Internasional

Iran Bersedia Berunding dengan AS, Asalkan…

New York (beritajatim.com) – Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif mengatakan negaranya bersedia berunding dengan Amerika, tetapi hanya jika Amerika mencabut sanksi-sanksi ekonomi yang keras terhadap Republik Islam tersebut.

Amerika Serikat memberlakukan sanksi-sanksi terhadap Iran pada 2017 sebelum setahun kemudian mundur dari perjanjian nuklir 2015. Perjanjian nuklir 2015 mewajibkan Iran untuk mengurangi cadangan uranium diperkayanya dengan imbalan pelonggaran sanksi-sanksi.

“Begitu sanksi-sanksi itu dicabut, ruang bagi perundingan terbuka lebar,” kata Zarif dalam wawancara dengan NBC News yang ditayangkan Senin.

Zarif, yang berada di New York untuk mengikuti pertemuan di PBB, mengatakan, Amerika meninggalkan pendekatan diplomatik sewaktu keluar dari perjanjian tersebut.

Zarif menuduh Amerika memperuncing ketegangan di Timur Tengah dengan menjual senjata bernilai miliaran dolar ke lawan-lawannya di kawasan tersebut, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang mengancam program misil balistik Iran.

“Itu adalah persenjataan Amerika yang akan masuk ke kawasan kami, membuat kawasan kami siap meledak,” ujarnya. “Jadi apabila mereka ingin membicarakan tentang misil kami, mereka perlu lebih dulu berhenti menjual seluruh senjata itu, termasuk misil, ke kawasan kami.”

Hari Selasa, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei mengatakan negara itu akan terus mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir 2015, sambil mengulangi tuduhan bahwa negara-negara Eropa tidak cukup banyak berbuat untuk membantu ekonomi Iran mengatasi sanksi-sanksi.

Ini menyusul pernyataan Senin lalu dari juru bicara badan energi atom Iran yang mengatakan dikuranginya komitmen Iran terhadap perjanjian itu bukan “karena keras kepala” tetapi untuk memberi pihak lain kesempatan ‘melakukan kewajiban mereka.’

Presiden Donald Trump menyebut perjanjian itu ‘mengerikan.’ Ia menarik keluar Amerika dari perjanjian itu tahun lalu, dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran. Inggris, China, Perancis, Jerman dan Rusia adalah para penandatangan lain perjanjian itu. [voa]

Apa Reaksi Anda?

Komentar