Iklan Banner Sukun
Internasional

Muat Kritik ke Israel, Mural Karya Seniman Indonesia Diturunkan dari Pameran di Jerman

Surabaya (beritajatim.com) – Seniman Indonesia sudah banyak dikenal di kancah internasional, terlebih ketika ruangrupa yang merupakan organisasi seni rupa kontemporer di Jakarta yang berhasil terpilih menjadi direktur artistik pameran seni dunia documenta di Kassel, Jerman.

Peristiwa akbar ini digelar pada 18 Juni-25 September 2022. Belum pernah prestasi sedemikian tinggi ini dicapai oleh pekerja seni / kurator seni rupa Indonesia, bahkan Asia, sebagaimana yang dicapai ruangrupa. Bagi warga seni dunia, documenta dianggap sebagai salah satu perhelatan seni paling prestisius, bergengsi dan berkualitas di dunia.

Sayangnya, pencapaian ruangrupa menjadi tim kuratorial pada festival seni documenta mendapat tidak hanya sorotan positif tetapi juga berbagai respon negatif yang datang dari berbagai belahan dunia. Bahkan terburuknya, apa yang dikerjakan oleh ruangrupa diberi label ‘bencana seni’ oleh media Jerman.

Kritikan begitu keras datang menghujam ruangrupa karena dianggap narasi yang mereka usung memiliki ketidak jelasan konsep dan keberpihakan terhadap tema antisemitisme. Oleh karenanya, sebagai tim kuratorial yang terpilih dalam ajang seni bergengsi itu, ruangrupa dinilai tidak berhasil dalam memecahkan alegasi mendukung pola anti-Yahudi.

Sebagaimana yang diketahui, bahwa Jerman memiliki sejarah yang panjang dan sensitif terkait isu antisemit. Sehingga sebelum documenta dimulai, tim pengelola documenta telah diperingati oleh publik dan politik Jerman untuk tidak memancangkan pikiran antisemit.

Pada pembukaan festival documenta, Presiden Republik Jerman, Frank-Walter Steinmeier sebenarnya telah memberikan peringatan tegas bahwa masyarakat Jerman tidak mentolerir segala bentuk seni yang tidak reflektif dan rasis, terlebih lagi sembrono dalam mengangkat isu anti-semit.

Kendati demikian, dalam gelaran festival documenta tetap saja terdapat beberapa karya yang diloloskan kurasinya oleh ruangrupa untuk ditampilkan ke publik meski bermuatan unsur-unsur antisemit. Salah satunya adalah lukisan mural sebesar baliho yang merupakan karya dari kolektif Taring Padi yang berasal dari Indonesia.

Dalam karya mural yang berjudul, ‘Keadilan Rakyat’ terdapat sosok tentara dengan kepala babi yang mengenakan syal dengan gambar ‘Star of David’ dan helm bertuliskan ‘Mossad’ atau badan intelijen nasional Israel.

Itu juga menggambarkan seorang pria dengan cambang, terkait dengan Yahudi Ortodoks, memiliki taring dan mata merah dan mengenakan topi dengan simbol Waffen SS era Nazi yang juga dianggap memiliki kiasan antisemit.

Karena lukisan-lukisan mural inilah awal mulainya sorotan negatif terus berdatangan. Dengan gambaran figur bergigi taring dan hidung bengkok figur-figur tersebut yang terdapat pada lukisan Taring Padi cukup memberikan kesan karikatural yang kerap dipakai Nazi untuk mendiskreditkan orang Yahudi.

Hal ini disinyalir karena sejak semula, pihak penyelenggara documenta tidak berhasil memacahkan alegasi anti-semit itu sehingga ruangrupa pun menjadi sembrono dalam mengkurasi karya seni yang ditampilkan di tengah alun-alun kota Kassel tersebut.

Kanselir Jerman, Olaf Scholz menyatakan, ia tak berkenan mengunjungi festival documenta dan menilai hasil kurasi ruangrupa sebagai ‘mengerikan’ dan menyakitkan. Begitupun Menteri Budaya Claudia Roth sambungnya dan menegaskan ia tak terima dan menolak keteledoran oleh documenta dan ruangrupa yang memang sudah seharusnya turut bertanggung jawab.

Pada akhirnya meski saat itu pameran belum secara resmi ditutup instalasi lukisan mural Taring Padi ‘Keadilan Rakyat’ telah diturunkan. Lewat statement publik, Kedutaan Besar Israel di Jerman menyatakan karya tersebut tak beda dari agitasi karikatural pada zaman Nazi.

Pejabat di kedutaan Israel di Berlin mengatakan mereka “terkejut dengan elemen antisemitisme” yang dipajang di Kassel. Para diplomat meminta agar karya kolektif seni tersebut segera dihapus dari pameran dan mengatakan bahwa “mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi, tetapi merupakan ekspresi antisemitisme gaya lama”.

Pada hari Senin (20 Juni), penyelenggara pertunjukan seni mengatakan mereka akan menutupi pekerjaan itu tetapi keesokan harinya, walikota kota Christian Geselle mengatakan bahwa pekerjaan itu akan dihapus sama sekali.

Penghapusan pameran itu “sudah memestinya” dan “hanya langkah pertama”, menteri kebudayaan Jerman Claudia Roth mengatakan dalam sebuah pernyataan, menambahkan bahwa “harus lebih tertib.”

“Harus diluruskan bagaimana mungkin mural dengan elemen figuratif antisemit ini dipasang di sana,” kata menteri dilansir dari Independent.co.uk

Acara Documenta dibuka pada hari Sabtu lalu (18 Juni) dan sudah menghadapi api atas tuduhan antisemitisme. Pada awalnya, dilansir dari Spiegel, media Jerman, awalnya Taring Padi terkejut. Lantas, lewat pernyataan tertulis, kolektif tersebut secara tidak langsung telah mengakui bahwa kurang paham dengan konteks kebudayaan Jerman, walau salah satu anggota Taring Padi bahkan telah berkuliah dan bermukim di Jerman.

Tidak berkontribusi baik pada festival documenta, Kolektif Taring Padi memposting pernyataannya di halaman Facebook-nya dan mengatakan bahwa pemasangan spanduk “Keadilan Rakyat” menampilkan “kampanye melawan militerisme dan kekerasan yang kita saksikan selama 32 tahun kediktatoran militer Suharto di Indonesia dan warisannya, yang terus berdampak hari ini”.

Mengeluarkan permintaan maaf dan menyatakan bahwa pekerjaan akan ditutup-tutupi, kolektif tersebut mengatakan, “Pameran Keadilan Rakyat di Friedrichsplatz adalah presentasi pertama spanduk dalam konteks Eropa dan Jerman. Ini sama sekali tidak terkait dengan antisemitisme.

“Kami mohon maaf bahwa detail spanduk ini disalahpahami selain dari tujuan aslinya. Kami mohon maaf atas cedera yang disebabkan dalam konteks ini. Sebagai tanda hormat dan dengan sangat menyesal kami meliput karya relevan yang dianggap menyinggung dalam konteks khusus ini di Jerman.”

Menurut kolektif tersebut, “semua tokoh yang tergambar di spanduk mengacu pada simbolisme yang tersebar luas dalam konteks politik Indonesia”. [adg/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar