Internasional

Masyarakat Internasional Siapkan Dana Rp 120 Triliun untuk Vaksin Corona

Proses pengembangan vaksin terdiri dari beberapa tahap, pertama di laboratorium kemudian uji coba pada hewan dan manusia. [Foto: Getty Images/BBC]

Sejumlah pemimpin dunia berikrar menyumbangkan lebih dari US$8 miliar, atau sekitar Rp120 triliun, untuk pengembangan vaksin virus corona serta mendanai penelitian pengobatan pasien Covid-19.

Dalam pertemuan itu, Presiden Joko Widodo mengatakan, negara-negara berkembang harus mendapat akses yang sama, tepat waktu, dan dapat dijangkau terhadap obat Covid-19.

Sejumlah 40 negara dan pendonor berpartisipasi dalam pertemuan yang digelar secara daring oleh Uni Eropa. Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, selaku tuan rumah, mengatakan dana yang dijanjikan itu akan membantu memacu kerja sama global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dia mengatakan, aksi negara-negara itu menunjukkan nilai sejati dari persatuan dan kemanusiaan. Namun, dia mewanti-wanti, banyak hal yang harus dilakukan di kemudian hari.

Secara keseluruhan, lebih dari 30 negara, bersama dengan PBB, badan filantropi, serta lembaga penelitian, memberikan sumbangan.

Penyanyi pop Madonna juga termasuk sebagai pendonor yang menjanjikan US$1 juta, atau setara Rp15 miliar, kata Von der Leyen.

Komisi Eropa menjanjikan US$1 miliar, atau setara Rp15 triliun, untuk mendanai penelitian tentang vaksin.

Sementara Perancis berikrar memberi bantuan €500 juta, atau setara Rp 8 triliun, demikian juga Arab Saudi dan Jerman.

Sedangkan Jepang menjanjikan lebih dari US$800 juta, atau setara Rp12 triliun.

AS dan Rusia tidak ambil bagian dalam inisiatif tersebut. Sementara China, tempat wabah itu bermula pada Desember silam, diwakili oleh duta besarnya untuk Uni Eropa.

Dari total bantuan yang dikumpulkan, sebanyak US$4,4 miliar (Rp66 triliun) dialokasikan untuk pengembangan vaksin, sementara US$2 miliar (Rp30 triliun) untuk penelitian pengobatan, dan US$1,6 miliar (Rp24 triliun) untuk produksi alat tes, kata Uni Eropa.

Dalam sambutan pembukaannya di KTT itu, Von der Leyen mengatakan setiap orang harus ikut serta untuk mendanai “upaya yang benar-benar global”.

“Saya percaya 4 Mei akan menandai titik balik dalam perjuangan kita melawan virus corona, karena hari ini dunia berkumpul bersama,” katanya.

“Mitranya banyak, tujuannya satu: untuk mengalahkan virus ini.”

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan, “semakin kita bersama” dalam berbagi keahlian, “semakin cepat ilmuwan kita akan berhasil” dalam mengembangkan vaksin.

Johnson, yang menghabiskan tiga malam dalam perawatan intensif karena didiagnosa positif Covid-19, mengonfirmasi Inggris berjanji memberi bantuan £388 juta (Rp7,27 triliun) untuk penelitian vaksin, pengujian dan perawatan.

Bersama dengan Komisi Eropa, konferensi ini diselenggarakan bersama oleh Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Norwegia, dan Arab Saudi.

Perdana Menteri Italia, Giueseppe Conte; Presiden Prancis, Emmanuel Macron; dan Kanselir Jerman, Angela Merkel termasuk dari pemimpin dunia yang menyepakati inisiatif tersebut.

Dalam surat terbuka yang diterbitkan di surat kabar akhir pekan, para pemimpin mengatakan dana yang dikumpulkan akan “memulai kerja sama global yang belum pernah terjadi sebelumnya antara ilmuwan dan regulator, industri dan pemerintah, organisasi internasional, yayasan dan profesional kesehatan”.

“Jika kita dapat mengembangkan vaksin yang diproduksi oleh dunia, untuk seluruh dunia, ini akan menjadi barang publik global yang unik di abad ke-21,” tambah mereka.

Pada saat yang sama, para pemimpin dunia itu memberikan dukungan mereka kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam menghadapi kritik AS terhadap penanganan wabahnya.

Sementara itu, PBB mengatakan kembalinya kehidupan normal hanya akan mungkin terjadi dengan adanya vaksin. Puluhan proyek penelitian yang berusaha menemukan vaksin saat ini sedang berlangsung di seluruh dunia.

Bahkan dengan komitmen finansial yang lebih besar, perlu waktu untuk mengetahui mana yang mungkin bekerja dan seberapa baik.

Sebagian besar ahli berpikir mungkin diperlukan hingga pertengahan 2021, sekitar 12-18 bulan setelah virus baru pertama kali muncul, agar vaksin tersedia. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar