Internasional

Kisah TNI Berhasil Akhiri Pertikaian 3 Suku di Kongo

Satgas Indo RDB XXXIX-B di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) РKabar mengembirakan datang dari Satgas TNI Kontingen Garuda Kongo XXXIX-B Rapid Deployable Battalion (RDB) Mission de lOrganisation des Nations Unies pour La Stabilisation en R̩publique D̩mocratique du Congo (MONUSCO). Satgas berhasil mengakhiri pertikaian tiga suku di Desa Kashege, Kalemie Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo.

Yakni dengan ditandai menyerahnya 27 orang milisi yang terdiri dari 12 orang dari Kelompok Milisi Persi Kaomba pimpinan Mr Mukonga Faliala, tujuh orang dari kelompok Milisi Aleluya pimpinan Bilenge Shindano dan delapan orang dari Kelompok Apa Na Pale pimpinan Mr Kisidja Mwenge Salumu serta penyerahan 24 senjata api yang terdiri dari 21 pucuk senjata jenis AK-47,3 pucuk senjata api rakitan, 15 buah magazen, 51 busur panah beserta 63 anak panah.

Kepada beritajatim.com, Komandan Satgas TNI Konga RDB Monusco Kongo Kolonel, Inf Daniel Lumbanraja mengatakan, penyerahan 24 pucuk senjata api dan puluhan panah oleh tim Long Range Mission (LRM) Kompi Bravo IndoRDB tersebut dipimpin oleh Kapten Inf Nuzul Sudjatmiko dan Letda Inf Eka Rahmat Malpura yang diserahkan kepada Staf Monusco. Yakni Disarmament Demobilization Reintegration (DDR) yang juga disaksikan Head of Office (HoO) Monusco wilayah Kalemie.

“Ini sebagai bentuk kesepakatan perdamaian antara tiga kelompok yang selama ini bertikai untuk memperebutkan kekayaan alam yang ada di daerah tersebut. Keberhasilan tim LRM Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco Kongo melakukan mediasi ketiga suku tak lepas dari kerjasama dengan tokoh adat ketiga suku,” ungkapnya, Senin (6/7/2020).

Baik itu Kelompok Perci Kaomba, Perci Aleluya maupun kelompok Apa Na Pale di wilayah Area of Responsibility COB Kompi Bravo IndoRDB. Misi perdamaian tersebut merupakan bentuk pelaksanaan dari mandat PBB yaitu Protection of Civilian (POC) atau perlindungan warga sipil serta kepercayaan dari ex-combatan kepada Satgas TNI Konga XXXIX-B Monusco Kongo.

“Selain menjalankan misi perdamaian tersebut, satgas juga digelar kegiatan Civil Military Coordination (CIMIC) di sana. Seperti pelayanan kesehatan gratis, psycology lapangan, perpustakaan mini dan pertemuan dengan kepala suku maupun tokoh adat setempat. Satgas TNI Kongo XXXIX-B Monusco sudah memasuki bulan ketujuh dalam menjalankan tugas di daerah misi yaitu di Republik Demokratik Kongo,” ujarnya.

Selama menjalankan misi perdamaian sejak bulan November 2019 lalu, Satgas telah berhasil mengumpulkan sebanyak 74 pucuk senjata yg terdiri dari 69 pucuk senjata api jenis AK-47, dua pucuk jenis FAL, tiga pucuk senjata rakitan, 436 butir munisi, satu buah granat tangan, 75 busur dan 80 anak panah serta 233 orang milisi.

Sebelumnya, sebanyak 860 anggota Satgas Batalyon Gerak Cepat TNI Kongo XXXIX-B RDB MONUSCO Satjar Divisi 2/Kostrad dikirim sebagai pasukan perdamaian di Republik Demokratik Kongo sejak bulan November 2019 lalu. Panglima Divisi Infanteri (Pangdivif) 2 Kostrad memimpin upacara pelepasan di Lapangan Yonif Para Raider 503, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Misi yang dilakukan Yonif Para Raider 503 adalah sebagai Batalyon Gerak Cepat TNI atau Satuan Tugas (Satgas) TNI Kontingen Garuda (Konga) Replik Difaibel Batalyon XXXIX-B Konsko Kongo. Yakni pasukan gerak cepat dibawah kendali Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dengan wilayah penugasannya di Republik Demokratik Kongo. Sebanyak 860 personil yang akan diberangkatkan ke Republik Demokratik Kongo, mulai dari TNI AU, TNI AD dan TNI AL.

Ratusan personil tersebut mempunyai tugas dari PBB untuk melaksanakan perlindungan terhadap masyarakat sipil. Membantu dan memelihara penguatan dari Republik Demokratik Kongo yang saat ini sedang terganggu permasalahan disana serta ikut membantu mengamankan personil PBB yang ada di Republik Demokratik Kongo. Masa tugas mereka di Republik Demokratik Kongo selama satu tahun.

Sebelumnya mereka dipersiapkan mental fisik dan kesehatan serta kemampuan dasar militer selama 30 hari di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI di Bogor. Yonif Para Raider 503 dinilai berhasil melaksanakan operasi pengamanan perbatasan RI-PNG (Papua Nugini) di Kabupaten Merauke pada tahun 2017 lalu. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar