Internasional

Dilema Pelestarian Satwa Liar Harimau di India

Kawanan harimau. [Foto: Erhan Sevenler/Anadolu Agency via Getty Images/BBC]

Saat jam menunjukkan pukul 11 malam, Gopamma Nayaka tahu ada sesuatu yang tidak beres. Suaminya, Hanumantha, seharusnya sudah pulang dari mengumpulkan kayu bakar sejak satu jam lalu. Gopamma menyuruh anak laki-lakinya untuk mencari sang suami. Anaknya lantas mengumpulkan warga untuk ikut mencari ayahnya di Cagar Alam Harimau Bandipur, taman nasional di barat daya India.

Hanya beberapa meter di dalam hutan, mereka menemukan sisa jasad Hanumantha tergeletak, setengah terkoyak. Harimau yang mengoyak – dan memakan pria itu – masih duduk di samping jasad itu.

Setelah kematian suaminya, Gopamma tidak hanya berjuang menghadapi rasa duka, tetapi juga kesulitan ekonomi. Anak laki-lakinya harus mundur dari perkuliahan dan kembali tinggal dengannya untuk mencari nafkah. “Hidup saya jauh lebih baik saat suami saya masih hidup,” ujarnya.

“Anak sulung saya seharusnya kuliah, tapi sekarang keduanya harus bekerja. Saya merasa tidak aman dan menyusahkan orang lain.” Terlepas dari semua ini, Gopamma tidak merasa dendam terhadap harimau yang membunuh suaminya. Seperti banyak pemeluk Hindu di India, ia memandang manusia sebagai bagian dari jaring kehidupan yang kompleks, yang terdiri dari semua mahluk, masing-masing dengan hak yang sama untuk hidup.

Ia juga tidak merasa khawatir dengan populasi harimau India yang sedang meningkat. Kematian suaminya, katanya, tidak ada hubungannya dengan fakta bahwa pemerintah tengah mencoba menyelamatkan populasi harimau: “Ini adalah takdir saya.”

Warga desa di India sangatlah unik karena toleransi mereka yang tinggi terhadap alam sekitar mereka yang hadir untuk hidup bersama di Bumi, termasuk hewan-hewan liar di dalamnya.

“Anda tidak dapat menemukan ini di budaya lain,” kata Ullas Karanth, ahli biologi karnivora yang baru saja pensiun dari Wildlife Conservation Society sekaligus pakar terkemuka tentang harimau. “Jika hal seperti ini terjadi di Montana atau Brasil, mereka akan membinasakan semuanya di hari berikutnya.”

Cara pandang ‘hidup dan biarkan mereka hidup’ juga menjadi dasar yang penting bagi transformasi India menjadi benteng pertahanan terbesar bagi harimau di dunia. Negara ini hanyalah 25% dari total habitat harimau, tetapi menampung 70% jumlah harimau liar yang tersisa, yakni sekitar 3.000 ekor.

Akan tetapi, ‘kesuksesan’ itu tak diperoleh secara gratis. Kawasan lindung India belum berkembang pada kecepatan yang sama seperti populasi harimaunya. Hal tersebut mendorong sebagian kucing besar itu untuk turun ke area yang dihuni manusia. Bukan saja hewan ternak yang terbunuh, kadang, manusia pun menjadi mangsa mereka.

Kasus serangan harimau terhitung jarang – sekitar 40-50 orang tewas per tahun – jika dibandingkan dengan serangan gajah yang bisa menewaskan 350 orang setiap tahunnya.

Sementara di satu sisi, kematian akibat serangan gajah dianggap lebih umum terjadi, layaknya kecelakaan mobil. Di sisi lain, kematian akibat serangan harimau masuk ke dalam ketakutan dasar warga, yang apabila dibiarkan terus terjadi, dapat membuat masyarakat mengambil langkah ekstrem.

Di banyak tempat, toleransi tradisional mulai terkikis, yang berujung pada banyaknya kerusuhan dan upaya perburuan harimau.

Tidak semua harimau pemakan manusia – bahkan jumlahnya hampir nihil. Memang tidak ada angka pasti terkait perilaku ini, tetapi Karanth memperkirakan bahwa hanya 10 sampai 15 ekor di antaranya yang gigih menjadi predator manusia setiap tahun.

Namun, ketika ini benar-benar terjadi, cara paling pasti untuk menjaga perdamaian, menurut Karant dan sejumlah ahli lainnya, yaitu dengan cepat ‘membuang’ harimau pemakan manusia sebelum mereka membunuh lagi.
“Itulah sikap yang diperlukan jika Anda ingin menjaga tingkat populasi harimau,” kata Karanth.

“Anda tidak bisa membuat semua orang di pedesaan memusuhi seluruh harimau hanya gara-gara satu ekor (yang merugikan).” Ini tercermin dalam undang-undang India, yang menyatakan bahwa kepala penjaga satwa liar dan pejabat federal senior dapat mengeluarkan perintah untuk menembak jika diperlukan demi kepentingan keselamatan publik.

“Jika seekor harimau memang benar-benar pemakan manusia, kita harus memburu harimau pemakan manusia ini dengan mengikuti standar prosedur operasional yang sangat jelas,” kata Anup Kumar Nayak, direktur jenderal tambahan Badan Konservasi Harimau Nasional India.

Akan tetapi kelompok pejuang hak-hak hewan – yang memiliki pengaruh politik yang kuat di India – tidak melihatnya seperti itu. Tidak peduli berapa banyak orang yang diduga dibunuh harimau, banyak aktivis berpendapat bahwa si pemakan manusia seharusnya diperangkap dan dikurung, ditranslokasi dan dibebaskan kembali, atau dibiarkan begitu saja.

“Saya merasa saya mewakili para binatang yang tak punya suara,” kata Jerryl Banait yang seorang dokter dan aktivis satwa liar terkemuka asal Nagpur. “Anda tidak bisa menciptakan kekejaman dan ketidakadilan terhadap hewan hanya karena mereka tidak bisa mengekspresikan diri.”

Akan tetapi tak satupun langkah tak mematikan yang diserukan Banait dan lainnya cukup layak untuk digunakan dalam menghadapi harimau-harimau yang menguntit dan membunuh manusia, kata Karanth.

Dengan cepat, konflik harimau ini berubah menjadi “politik sepak bola”, lanjutnya. Sementara pemerintah bingung di bawah tekanan, harimau pemakan manusia lanjut memangsa warga.

Pada akhirnya, warga setempat seringkali mengambil langkah sendiri dengan memburu tidak saja harimau yang ‘bersalah’ tetapi seluruh harimau yang ada di daerah mereka. Mereka mulai memandang departemen kehutanan India sebagai musuh – dan upaya konservasi dianggap bersebrangan dengan kepentingan mereka.

Dengan skenario tersebut, kemungkinan terbaiknya, jumlah harimau akan stagnan. Kemungkinan terburuknya, perburuan harimau akibat rasa dendam yang terjadi secara meluas akan menyebabkan hilangnya spesies tersebut.

Agar India terus bersinar menjadi contoh sukses konservasi harimau, kata Karanth, negeri itu perlu menyadari kenyataan bahwa apa yang baik bagi seluruh spesies tidak selalu berlaku bagi setiap ekornya – terutama mereka yang telah merenggut nyawa manusia.

Dengan kata lain, masa depan harimau dunia sebagian besar bergantung pada upaya meyakinkan India untuk menerima kenyataan bahwa harimau pemangsa manusia harus mati agar spesies harimau secara keseluruhan bisa berkembang. “Tidak ada cara lain,” imbuhnya.

Tak ada yang tahu jumlah persis harimau yang dulu berkeliaran di atas lanskap India yang beragam. Yang pasti, jumlahnya mencapai angka puluhan – jika tidak ratusan – ribu ekor. Penurunan populasi harimau dimulai berabad-abad lalu, dengan kehadiran senapan dan perangkap baja. Harimau menjadi sasaran olahraga berburu bagi kalangan si kaya, dan jadi hadiah bagi si miskin, di mana seorang sejarawan memperkirakan lebih dari 80.000 ekor kucing besar dibunuh dalam kurun tahun 1875 hingga 1925.

Perburuan juga memusnahkan mangsa harimau, menyebabkan spesies tersebut terkena dampak ganda. Pada pertengahan abad ke-20, India telah kehilangan cheetah Asia-nya dan hampir seluruh singa Asia-nya akibat praktik perburuan berlebihan.

Populasi harimaunya pun hampir saja punah jika bukan karena Perdana Menteri Indira Gandhi yang melarang semua jenis praktik perburuan pada tahun 1971. Kadang disebut dengan sebagai “pahlawan kehidupan satwa liar India terbaik”, Gandhi memperkuat peraturan perundang-undangan terkait kehidupan satwa liar, mendirikan kawasan lindung dan membentuk gugus tugas harimau.

“Peristiwa ini terjadi pada era Rachel Carson dan gerakan lingkungan serupa di Eropa – dan gelombang yang sama juga menerpa India,” kata Krithi Karanth, kepala ilmuwan konservasi di Pusat Studi Satwa Liar, organisasi nirlaba di Bangalore, yang juga putri Ullas Karanth.

“Orang-orang mulai sadar terhadap kenyataan bahwa lingkungan alam kita tengah bermasalah dan bahwa kita tidak bisa terus-menerus seperti ini.”

Akan tetapi populasi harimau tidak segera pulih. Pada tahun 1980-an, ketika Ullas Karanth – kini berusia 70 tahun – beralih karier dari bidang teknik ke konservasi alam, sekitar 2.500 ekor harimau masih berkeliaran di India. Ullas, yang selalu menyukai hewan predator besar, memutuskan untuk memfokuskan kariernya dalam upaya pemulihan populasi harimau di negerinya.

Langkah pertamanya adalah untuk mencari tahu berapa jumlah harimau yang masih ada di India. Pada tahun 1991, ia mengembangkan sebuah metode penghitungan yang baru dan akurat dengan menggunakan perangkap kamera untuk mengidentifikasi pola garis-garis unik masing-masing harimau.

Namun ia menjadi bingung ketika menemukan bahwa kepadatan harimau sangat bervariasi, dari yang kurang dari satu ekor hingga 15 ekor harimau per 100 kilometer persegi.

Ullas curiga penyebabnya adalah rendahnya kepadatan jumlah mangsa akibat perburuan daging – dan firasatnya itu terbukti benar. Pada akhirnya ia mengonfirmasi bahwa seekor harimau memangsa sekitar 50 ekor hewan setiap tahunnya, yang berarti ia membutuhkan sedikitnya 500 hewan mangsa untuk bisa bertahan hidup.

Berdasarkan peninjauan ekstensif terhadap jurnal-jurnal tua perburuan, catatan-catatan taksidermi, dan catatan kepemilikan tanah, Krithi memperkirakan bahwa harimau menghilang dari 67% wilayah India dalam kurun 100 tahun, dan banyak spesies mangsa mereka, termasuk rusa dan gaur (hewan pemamah biak semacam kerbau), juga berkurang. “Satu-satunya spesies yang tampaknya tidak bermasalah hanya babi liar,” kata Krithi.

Dengan kata lain, pertumbuhan populasi harimau India tertahan akibat tidak cukupnya mangsa untuk dimakan. Mulai tahun 1990-an, Ullas mulai mendorong upaya pengelolaan harimau berdasarkan ilmu pengetahuan dengan penekanan khusus terhadap konservasi spesies mangsa. Ia bekerjasama dengan banyak pihak untuk memfasilitasi program yang didanai pemerintah untuk merelokasi desa-desa yang terletak di dalam kawasan lindung secara sukarela.

Ketika perburuan harimau mulai marak akibat meningkatnya permintaan dari China terhadap bagian-bagian tubuh hewan tersebut, metode penghitungan Ullas menunjukkan parahnya masalah perburuan yang dihadapi. Ia lantas bekerjasama dengan pemerintah untuk mengembangkan program-program anti-perburuan.

Hasilnya, populasi harimau pun mulai meningkat lagi. Kawasan Malenad di barat daya India, misalnya – yang melingkupi Cagar Alam Harimau Bandipur, di mana suami Gopamma dimangsa – kini menjadi rumah bagi 400 harimau, atau lebih dari empat kali lipat jumlah populasi awal ketika Ullas mulai berkecimpung di sana 25 tahun lalu.

Di sisi lain, seiring pertumbuhan populasi harimau, konflik pun tak terelakkan. Kompetisi dan daerah kekuasaan menjadi faktor yang memaksa sejumlah harimau meninggalkan kawasan lindung, terutama harimau-harimau muda yang mencoba membentuk daerah kekuasaan sendiri serta harimau-harimau tua atau terluka yang kelaparan. Kebanyakan harimau yang ada dalam kondisi tersebut lantas memangsa hewan ternak, sedikit di antaranya lantas memburu manusia.

“Harimau pada umumnya takut manusia,” kata Ullas. “Tapi ketika mereka menemukan kelemahannya, tiba-tiba rasa takut itu hilang dan mereka pun sadar bahwa kera besar tak berekor ini sangat mudah untuk diburu.”

Membunuh spesies yang terancam punah memang terdengar berlawanan dengan intuisi, akan tetapi dalam kasus harimau pemangsa manusia ini, Ullas dan beberapa pihak lainnya percaya bahwa inilah jalan satu-satunya untuk memastikan upaya konservasi spesies harimau secara keseluruhan.

Layaknya memotong cabang pohon yang sudah mati, ‘menghapus’ beberapa ekor harimau ‘bermasalah’ tidak akan menciptakan dampak negatif kepada keseluruhan spesias, kata mereka.

Dengan pertumbuhan populasi harimau sehat sebesar 15-20% per tahun, dan dengan tingkat reproduksi yang serupa dengan kucing rumahan, harimau-harimau yang mati dengan cepat tergantikan oleh kelahiran bayi-bayi harimau baru.

Karena jumlah harimau pemangsa manusia pada dasarnya sangatlah jarang, dengan sistem ini, hanya beberapa puluh harimau saja yang perlu dimatikan setiap tahunnya.

Meski demikian, sejumlah aktivis binatang mengatakan bahwa keberadaan harimau di alam liar sudah terlalu sedikit, sehingga pembunuhan – bahkan – satu ekor harimau saja tidak bisa dibenarkan.

Sementara aktivis lain mempermasalahkan persoalan yang sama dengan alasan moral. Seorang pengguna Twitter di India mengunggah pernyataan berikut menyusul kasus kematian seekor harimau pemangsa manusia tahun lalu: “Selamat, manusia. Harimau lainnya telah dibunuh, kepunahan spesies semakin nyata.” Pengguna lainnya menimpali: “Kita hidup di tengah masyarakat di mana hewan yang terpojok dibunuh alih-alih diberi ampunan dengan menangkap mereka.”

Banait percaya bahwa harimau-harimau yang terbukti secara meyakinkan merupakan pemangsa manusia – dengan habisnya pilihan-pilihan lain untuk menyelamatkan mereka – patut dibunuh.

“Sebagai seorang dokter, tanggung jawab pertama saya adalah untuk melindungi manusia,” katanya. Namun ia mengklaim memiliki standar yang tinggi untuk bisa memutuskan harimau mana yang benar-benar pemangsa manusia, seperti analisa komparatif DNA yang bisa menunjukkan kebiasaan berburu terhadap jenis mangsa tertentu (perburuan tunggal, atau perburuan sporadis, katanya, dapat diakibatkan oleh pertemuan yang tidak disengaja, bukan upaya perburuan yang diniatkan).

Namun demikian, Ullas mengungkapkan bahwa pengumpulan bukti DNA memerlukan tingkat keahlian yang seringkali tidak ada di daerah-daerah pedesaan, dan bahwa bukti forensik dan ekologi lainnya cukup layak untuk menentukan harimau mana yang patut dihabisi.

Pada akhirnya, menurutnya, keamanan masyarakat harus didahulukan: “Ini bukan semacam persidangan kasus OJ Simpson, di mana sang harimau harus dianggap tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya.”

Raja George V berpose dengan hasil buruannya dalam tur ke India pada tahun 1912; dari tahun 1875 sampai 1925, lebih dari 80.000 ekor harimau dibunuh. [Foto: Getty Images/BBC]
Jika pemerintah tidak memiliki solusi jangka panjang, warga setempat akan bertindak sendiri. Mereka bisa meracuni semua harimau yang ada di daerah mereka, atau memerangkap kucing-kucing besar itu dan memukulinya sampai mati.

Menurut Jose Louies, kepala divisi pengontrolan kejahatan terhadap satwa liar di Wildlife Trust of India, pemburu profesional juga mengambil kesempatan dalam situasi seperti itu. Tulang, cakar, gigi, penis dan bulu harimau akan diperdagangkan di pasar gelap China, sehingga para pemburu akan dengan senang hati ‘menangani masalah’ harimau di desa-desa India.

“Mereka yang kehilangan hewan ternak gara-gara harimau, pasti akan menyewa jasa para pemburu,” kata Louies. “Pemburu juga mungkin akan membayar uang tutup mulut kepada warga yang kemudian akan mempersilakan mereka menangani masalah tersebut dan memperoleh keuntungan dari sana.”

Dalam kasus terburuk, masalah harimau menjadi semacam pelampiasan masyarakat atas rasa frustrasi terhadap kondisi sosial dan ekonomi selama bertahun-tahun. Warga melawan upaya konservasi dan kelompok-kelompok kekerasan pun terbentuk, kadang dihasut oleh para penebang pohon dan pelaku kejahatan alam lainnya yang berharap untuk bisa melemahkan departemen kehutanan.

“Saya lebih takut kelompok massa ketimbang harimau,” kata AT Poovaihah, deputi pelestari hutan yang sempat dirawat di rumah sakit setelah dikeroyok massa. “Semuanya laki-laki, sebagiannya mabuk, dan semuanya sangat marah. Mereka tahu kami tengah mencoba menangkap hewan itu, tetapi bahkan saat itu mereka tetap ingin menghukum kami.”

Pada tahun 2013, misalnya, Shivamallappa Basappa, seorang petani di barat laut India, dibunuh dan sebagian tubuhnya dimakan seekor harimau ketika sedang menggembala sapinya di tepian Cagar Alam Harimau Bandipur di negara bagian Karnataka. Ia adalah korban manusia ketiga dalam dua minggu, dan banyak orang sudah berada di batas kesabaran mereka.

Ketika aparat tiba jam 1.00 pagi, massa desa telah membakar habis kantor departemen kehutanan setempat dan sebuah mobil dinas.

“Kamis udah tinggal di sini selama 60 tahun, dan sejak awal kami tidak pernah merasa tenang dengan keberadaan binatang-binatang liar ini,” kata Shanthamurthy Devappa, saudara Basappa, yang mengaku tidak ikut aksi pembakaran. “Kami terus menerus diganggu dan diserang hewan liar, dan kami murka karena hal itu. Ini adalah amarah yang tertumpuk selama bertahun-tahun.”

Mungkin tidak ada kasus yang lebih baik menggambarkan puncak masalah harimau pemangsa manusia selain kasus T-1, harimau betina yang menjadi tajuk pemberitaan dan dibunuh pada November 2018 setelah perburuan selama dua tahun. Hingga akhirnya ia mati, 13 orang telah menjadi korban keberingasannya, sementara ribuan warga lainnya merasa ketakutan.

Pada tahun 2015, T-1 mulai tertangkap perangkap kamera di Pandarkhawa di negara bagian Maharashtra, sebuah kawasan padang rumput yang berbukit-bukit, dengan ladang pertanian dan hutan-hutan kecil di bagian tengah India.

Harimau itu memangsa hewan ternak, lalu tak lama setelahnya memangsa manusia, seorang nenek berusia 60 tahun yang ditemukan tak bernyawa di ladangnya dengan luka sayatan dalam di punggungnya. Tiga bulan kemudian, T-1 memangsa seorang pria – dan satu orang lainnya di hari berikutnya.

Khawatir gelombang amarah memuncak di pusat-pusat kota India, kepala penjaga margasatwa di kawasan itu mengeluarkan perintah untuk menangkap T-1, tetapi tidak untuk membunuhnya.

India adalah rumah bagi gerakan hak-hak hewan yang terus berkembang dan menguat, “sebuah versi ekstrem kampanye kesejahteraan hewan di dunia Barat yang berkelindan dengan etos Hindu”, ujar Ullas menggambarkannya.

Gerakan itu berkembang di tahun 1990-an di tengah meningkatnya kalangan berada di area-area urban, ketika “300 juta orang tiba-tiba punya lebih banyak waktu untuk memikirkan hal lain selain soal nafkah,” kata Ullas.

Banait – yang kecintaannya terhadap satwa liar tertanam berkat berbagai perjalanan keluarganya ke pedesaan semasa ia kecil – menggambarkan gerakan itu secara berbeda: “Kami mencoba sebisa mungkin untuk menyuarakan pendapat kami kepada pemerintah sehingga mereka mendengarnya. Mereka seharusnya memberikan keamanan dan martabat yang lebih baik kepada hewan-hewan ini.”

Bahkan kalaupun pihak berwenang berhasil menangkap harimau pemangsa manusia itu hidup-hidup, mereka harus tahu apa yang harus diperbuat terhadap hewan itu selanjutnya. Merelokasinya ke hutan berbeda hanya akan memindahkan masalah yang ada.

Pada tahun 2014, misalnya, pihak berwenang dan pakar lingkungan amatir menangkap seekor harimau pemangsa manusia yang masih muda di dekat Cagar Alam Harimau Bhadra dan kemudian melepaskannya – bertentangan dengan masukan Ullas – di sebuah hutan berjarak 280 kilometer dari lokasi penangkapannya.

Tiga pekan kemudian, menyusul serangkaian serangan terhadap hewan-hewan ternak, harimau itu memangsa seorang perempuan yang tengah hamil.

Sementara itu, terkait opsi menampung harimau yang berhasil ditangkap, kebun-kebun binatang India sudah penuh, sedangkan fasilitas-fasilitas lainnya tidak memadai – semua tempat tersebut merupakan tempat yang suram bagi para predator liar itu.

“Siapapun yang mengenal alam liar dan hewan-hewan ini pasti tahu bahwa sungguh menyedihkan melihat mereka di penangkaran,” kata Poonam H. Dhanwatey, salah satu pendiri Tiger Research and Conservation Trust, sebuah organisasi nirlaba di Maharashtra.

“Kualitas hidup seperti apa yang Anda berikan kepada mereka? dan apakah adil memasukkan mereka ke dalam kandang-kandang kecil setelah Anda merebut kebebasan mereka?”

Terlepas dari semua itu, T-1 tampaknya sangat mahir menghindari penangkapan. Ia mengabaikan perangkap umpan dan menghindari kelompok pencari yang dikerahkan ke hutan untuk menangkapnya.

Setelah ia melakukan pembunuhan ketujuh – seorang lelaki berusia 20 tahun – kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sudah luntur, kesabaran mereka pun telah habis.

Mereka lantas melarang pejabat pemerintah memasuki desa mereka atau bahkan memeriksa tubuh para korban. Gerombolan massa juga memukuli beberapa penjaga hutan.

Aksi kekerasan itu bisa jadi lebih brutal jika bukan karena upaya Abharna Maheshwaram, seorang wakil pelestari hutan di Departemen Kehutanan Maharashtra.

Ia punya firasat bahwa pegawai departemen perempuan akan lebih mampu menjaga perdamaian ketimbang yang lelaki, maka itu ia mengirim 18 pegawai perempuannya ke desa-desa terdampak dengan mengenakan pakaian warga sipil.

Mereka baru mengungkapkan identitas yang sebenarnya sebagai jagawana setelah berhasil memperoleh kepercayaan warga perempuan setempat.

Strategi itu berhasil: kepercayaan masyarakat terhadap departemen kehutanan kembali utuh dan mereka mau bekerja sama lagi dengan pihak berwenang. “Satu hal yang saya pelajari dari T-1 yaitu kapanpun ada konflik manusia-binatang, masalah yang ada bukan hanya terkait binatangnya, tetapi juga seluruh masyarakat yang terlibat untuk bekerja sama dengan Anda,” kata Abharna. “Saya pribadi percaya bahwa keterlibatan warga adalah solusi upaya pelestraian di negara ini.”

Meski demikian, progres di tingkat lokal tersebut terkendala oleh perdebatan hukum, politik dan sosial di seantero negeri terkait nasib T-1.

Pada bulan Februari 2018 – di mana jumlah sementara korban harimau pemangsa manusia mencapai sembilan orang – Pengadilan Tinggi Bombay tetap memerintahkan penembakan terhadap T-1. Upaya untuk menangkapnya, termasuk dengan menggunakan drone termal, anjing pemburu dan paraglider, menjadi semakin tak ada harapan.

Sementara itu, T-1 yang kini menjadi induk dari dua ekor anak harimau terus melanjutkan perburuan manusia. Di bulan Agustus, T-1 membunuh tiga warga dalam kurun waktu 24 hari.

Ketika pemerintah mengeluarkan perintah baru untuk menangkapnya dan kedua anaknya, atau jika gagal, menembaknya, Banait melakukan intervensi melalui Kejaksaan Agung India. “Ketika Anda memberikan hukuman mati – menembak binatang saat melihatnya – harus ada pembenaran hukum yang tepat untuk tindakan ini,” kata Banait.

Kekacauan yang terjadi, kata Ullas, juga memengaruhi keputusan pemerintah untuk memberi izin kepada Shafath Ali Khan, seorang pemburu profesional pribadi, untuk ambil bagian dalam upaya menangkap T-1.

Anak laki-laki Khan, Asghar Ali Khan, yang tidak diizinkan bergabung dalam upaya perburuan, ikut turun ke lapangan.

Keluarga Khan adalah satu di antara puluhan orang dari kalangan yang menamai diri mereka dengan istilah maharaja, yang mencari uang dengan menawarkan jasa menembak hewan yang sulit diburu, kata Ullas.

Akan tetapi, keterlibatan mereka dalam upaya perburuan yang dilakukan oleh pemerintah memantik amarah banyak advokat kesejahteraan hewan. Hal itu juga dinilai merendahkan otoritas pejabat setempat. “Kita punya 80.000 orang jagawana, di mana segelintir di antaranya adalah penembak jitu ulung,” imbuhnya. “Keberadaan orang-orang yang haus pengakuan ini sama sekali tidak dibutuhkan.”

Pada tanggal 2 November, anak Khan, Asghar, baru saja selesai makan malam ketika sebuah panggilan telepon masuk dan mengabarinya bahwa harimau pemangsa manusia itu tertangkap mata di dekat jalan raya. Tanpa mengabari kolega ayahnya dari sisi pemerintah, ia dan sejumlah rekannya langsung mengangkat senjata mereka dan pergi mencari T-1.

Dari dalam mobil, mereka langsung bisa melihat T-1 yang memiliki corak trisula di tubuhnya. Menurut pengakuan Asghar yang banyak dipublikasikan media massa, salah seorang rekannya menembak harimau itu dengan menggunakan panah bius, dan menyebabkan kucing besar yang marah itu berlari menyergap mobil.

Asghar – diduga karena alasan membela diri, namun dalam posisi duduk di dalam mobilnya – menembaki T-1 menggunakan senapan serbu. Harimau betina itu mati hampir seketika. “Para pemburu selalu ingin menghabisinya, dan ia mengganggu keseluruhan operasi yang sedang berjalan,” kata Banait. “Proses pembunuhan Avni (nama lain T-1) sangat di luar kebiasaan, dengan banyak kejanggalan dan pelanggaran hukum.”

Kematian T-1 memicu berbagai reaksi. Di Maharashtra, penduduk desa merayakan hal itu dengan menyalakan petasan dan kembang api; sementara di perkotaan, para pengunjung rasa menggelar aksi menyalakan lilin solidaritas.

Maneka Gandhi, seorang politisi, aktivis hak-hak hewan, sekaligus janda dari anak laki-laki Indira Gandhi, mencuit ke 200.000 pengikut Twitternya bahwa Avni telah “dibunuh secara brutal” dan bahwa pembunuhan terhadapnya “sudah jelas ilegal”. Ia membubuhkan tagar #JusticeForAvni dalam cuitannya yang kemudian menjadi viral (Gandhi menolak permintaan wawancara untuk artikel ini).

Para advokat mulai menuduh keluarga Khan merusak barang bukti dan mempertanyakan apakah memang T-1 benar-benar menyergap mereka di mobil, karena perilaku tersebut dianggap menyimpang dari kebiasaan harimau, yang biasanya akan bereaksi terhadap tusukan panah layaknya tersengat lebah.

Analisa forensik atas luka yang terdapat di tubuh harimau itu kemudian mengonfirmasi bahwasanya ia ditembak pada bagian sisi tubuhnya, kemungkinan ketika ia sedang menyebrangi jalan dan bukan ketika ia dalam posisi menyergap.

