Internasional

Empat Pemerkosa di India Dihukum Mati

Hukuman mati dijatuhkan kepada empat pria India yang didakwa melakukan pemerkosaan ramai-ramai terhadap seorang mahasiswi di dalam angkutan umum di New Delhi tahun 2012.

Akshay Thakur, Vinay Sharma, Pawan Gupta, dan Mukesh Singh dihukum mati pengadilan tahun 2013 dan mereka digantung di penjara berkeamanan maksimum Tihar. Korban pemerkosaan meninggal akibat luka-luka yang dideritanya setelah diperkosa oleh enam pria di dalam bus yang terus berjalan.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan besar dan memicu lahirnya undang-undag anti pemerkosaan di India. Mahasiswi fisioterapi berumur 23 tahun ini dijuluki Nirbhaya – artinya tanpa takut – oleh media karena namanya tak boleh disebutkan menurut undang-undang di India.

Enam orang ditangkap karena pemerkosaan brutal itu dan salah satunya, Ram Singh, ditemukan tewas di dalam penjara Maret 2013 diduga bunuh diri. Seorang lagi yang berumur 17 tahun saat penyerangan dibebaskan tahun 2015 setelah menjalani tiga tahun di pusat rehabilitasi. Ini hukuman maksimum di penjara anak di India.

Para terpidana sempat mengajukan petisi ke Mahkamah Agung memohon keringanan hukuman jadi seumur hidup. Namun itu ditolak. Beberapa menit sebelum hukuman gantung dilaksanakan, Jumat (20/03/2020) ibu korban megatakan, “Saya memeluk foto anak saya dan bilang ke dia akhirnya kita mendapat keadilan”.

Ayahnya mengatakan “kepercayaan terhadap lembaga pengadilan telah pulih”. Saat eksekusi dijalankan, keamanan di luar penjara ditingkatkan dengan pengerahan sejumlah anggota polisi dan paramiliter.

Sekelompok orang membawa poster berkumpul di luar gerbang penjara dan merayakan pengumuman eksekusi mati. Beberapa berteriak: “mati pemerkosa” sambil membentangkan poster berterimakasih kepada pengadilan.

Perdana Menteri Narendra Modi bercuit Jumat (20/03/2020) pagi, “keadilan telah menang”. Ia berkata, negaranya telah “membangun bangsa di mana fokusnya adalah pemberdayaan perempuan”. Sekalipun begitu tak tampak bahwa kekerasan terhadap perempuan berkurang di India. Angka terakhir yang diterbitkan Biro Kriminalitas Nasional mencatat adanya 33.977 kasus pemerkosaan tahun 2018 – rata-rata 93 kasus per hari.

Ia naik ke sebuah bus pada pukul 20.30 waktu setempat tanggal 16 Desember 2012 dengan seorang teman pria. Mereka kembali sesudah menonton film di sebuah mal mewah. Keenam pria itu sudah ada di dalam bus. Mereka bergantian memperkosa Nirbhaya sebelum dengan brutal memukulinya dengan batang besi. Teman pria Nirbhaya dipukuli.

Keduanya kemudian ditinggalkan di pinggir jalan. Orang yang lewat menemukan mereka telanjang dan penuh darah, kemudian memanggil polisi. Dua minggu kemudian – sesudah protes yang luas menuntut India untuk memperbaiki perlakuan terhadap perempuan – si korban meninggal di sebuah rumah sakit di Singapura, di mana ia dirawat. Sebelumnya ia dirawat di rumah sakit di New Delhi dan kondisinya memburuk.

Apakah hukuman ini membuat India lebih aman bagi perempuan? Wartawan BBC News di Delhi, Geeta Pandey menyatakan: tidak. Sekalipun sejak 2012 kejahatan terhadap perempuan mendapat perhatian besar, kejahatan serupa terus terjadi di India.

Statistik juga hanya menjadi sebagian cerita karena menurut pegiat, ribuan kasus pemerkosaan dan pencabulan bahkan tak dilaporkan ke polisi.

Geeta menyatakan ia kenal perempuan yang tak ingin melaporkan kasusnya karena mereka dipermalukan dengan laporan itu. Atau dilekatkan stigma ke korban, atau bahkan tak dipercaya sama sekali.

Beberapa mengatakan bahwa hukuman berat yang dilaksanakan dengan cepat akan membuat calon pelaku takut dan meredakan pemerkosaan. Namun para ahli mengatakan solusi permanen buat ini adalah membongkar pikiran patriarkis, gagasan bahwa perempuan adalah milik laki-laki.

Kejahatan brutal itu memicu api protes di India, protes yang besarnya belum pernah terjadi sebelumnya.
Ibu kota sempat mandek saat para pemrotes menduduki jalan utama. Pihak berwenang sempat menutup stasiun metro untuk mencegah orang agar tidak berkumpul.

Ribuan pemrotes yang marah – kebanyakan perempuan dan pria muda – tetap datang ke Gerbang India di pusat kota, dan polisi membubarkan dengan menggunakan meriam air.

Protes berlanjut di New Delhi dan beberapa kota lagi selama dua minggu, waktu yang dibutuhkan korban untuk berjuang melawan luka yang dideritanya – untuk kemudian kalah. Pemerintah kota New Delhi mencoba menghentikan kemarahan dengan mengumumkan sejumlah langkah yang diniatkan untuk membuat kota lebih aman bagi perempuan.

Lebih banyak patroli malam hari, pengecekan pengemudi bus dan asisten mereka serta larangan bus memakai kaca gelap. Pemerkosaan itu menjadi titik balik, mengipasi debat nasional mengenai perlakuan terhadap perempuan.

Kemarahan publik terhadap kekejaman ini muncul lagi sesudah BBC menyiarkan dokumenter tahun 2015 berjudul India’s Daughter yang memasukkan wawancara dengan salah satu pemerkosa itu yang menyalahkan korban atas apa yang terjadi padanya.

Di India dokumenter itu menimbulkan kontroversi besar hingga dilarang. Stasiun TV yang sekiranya akan menyiarkan acara itu, malah membiarkan layar kosong. Seperti apa hukum anti pemerkosaan di India? Bulan Maret 2013 sesudah rangkaian protes itu, India mengumumkan undang-undang anti pemerkosaan. Di situ diperkenalkan hukuman lebih keras terhadap pemerkosaan dan mengkriminalisasi beberapa perilaku jahat seperti membuntuti, melemparkan asam ke perempuan, mengintip perempuan telanjang dan menyebarkan gambar telanjang tanpa persetujuan.

Definisi pemerkosaan juga diperluas untuk mencakup pergumulan tubuh yang terjadi tanpa adanya kesepakatan kedua pihak. Di bawah undang-undang baru, residivis pemerkosaan atau pemerkosaan yang menyebabkan koma bisa dijatuhi hukuman mati. [BBC/air]





Apa Reaksi Anda?

Komentar