang, serta kelulusan sekolah telah ditunda. Sebanyak 15 pekerjaan saya dibatalkan.

Pekerjaan saya biasanya terjadi pada musim semi dan musim gugur – banyak perusahaan tidak memiliki acara selama musim panas, jadi saya hanya punya sekitar tujuh bulan untuk menghasilkan uang. Saya memiliki beberapa acara yang dijadwalkan untuk bulan Oktober, tetapi tidak jelas apakah mereka akan melanjutkan.

Saya belum mendapatkan stimulus saya – saya tidak tahu mengapa. Saya telah mengajukan tunjangan pengangguran, tetapi diberi tahu bahwa saya tidak memenuhi syarat – ini rumit karena saya seorang karyawan perusahaan saya sendiri, tetapi tidak bisa menggaji diri sendiri sampai pertengahan tahun atau akhir tahun. Untungnya pasangan saya bekerja.

Saya rindu pekerjaan saya – saya sangat bersyukur saya bisa melakukan apa yang saya sukai dan mencari nafkah yang baik darinya. Dibutuhkan banyak ketekunan, dan saya rindu keluar dan berbicara dengan orang.

Para ekonom berharap dampak ekonomi akan berkurang seiring dimulainya kembali aktivitas bisnis. Perusahaan retail seperti GAP telah mengumumkan pembukaan kembali beberapa gerainya. Namun, retail fesyen J crey dan Neiman Marcus, telah menyatakan bangkrut.

Moody’s Investors Service telah meramalkan bahwa tingkat pengangguran dapat turun kembali ke 7% pada akhir tahun, tetapi perkiraan itu tergantung pada virus. Semakin lama penutupan berlanjut, semakin sulit bagi perekonomian kembali seperti semula.

“Jika AS tidak mengatasi pandemi dan ekonomi tetap ditutup setelah kuartal kedua, tingkat pengangguran akan naik lebih lanjut … dan banyak dari pengangguran yang saat ini kami pandang sebagai sementara kemungkinan akan menjadi permanen,” kata analis perusahaan itu. [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar