Internasional

Lonjakan Belanja Militer Australia Harus Jadi Kewaspadaan Indonesia

Adhe Nuansa Wibisono, kandidat Doktor di Turkish National Police Academy, alumni S1 FISIPOL UGM dan S2 UI Jakarta

Ankara (beritajatim.com) – Pemerintah Australia melalui pernyataan Perdana Menteri Scott Morrison menyatakan akan meningkatkan anggaran pertahanan sebesar USD 186 miliar atau setara dengan Rp 2.775 triliun selama sepuluh tahun ke depan, Rabu lalu (1/7/2020).

Anggaran itu mengalami peningkatan 40 persen dibanding dengan alokasi anggaran sebelumnya. Rencana tersebut mencakup pembelian peluru kendali jarak jauh, peningkatan kapasitas pertahanan dan perang cyber untuk mengantisipasi perang dengan Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.

Sikap Australia tersebut mendapatkan tanggapan dari Direktur Eksekutif Cakramandala Institute, Adhe Nuansa Wibisono pada Sabtu (4/7/2020) di Ankara, Turki. “Rencana Australia untuk meningkatkan anggaran pertahanannya perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Indonesia. Memang benar langkah Australia tersebut dilakukan untuk mengimbangi pengaruh Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik. Tetapi jangan lupa Indonesia merupakan negara tetangga paling dekat yang berbatasan langsung dengan Australia”, kata Wibisono.

Seperti diketahui Australia akan membeli peluru kendali jarak jauh 158-AG dari Angkatan Laut Amerika Serikat dengan biaya USD 800 juta, yang memiliki jangkauan hingga 370 kilometer. Selain itu, pemerintah Australia juga mengalokasikan USD 9,3 miliar untuk pengembangan senjata jarak jauh berkecepatan tinggi seperti senjata hipersonik.

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut menilai peningkatan postur pertahanan Australia akan menjadi ancaman keamanan baru bagi Indonesia di masa depan.

“Bayangkan negara tetangga seperti Australia memiliki teknologi militer terbaru rudal jarak jauh dan senjata hipersonik yang sewaktu-waktu bisa diarahkan kepada Indonesia, tentu saja ini menjadi ancaman keamanan yang serius,” ingatnya.

Wibisono menilai pemerintah Indonesia harus mengantisipasi manuver Australia ini melalui penguatan porsi anggaran pertahanan dan kapabilitas militer dalam lima atau sepuluh tahun ke depan.

“Anggaran pertahanan Indonesia pada tahun 2020 adalah Rp 122,44 triliun pasca penyesuaian Covid-19. Coba kita bandingkan dengan anggaran militer Tiongkok tahun 2020 saja yang mencapai USD 178 miliar atau Rp 2.632 triliun. Pemerintah Indonesia harus memberikan priotitas anggaran pertahanan yang lebih besar dan penguatan alutsista untuk lima hingga sepuluh tahun mendatang”, tegasnya.

Kandidat doktor Turkish National Police Academy tersebut kemudian juga mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan penguatan diplomasi bilateral dengan Australia.

“Selain meningkatkan anggaran pertahanan dalam jangka panjang dan memperkuat postur militer, pemerintah harus mengintensifkan komunikasi bilateral langsung diantara dua negara. Pemerintah Indonesia harus memastikan Australia tetap menjadi mitra pertahanan yang strategis dan tetap komitmen menjamin stabilitas perdamaian di kawasan Indo-Pasifik”, pungkasnya. [air/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar