Iklan Banner Sukun
Internasional

Morales, Politikus Kiri Bolivia dan Gerakan Berantas Kemiskinan

Kalangan oposisi menuduh Evo Morales berupaya berkuasa tanpa batas masa jabatan, seperti pemimpin Venezuela. [Reuters/BBC]

Hampir 14 tahun lalu, Evo Morales dipilih untuk memimpin salah satu negara termiskin di Amerika Latin sekaligus menjadi presiden pertama dari masyarakat adat setempat.

Di bawah kekuasaannya, taraf kemiskinan dipangkas setengah, tingkat pendapatan meningkat, dan harapan hidup warga Bolivia lebih tinggi dari sebelumnya.

Sebagaimana dilansir BBC, namun Morales memutuskan lengser setelah panglima militer dan kepala kepolisian mendesaknya untuk mundur di tengah rangkaian demonstrasi yang diwarnai aksi kekerasan.

Bagaimana peruntungan Morales berubah sedrastis itu? Bolivia telah diguncang oleh rangkaian demonstrasi antipemerintah selama tiga pekan terakhir.Ketegangan pertama kali berkobar pada malam pemilihan presiden setelah hasil penghitungan suara dihentikan sementara selama 24 jam.

Hasil akhir menunjukkan bahwa Morales unggul 10% suara dari pesaingnya, Carlos Mesa. Berkat keunggulan itu, Morales langsung menang di putaran pertama pilpres. Sedikitnya tiga orang tewas serta ratusan lainnya cedera dalam bentrokan antara kubu oposisi dan kubu pendukung Morales. Beberapa anggota polisi tak berseragam turut bergabung dalam demonstrasi tersebut.

Pada 10 November, Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) selaku pemantau pemilu, mengklaim menemukan “manipulasi yang jelas” dalam proses pemilihan. OAS kemudian menyerukan agar hasil pemilu dibatalkan.

Evo Morales lantas meminta agar pemilihan presiden diulang. Namun, tekanan terhadap dirinya terlalu kuat dan sejumlah sekutu politiknya mengundurkan diri. Beberapa di antara mereka mengaku khawatir akan keselamatan keluarga.

Panglima Angkatan Bersenjata Bolivia, Jenderal Williams Kaliman, mendesak Morales lengser “agar situasi damai dan stabilitas terjaga”. Sekutu-sekutu Morales di Amerika Latin, semisal Kuba dan Venezuela, buru-buru menyatakan sokongan mereka terhadap Morales. Negara-negara itu mengecam rangkaian peristiwa di Bolivia adalah “kudeta yang didukung Amerika”. Meksiko bahkan menawarkan suaka politik kepada Morales.

Morales merupakan presiden yang paling lama berkuasa di kawasan Amerika Latin dan salah satu pemimpin yang tersisa dalam “gelombang pink”, yaitu terpilihnya sejumlah pemimpin berhaluan kiri di kawasan Amerika Latin pada awal 2000-an. Melalui Twitter, Morales menyatakan perintah penahanan dirinya “ilegal” seraya menyebut “para perancang kudeta” telah “menghancurkan aturan hukum” di Bolivia.

Para pendukungnya juga mengaku diintimidasi dan menjadi sasaran lawan politik. Rusia memberikan sokongan kepada Morales sembari menyatakan bahwa tampaknya ada kudeta yang sudah direncanakan di Bolivia. Moskow lantas meminta semua kekuatan politik di negara itu untuk menunjukkan akal sehat dan bertindak dengan tanggung jawab.

Jika Evo Morales mencoba mencurangi pemilu…bukankah dia adalah diktator? Itu adalah opini sejumlah penentangnya. Setelah Morales lengser, massa turun ke jalan di berbagai daerah di Bolivia dengan riang gembira.

Seorang pria di ibu kota Bolivia, La Paz, berkata kepada kantor berita AFP: “Saya benar-benar gembira, bersyukur kepada Tuhan bahwa kediktatoran ini sudah berakhir, tirani ini sudah berakhir.”

Kalangan oposisi berang dengan keputusan Morales yang mengincar masa jabatan keempat, meski batas masa jabatan dalam konstitusi Bolivia disetujui saat dia masih menjabat presiden.

Melalui referendum pada Februari 2016, rakyat Bolivia menentang langkah pemerintah yang ingin meniadakan batas masa jabatan presiden. Namun Morales naik banding dan Mahkamah Agung memutuskan meniadakan masa jabatan presiden pada November 2017. Dalam putusannya, MA menyebut bahwa membatasi masa jabatan presiden adalah pelanggaran hak asasi manusia.

Kubu oposisi tidak terima putusan itu dan menuding Morales berupaya melanggengkan kekuasaan tanpa batas masa jabatan. “Seorang pemimpin yang baik tahu kapan waktunya untuk lengser,” kata demonstran antipemerintah berusia 21 tahun, Fujiko Urdininea, kepada sebuah stasiun radio menyusul pengumuman hasil pemilu bulan lalu.

“Kami lelah dengan manipulasi dan kebohongan pemerintahan ini. Kami berhak mendapat kesempatan untuk melihat bentuk pemerintahan lain.”

Lantas apa warisan Evo Morales? Morales, mantan petani koka yang berasal dari masyarakat adat Aymara, telah membuat capaian sosial dan ekonomi yang mengesankan, walau pemerintahannya ternoda oleh topik pemilihan ulang.

Taraf kemiskinan nasional merosot dari 60% pada 2006 menjadi 35% pada 2018. Diukur menggunakan standar internasional Bank Dunia, kemiskinan ekstrem (mereka yang hidup dengan US$1,9 per hari atau kurang) turun dari 16,4% menjadi 5,8% antara 2006 dan 2017.

Secara rata-rata, pertumbuhan ekonomi Bolivia tumbuh hampir 5% per tahun dan taraf pendapatan berlipat lebih dari tiga kali antara 2006 dan 2019 hingga mencapai US$3.760 per kapita, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Hasil-hasil itu tercapai berkat deretan kebijakan berhaluan kiri yang diterapkan Morales. Meski demikian ada peringatan mengenai kekacauan ekonomi Bolivia ketika Morales menasionalisasi perusahaan-perusahaan swasta dan memberlakukan pajak tinggi kepada perusahaan-perusahaan energi.

Morales mengakui bahwa perombakan sistem kesehatan publik belum dilakukan. Walau begitu, pemerintahannya mampu meningkatkan harapan hidup warga Bolivia dari 65 tahun pada 2005 menjadi hampir 71 tahun pada 2017. [BBC/air]


Apa Reaksi Anda?

Komentar