Anak panah bius yang diambil dari pinggulnya pun tampak ditempatkan di sana setelah ia dibunuh. Pada akhirnya, tak satupun orang dihukum atas kejadian tersebut.

Cerita tentang T-1 menjadi tajuk utama di seluruh dunia, namun seperti diungkapkan Ullas, India sudah memiliki banyak kasus harimau yang “sama-sama absurd, sama-sama komikal dan sama-sama tragis”.

Seluruh kekacauan dan banyaknya korban jiwa sebetulnya bisa dihindari, ujarnya, jika pemerintah sejak awal sudah mengeluarkan perintah untuk menembak langsung hewan tersebut.

Dari 3.000 Jadi 15.000 Ekor
Membinasakan harimau pemakan manusia adalah faktor paling penting dalam upaya menjaga toleransi sosial terhadap harimau, tapi itu bukan satu-satunya jalan. Pemerintah India juga perlu memastikan keluarga korban diberi kompensasi yang cepat atas kehilangan yang mereka derita.

Peraturan pemerintah setempat mengatakan bahwa keluarga korban serangan harimau akan menerima uang santunan sebesar Rp101 juta. Selain itu, hewan ternak yang mati diterkam harimau juga akan diganti. Tapi kenyataannya, kedua hal di atas tidak selalu dilakukan.

Setelah suami Gopamma tewas terbunuh, ia mengatakan bahwa pejabat muda yang ia hampiri untuk meminta bantuan meyakinkannya bahwa dirinya akan menerima kompensasi. “Saya sangat naif karena mempercayainya,” ujarnya.

Seorang pejabat senior kemudian mementahkan janji itu dengan mengatakan bahwa mendiang suaminya telah masuk tanpa izin di hutan ketia ia terbunuh, sehingga ia tidak akan menerima dana kompensasi sama sekali.

Tanpa pilihan lain, ia lantas mengambil pinjaman dengan tingkat bunga tahunan yang sangat tinggi, yaitu 60%. “Saya sempat berharap kompensasi akan dicairkan, tapi karena saya miskin, saya menerima nasib saya,” katanya. “Saya benar-benar merasa tidak berdaya.”

Perburuan hewan ternak oleh harimau juga bisa sangat menyengsarakan keluarga yang memiliki pendapatan sebesar Rp10 juta per tahun, dan dampak-dampak ini jauh lebih sering dirasakan ketimbang kasus kematian warga oleh terkaman harimau.

Tapi berdasarkan survei terhadap 1.370 desa di daerah Ghats Barat, India, Krithi Karanth menemukan bahwa hanya 31% warga yang berhak menerima kompensasi karena menjadi korban konflik manusia-satwa liar, yang benar-benar menerima kompensasi itu.

Dalam wawancara, ia menyadari bahwa mereka kesulitan mengisi berbagai formulir yang rumit dan tidak punya cukup waktu untuk bisa pergi ke berbagai kantor pemerintahan untuk mendaftarkan diri. Beberapa bahwa menolak memberi kompensasi atau meminta sogokan. “Ada masalah korupsi dalam sistem mereka dan juga masalah birokrasi yang berbelit-belit,” kata Krithi.

Pada tahun 2015, Krithi dan para koleganya di Pusat Studi Satwa Liar meluncurkan WildSeve, sebuah layanan perantara bagi korban konflik manusia-hewan dengan pihak pemerintah.

Masyarakat dapat menghubungi nomor bebas pulsa WildSeve untuk melaporkan insiden yang menimpa mereka. Seorang inspektur lantas akan segera menghampiri untuk mendokumentasikan kasus tersebut dengan menggunakan perangkat seluler dengan data terbuka dan mengurus administrasi pelaporan.

WildSeve kini melayani setengah juta warga dari 600 desa dan telah melaporkan lebih dari 14.000 kasus warga. Waktu rata-rata untuk memproses laporan sebelumnya sekitar 277 hari, tapi sekarang klaim-klaim tersebut dapat dicairkan dalam waktu 60 hari saja.

WildSeve juga memberikan sejumlah layanan lain, dari menyediakan bahan-bahan bangunan untuk mendirikan kandang tahan-harimau bagi mereka yang hewan ternaknya terus-menerus dimangsa harimau, hingga meluncurkan program pendidikan satwa liar yang tahun lalu diajarkan kepada sekitar 3.000 anak. “Saya orang yang sangat optimis,” kata Krithi.

“Intervensi praktis akan bisa berhasil membangun jejaring dukungan bagi satwa liar.”

Akan tetapi, program Krithi, meskipun berkembang pesat, untuk sementara ini masih terbatas pada kawasan kecil di Karnataka. Di bagian lain dari negara itu, konflik manusia-hewan terus menciptakan ketidakpuasan. Warga menjadi semakin menolak gagasan untuk mengembangkan populasi harimau.

