Internasional

Iran Tangguhkan Penerbangan ke Eropa

Para pejalan kaki mengenakan masker di Teheran di tengah perebakan virus corona di sana. [Foto/AP]

Maskapai Iran Air mengumumkan hari Minggu, menangguhkan semua penerbangannya ke Eropa sampai pemberitahuan lebih lanjut. Pernyataan yang dikeluarkan oleh maskapai itu tidak menyebutkan wabah virus corona sebagai alasan penangguhan, hanya mengutip “pembatasan” yang dikenakan oleh otorita Eropa.

Menurut beberapa situs khusus, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) tanggal 3 Februari melarang pesawat Iran Air dari wilayah udara Eropa, yaitu sebuah pesawat Airbus A321-200 dan dua pesawat Airbus A330-200 yang belum di-upgrade untuk diperbolehkan terbang di Eropa.

Swedia pada 2 Maret mengumumkan menangguhkan ijin penerbangan Iran Air untuk sementara, atas saran pejabat kesehatan yang mengatakan Iran “tidak berhasil mengendalikan” wabah virus corona di negaranya.

Maskapai penerbangan Iran itu mengoperasikan penerbangan ke beberapa kota di Eropa termasuk Paris, London, Amsterdam, Stockholm, Frankfurt, Wina dan Roma.

Sementara itu, wilayah tenggara Italia, Puglia, memerintahkan semua orang yang datang ke daerah tersebut dari daerah yang terkena dampak virus corona, supaya dikenai karantina 14 hari. Kepala daerah, Michele Emiliano minta, kepada warga senegaranya dari kawasan utara untuk kembali ke kampung halaman mereka, menurut komentar yang diterbitkan oleh kantor berita Italia, Ansa.

Ekonomi Italia telah menurun sebelum wabah, dan kini krisis melumpuhkan seluruh kegiatan bisnis di Lombardia, yang menghasilkan seperlima dari pendapatan (PDB) kotor dalam negeri negara itu.

Dampaknya jelas, situs arkeologi Pompeii dekat Naples dan museum-museum Vatikan ditutup hingga 3 April, dan sebuah pameran karya Raphael dari zaman Renaissance di Roma dihentikan.

Perdana Menteri Giuseppe Conte menerapkan aturan baru, termasuk larangan perjalanan bagi seperempat penduduk Italia, setelah terjadinya kebocoran tentang peraturan pemerintah itu dan tanda-tanda kepanikan publik.

Hari Minggu (8/3) pagi, kehidupan tampaknya berlanjut seperti biasa, bahkan di daerah yang paling terkena dampak wabah, orang-orang memenuhi kafe dan naik kereta api untuk pergi ke utara dan selatan. Bandara, termasuk yang terletak di daerah yang terjangkit, juga tetap dibuka.

Kurangnya kejelasan tentang langkah-langkah yang diambil pemerintah hanya memperdalam kebingungan sekitar tindakan Italia melawan wabah virus terbesar di Eropa, di mana hampir 6.000 orang dikukuhkan terjangkit dan 233 meninggal. Dokter memperingatkan bahwa rumah sakit kewalahan karena dibanjiri oleh pasien yang membutuhkan perawatan intensif. [VOA]

Apa Reaksi Anda?

Komentar