Internasional

Hari Ini, Warga Israel Nyoblos ke TPS

Yerusalem (beritajatim.com) – Warga Israel pergi ke TPS pada Selasa (9/4/2019) dalam sebuah pemilihan yang ketat antara PM Israel Benjamin Netanyahu yang menganut garis keras, dan mantan kepala staf militer Benny Gantz yang berhaluan sentris.

Kedua kandidat diperkirakan tidak akan bisa menang secara mayoritas dan harus membentuk pemerintahan koalisi. Pemilihan ini juga dinilai sebagai referendum atas kinerja Netanyahu.

Benny Gantz kelihatan menjulang di atas orang-orang lain di sekitarnya ketika memasuki sebuah ruangan untuk melakukan reli untuk Partai Biru dan Putih, sambil menjanjikan kemenangan.

Sementara pendukung Gantz menunjukkan semangat tinggi, jajak pendapat terakhir memperlihatkan partai Gantz bersaing ketat dengan partai Likud yang mendukung Netanyahu. Netanyahu menonjolkan pengalamannya dan hubungan dekatnya dengan pemimpin-pemimpin dunia, khususnya dengan Presiden AS Donald Trump.

“Israel beruntung punya banyak sahabat yang duduk di Gedung Putih. Tetapi Israel belum pernah punya sahabat sebaik Anda,” kata PM Israel, Benjamin Netanyahu kepada Trump.

Ketika berkunjung ke Gedung Putih baru-baru ini, Netanyahu memuji keputusan Trump untuk membatalkan persetujuan nuklir dengan Iran, dan juga langkah-langkah lainnya yang menguntungkan Israel.

Penulis kolom “Jerusalem Post”, Gershon Baskin mengatakan, kebanyakan pemilihan Israel berkisar pada potensi persetujuan perdamaian dengan pihak Palestina. Tetapi hal itu tidak berlaku untuk pemilihan kali ini.

“Kita harus sadari bahwa tidak ada proses perdamaian selama bertahun-tahun. Sejak 2009 tidak ada perundingan antara Israel dan Palestina, dan isu perdamaian tidak lagi menjadi agenda dalam konteks Israel. Publik Israel berpendapat bahwa tidak ada mitra perdamaian di pihak Palestina, dan oleh karenanya, maka itu bukan merupakan isu lagi,” katanya.

Beberapa iklan kampanye Gantz mengumbar tentang jumlah orang Palestina yang tewas di Gaza semasa dia menjadi panglima militer, dan ditujukan untuk membungkam tuduhan Netanyahu bahwa dia adalah seorang beraliran kiri yang lemah.

Warga Palestina tidak berharap banyak dari pemilihan ini, demikian menurut polster Palestina, Khalil Shikaki. “Di satu sisi, ada harapan redup bagi perubahan, tetapi kebanyakan warga Palestina berpendapat semuanya akan sama, tidak jadi soal apakah Anda berada di spektrum kanan, tengah, atau kiri,” katanya.

Kampanye Netanyahu berusaha meyakinkan publik bahwa hanya dialah yang memiliki pengalaman dan kekuatan politik untuk memimpin Israel sebagaimana telah dilakukannya dalam 12 tahun yang terakhir. [voa]

Apa Reaksi Anda?

Komentar