Meski demikian, Krithi dan ayahnya percaya bahwa masih ada waktu untuk menghentikan kecenderungan sosial tersebut, dan untuk mengembalikan jumlah populasi harimau ke angka yang lebih besar – hanya jika India memutuskan untuk menjadikan pelestarian spesies tersebut sebagai prioritas.

Menurut hasil survei pemerintah, Ullas menghitung bahwasanya harimau di sana hanya mendiami sekitar 10 sampai 15% habitat potensial mereka di India yang luasnya mencapai 300 ribu kilometer persegi. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah mereka mengalami stagnansi di angka 3.000 ekor.

Kurva populasi itu berlawanan dengan isi keterangan pers bulan Juli lalu, di mana pemerintah India mengklaim bahwa populasi harimau telah meningkat 6% setiap tahunnya sejak 2006. “Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi India sebagai negara berkembang, kita telah melakukan pekerjaan yang baik,” kata Nayak di National Tiger Conservation Authority. “Pertumbuhannya stabil meningkat sejak tahun 2006.”

Meski demikian, Ullas menganggap metodologi di balik angka-angka tersebut “sangatlah cacat”. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah setempat telah mencegah upaya peninjauan ilmiah dari pihak luar terhadap data dan analisa mereka selama 15 tahun terakhir.

Sebuah jurnal yang dipublikasikan pada bulan November 2019 lalu di Conservation Science and Practice juga menemukan bahwa program pengawasan harimau di India “tidak dapat diandalkan”, “kurang transparan” dan bahwa hasil program tersebut “tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang bisa dipercaya”.

Nayak menangkis tuduhan itu dengan mengatakan bahwa metode yang digunakan sudah baik, dan bahwa “banyak orang yang terlibat dalam proses ini”, termasuk tiga pakar dari AS, Inggris dan Australia “yang sudah lebih dulu memeriksa segala aspek yang ada dan setuju bahwa kami sudah melakukan pekerjaan dengan baik”.

James Nichols, ilmuwan dari United States Geological Survey yang khusus meneliti dinamika dan manajemen populasi hewan, yang juga berkolaborasi dengan Ullas selama 25 tahun untuk mengembangkan metode sampling harimau, setuju bahwa data mentah dan rincian metodologi yang digunakan pemerintah untuk membuat kesimpulan yang mereka umumkan “seharusnya diterbitkan di suatu tempat agar bisa diteliti oleh para pakar metodologi”.

Maka, meskipun “India telah melakukan upaya yang lebih banyak dan lebih baik terkait masalah harimau dibandingkan negara manapun”, kata Ullas, ia yakin bahwa kenyataan di lapangan tidak seindah apa yang diungkapkan para politisi kepada publik. “Kita belum mengerahkan segala kemampuan kita.”

India, lanjutnya, tengah berada di persimpangan. Ia bisa mundur dan memiliki populasi harimau yang lebih sedikit, atau justru menjadi salah satu kisah pelestarian satwa liar tersukses di dunia yang berhasil menumbuhkan populasi harimaunya hingga angka 10.000 atau bahkan 15.000 ekor.

Negara itu memiliki sumber finansial yang diperlukan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Dan selama lebih banyak orang yang memutuskan pindah ke kota dari pedesaan, maka lebih banyak ruang yang tersedia untuk mewujudkannya.

Meski demikian, untuk sementara itu bukanlah tujuan pemerintah. “Saya rasa jumlah (harimau) bisa meningkat, tapi sampai sejauh mana, itu sulit diketahui untuk saat ini,” kata Nayak.

“Kita memiliki 2.900 ekor harimau – dan terus meningkat – tapi kami masih menghadapi kesulitan dengan harimau yang berkeliaran di kawasan berpenduduk di daerah-daerah tertentu di India, yang juga menciptakan banyak masalah.”

India adalah salah satu negara paling beragam secara biologis di dunia, tapi pemerintahnya hanya menyisakan 5% lahan mereka untuk satwa liar – bandingkan dengan AS dan China yang mengalokasikan 15% lahan mereka.

Prakash Javadekar, menteri lingkungan hidup, kehutanan dan perubahan iklim India, tidak merespons permintaan wawancara kami. Yang menjadi pertanyaan Ullas adalah apakah pemerintah memiliki niat untuk mengambil langkah lebih lanjut terkait komitmen pelestarian satwa liar.

Meskipun mengecewakan, ia merujuk pada masa lalu India sebagai bukti bahwa berbagai hal dapat dengan cepat dan tak terduga berubah ke arah yang lebih baik. “Saya tidak pernah bisa membayangkan di tahun 1970-an, saat saya melihat harimau terakhir ditembak dan diarak, bahwa India akan kembali memiliki harimau liar,” katanya. “Semua ini datang secara bertahap. (Jika) tiba-tiba sesuatu berubah, dan ketika itu terjadi, segalanya akan sangat menguntungkan kami.” [BBC/air]

Apa Reaksi Anda?

Komentar