Iklan Banner Sukun
Internasional

Gara-gara Teman Tak Kerjaan PR, Siswi Ini Masuk ICU Usai Dihukum Lari Keliling Lapangan Voli 30 Putaran

Surabaya (beritajatim.com) – Seorang siswi sekolah tingkat menengah harus menjalani perawatan di ruang ICU. Dia mengalami kelelahan akut lantaran terkena hukuman lari keliling lapangan 30 putaran akibat teman sekelasnya tidak membuat Pekerjaan Rumah (PR).

Insiden yang terjadi di Malaysia ini menyedot perhatian. Banyak yang menyayangkan mengapa hukuman tersebut sampai dijatuhkan padahal anak yang bersangkutan tidak melakukan kesalahan apapun.

Dikutip dari World of Buzz, baru-baru ini, sekelompok siswa di sebuah sekolah di Kulai, Johor Bahru, tidak menyerahkan PR seperti yang ditugaskan guru mereka. Sebagai hukuman, mereka harus berlari mengelilingi lapangan voli hingga 30 putaran dengan tetap memakai masker.

Parahnya, hukuman ini berlaku untuk siswa satu kelas. Termasuk mereka yang mengerjakan dan menyetorkan PR.

Akibatnya, salah satu siswi yang sudah mengerjakan PR harus dirawat di ICU. Dia mengalami syok parah lantaran jantungnya berdenyut sampai 200 kali per menit.

Awalnya, siswi tersebut bisa berlari seperti biasa. Pada putaran ke-15, siswi mulai merasa tidak enak badan dan meminta izin istirahat. Sang guru membolehkan dia menyelesaikan sisa putaran dengan berjalan kaki namun masker tetap terpasang.

Siswi tersebut berhasil menyelesaikan hukuman. Tetapi detak jantungnya kembali meningkat cepat sehingga langsung dilarikan ke ruang gawat darurat.

Beruntung, gadis itu tertangani dengan cepat dan bisa diselamatkan. Setelah disuntik obat dan dipindahkan ke ICU, kondisinya membaik.

Siswi tersebut kembali normal setelah diawasi ahli jantung. Dokter mengatakan selain demam, olahraga yang intens juga dapat meningkatkan detak jantung dengan cepat dan membuat seseorang syok.

Terkait hal ini pun, guru itu meminta maaf dan kasus ditutup. Keluarga siswi itu telah mengunjungi sekolah untuk membahas masalah tersebut dengan pengelola.

Kepala sekolah berkata, “Guru telah menyadari kesalahan dan meminta maaf kepada orang tua, dan mereka menerima permintaan maaf.”

Ia juga mengatakan guru tidak mengetahui kondisi kesehatan siswa yang tidak fit untuk olahraga ekstrem. Pihak keluarga juga telah memberikan surat konfirmasi dari dokter kepada pihak sekolah.

Sekolah juga meyakinkan para wali murid bahwa mereka tidak memaafkan tindakan menghukum seluruh kelas untuk kesalahan satu orang. Akhirnya, orang tua memutuskan untuk tidak melanjutkan masalah ini lebih lanjut setelah klarifikasi dan permintaan maaf dari sekolah dan guru. (adg/beq)


Apa Reaksi Anda?

Komentar