Internasional

Lolos dari Hukuman Mati di Saudi, Eti Toyib Akhirnya Tiba di Tanah Air

Banten (beritajatim.com)  – Eti Toyib Anwar yang divonis hukuman mati qishash akhirnya bisa bebas dan pulang ke tanah air. Dia awalnya dijatuhkan hukuman mati berdasarkan Putusan Pengadilan Umum Thaif No. 75/17/8 tanggal 22/04/1424H (23/06/2003M) yang telah disahkan oleh Mahkamah Banding dengan nomor 307/Kho/2/1 tanggal 17/07/1428 dan telah disetujui oleh Mahkamah Agung dengan No: 1938/4 tanggal 2/12/1429 H karena membunuh majikannya warga negara Arab Saudi, Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi dengan cara diberi racun.

Tiga bulan setelah Faisal Bin Said Abdullah Al Ghamdi meninggal dunia, seorang WNI bernama EMA atau Aminah (pekerja rumah tangga di rumah sang majikan) memberikan keterangan bahwa Eti Toyib telah membunuh majikan dengan cara meracun.

Pembicaraan tersebut direkam oleh seorang keluarga majikan. Rekaman tersebut diperdengarkan oleh penyidik saat menginterogasi Eti Toyib Anwar pada tanggal 16/1/2002  silam, yang mengakibatkan adanya pengakuan Eti Toyib bahwa yang bersangkutan telah membunuh majikan.

Dalam proses pembebasannya, Pemerintah Indonesia dengan dukungan berbagai pihak akhirnya membebaskan Eti dari hukuman mati dengan patungan membayar uang denda sebesar Rp 15,2 miliar. Kasus Eti terjadi sejak 2001 dan ia pun sudah menjalani masa penahanan selama 19 tahun.

Saat tiba Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Eti mengucapkan rasa syukur setelah bebas dari hukuman dan kembali ke Tanah Air. “Alhamdulillah bisa bebas dari hukuman. Saya mengucapkan terimakasih atas dukungan semuanya. Mudah-mudahan ada hikmahnya untuk semua. Saya cuma bisa berdoa,” katanya, Senin (6/7/2020) petang.

Dia juga sangat senang dan bahagia bisa kembali ke Indonesia. Selama menjalani hidup di penjara 19 tahun, Eti Binti Toyib menghafal Al Qurán, selain melakukan pekerjaan lainnya. Ia juga mengaku tidak ingin kembali lagi menjadi PMI. “Ya tidaklah, sudah tua begini. Sudah dipenjara. Kapok,” ujarnya.

Eti mengaku tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan meracuni majikan. “Majikan saya itu pergi ke Jeddah naik mobil sendiri. Paginya sarapan bersama istrinya. Malamnya makan di restauran. Saya nggak merasa bersalah. Sampai di pengadilan saya ditanya-tanya dan akhirnya dihukum mati. Saya tetap sabar aja. Biar nanti Allah yang menjawab itu semua,” ujarnya.

Sementara Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran (BP2MI), Benny Rhamdani yang ikut menyambut kedatangan Eti pun bersyukur dan bahagia, saat Pekerja Migran Indonesia bernama Ety Toyyib Anwar bebas dari hukuman mati dan kembali ke tanah air.

“Alhamdulillah. Kita bersyukur Ibu Ety akhirnya bisa pulang ke tanah air,” ujar Benny.

Benny mengatakan, bebasnya Eti adalah bukti dari kerja keras dan kerja kolaboratif antara pemerintah dan Ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU). “Beliau pulang dari hasil semangat gotong-royong,” katanya.

Kisah Eti menurut Benny cukup menyakitkan dan menyedihkan, dimana Eti hanya bekerja 1,5 tahun tapi hidup di penjara selama 18 tahun. Untuk itulah kata Benny, bebasnya Eti adalah bukti hadirnya negara untuk membantu Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan WNI yang bermasalah di luar negeri.

“Ini bukti kerja luar bisa, disinilah kekompakan dan solidaritas sosial itu menjadi penting. Saya sangat berterimakasih khususya kepada warga NU yang bersedia mengumpulkan sumbangan begitu besar auntuk membebaskan ibu Eti ini,” tukasnya.

Dia juga berharap, apa yang dilakukan PBNU dan PKB, bisa menajdi inspirasi bagi ormas, LSM dan kelompok keagamaan. “Kedua, tentu bebasnya Ibu Eti ini tak lepas juga dari keberhasilan diplomasi politik yang dilakukan Kemenlu dengan Pemerintahan Malaysia. Kerja keras pemerintah harus kita apresiasi,” tandasnya.

Kepala BP2MI Benny Rhamdani

Dan yang ketiga kata Dia, BP2MI dan Kemenaker bersama Pimpinan MPR RI, menjemput langsung Eti Toyyib Anwar sebagai bukti negara benar-benar hadir. “Selain BP2MI dan Menaker Ida Fauziyah, tadi juga hadir dari Komisi IX DPR RI dan pak Wakil Ketua MPR Pak Jazilul Fawaid, ini bukti kerja kolaboraktif, kekompakan instrumen Kenegaraan. Saat ini kita tidak boleh bicara ego sektoral, kita harus bicara merah putih, NKRI dan Indonesia,” tandasnya.

Adapun Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid menegaskan, satu nyawa warga negara Indonesia sangat berharga. Menyelamatkan satu jiwa warga negara Indonesia sama seperti menyelamatkan  semua. “Itulah inti kemanusiaan,” kata Jazilul.

Gus Jazil mengungkapkan semula ahli waris majikanya meminta diyat yang tinggi sekali, sebesar 30 juta real atau Rp 107 miliar agar diampuni dan tidak dieksekusi. Tetapi dengan berbagai pendekatan akhirnya ahli waris bersedia dengan diyat sebesar Rp 15,2 miliar. Atas inisiator dari teman-teman PKB dengan LAZISNU sejak dua tahun lalu kemudian mengumpulkan dana untuk membayar diyat untuk membebaskan Eti Binti Toyib dari ancaman hukuman mati. Kasus Eti sendiri terjadi sejak 2001 dan ia pun sudah menjalani masa penahanan selama 19 tahun.

“Karena itu kami dari Pimpinan MPR selalu mengajak untuk mengedepankan kemanusiaan dan kegotongroyongan di semua situasi kepada siapapun. Apalagi ini adalah pejuang devisa yang bekerja di luar negeri. Ibu Eti bekerja hanya 1 tahun 8 bulan, tapi dipenjara 19 tahun. Ini tidak boleh terulang lagi kepada warga kita, saudara kita yang berjuang di luar negeri tapi kemudian terkena kasus,” kata  Koordinator Nasional Nusantara Mengaji ini. (hen/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar